Jejak Syiah di Indonesia

Published by Ponpes Anwarul Huda on

Syiah menjadi perhatian khusus, terutama terhadap konflik di Indonesia yang setelah ratusan tahun hidup bersama. Saat ini, perlakuan terhadap Syiah sudah dicap oleh banyak kalangan pada bentuk pelanggaran terhadap prinsip kebebasan beragama. Padahal, budaya Syiah sudah menjadi bagian dari tradisi keagamaan di Indonesia. Pada umumnya, tidak bisa dipungkiri Syiah telah banyak memberikan warna keagamaan di Indonesia.

Dalam buku Syiah di Indonesia: Antara Mitos dan Realitas dikatakan bahwa Banyak sekali situs Islam Indonesia yang terindentifikasi terpengaruh dari ajaran Syiah. Ritual dan tradisi Syiah mempunyai pengaruh yang mendalam di kalangan komunitas Islam Indonesia, bukan saja di kalangan Syiah sendiri, tetapi juga di kalangan Sunni. Salah satunya ialah praktik perayaan 10 Muharram yang biasa dirayakan oleh pengikut Syiah untuk memperingati terbunuhnya Husain ibn Ali, cucu Nabi Muhammad. Husein terbunuh dalam Perang Kabala pada 10 Muharram 61 H.

Syiah adalah paham keagamaan yang menyandarkan pada pendapat Sayyidina Ali (khalifah keempat) dan keturunannya yang muncul sejak awal pemerintahan khulafauurasidin. Dalam buku Ali bin Abi Talib, Sampai Kepada Hasan dan Husain, Syiah beranggapan bahwa sayiidina Ali lah yang berhak menjadi pemimpin setelah Nabi, bukan yang lain. Kecintaan orang syiah terhadap Ali bisa dibilang trerlalu fanatik, karena inilah mereka dinilai menyesatkan. Syiah berkembang menjadi puluhan sekte-sekte karena karena perbedaan paham dan pandangan dalam mengangkat sosok Imam.

Lalu bagaimana sejarah munculnya syiah di Indonesia? Dan bagaimana perkembangan syiah di Indonesia?

Pada umumnya persebaran Syiah di Indonesia yang sudah berlangsung permulaan Islam datang ke nusantara, telah banyak memberikan warna keagamaan di Indonesia. Banyak sekali ritus Islam Indonesia yang terindentifikasi terpengaruh dari ajaran Syiah. Ritual dan tradisi Syiah mempunyai pengaruh yang mendalam di kalangan komunitas Islam Indonesia, bukan saja di kalangan Syiah sendiri, tetapi juga di kalangan Sunni. Salah satunya ialah praktik perayaan 10 Muharram yang biasa dirayakan oleh pengikut Syiah untuk memperingati terbunuhnya Husein ibn Ali, cucu Nabi Muhammad. Husein sendiri terbunuh dalam Perang Kabala pada 10 Muharram 61 H.

Dalam buku Catatan Kang Jalal: Visi Media, Politik dan Pendidikan Menurut Jalaluddin Rahmat, perkembangan Syiah di Indonesia mengalami empat gelombang (periodisasi)

  1. Gelombang pertama : Syiah masuk bersamaan dengan masuknya Islam di Indonesia

Syiah sudah masuk ke Indonesia mulai masa awal masuknya Islam di Indonesia, yaitu melalui para penyebar Islam awal dari orang-orang persia yang tinggal di Gujarat. Syiah pertama kali datang ke Aceh. Raja pertama Kerajaan Samudra Pasai yang terletak di Aceh, Marah Silu, adalah memeluk Islam versi Syiah dengan memakai gelar Malikul Saleh.

Akan tetapi pada zaman Sultan Iskandar Tsani, kekuasaan kerajaan di Aceh dipegang oleh ulama Ahli Sunnah (Sunni), sehingga sejak saat itu kelompok Syiah tidak lagi menampakkan diri, memilih berdakwah secara taqiyah. Pada tahap awal penyebaran Syiah, perkembangan Syiah tidak banyak mengalami benturan dengan kelompok lain, karena pola dakwah yang dilakukan. Prinsip taqiyah digunakan untuk menghindari tekanan dari pihak penguasa. Selama periode pertama, hubungan antara Sunni- Syiah di Indonesia, pada umumnya, sangat baik dan bersahabat tidak seperti yang terjadi di negeri- negeri lain seperti, misalnya, Pakistan, Irak, atau Arab Saudi. Meskipun demikian pernah terjadi insiden seperti dibunuhnya Hamzah Fansuri karena dituduh menyebarkan faham wadat alwujûd.

  1. Gelombang Kedua, pasca revolusi Islam Iran

Setelah revolusi Islam di Iran pada 1979. Ketika itu orang Syiah mendadak punya negara, yaitu Iran. Sejak kemenangan Syiah pada Revolusi Iran, muncul simpati yang besar di kalangan aktivis muda Islam di berbagai kota terhadap Syiah. Figur Ayatullah Khomeini menjadi idola di kalangan aktivis pemuda Islam.  Naiknya popularitas Syiah itu membuat khawatir dan was-was negeri yang selama ini menjadi “musuh” bebuyutan Iran, yakni Arab Saudi. Melalui lembaga-lembaga bentukan pemerintah, Saudi Arabia melakukan upaya untuk menangkal perkembangan Syiah, termasuk penyebarannya di Indonesia. Sejumlah buku yang anti-Syiah diterbitkan, baik karangan sarjana klasik seperti Ibn Taymiyah (1263-1328), atau pengarang modern, seperti Ihsan Ilahi Zahir, seorang propaganda anti-Syiah yang berasal dari Pakistan. Reaksi terhadap pekembangan Syiah di Indonesia ditunjukkan melalui penyebaran isu negative dari buku-buku yang berisi informasi Syiah atau paling tidak menunjukan sikap penolakan terhadap Syiah. Meski telah begitu banyak buku-buku diterbitkan untuk menghadang faham Syiah, kekhawatiran masuknya Syiah tidak juga surut. Kemudian pada Rapat Kerja Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 1984 M, melalui surat ketetapan tanggal 7 Maret 1984 M yang ditandatangani oleh Prof. K.H. Ibrahim Hosen, merekomendasikan tentang faham Syiah, yang isinya  sebagai berikut: Faham Syiah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah) yang dianut oleh umat Islam Indonesia. Majelis Ulama Indonesia mengimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syiah. Reaksi yang ditunjukkan oleh MUI tersebut adalah bentuk kekhawatiran terhadap berkembangnya faham Syiah di Indonesia secara berlebihan. Akan tetapi upaya-upaya untuk membendung perkembangan Syiah itu tidak membuahkan hasil apa-apa. Ketertarikan masyarakat kepada Syiah semakin kuat. Hal ini dibuktikan dengan semakin terus terangnya pengagum-pengagum Syiah menunjukkan eksistensinya dengan mendirikan lembaga pendidikan berhaluan Syiah. Seiring dengan bergulirnya era Reformasi, gelombang perkembangan Syiah di Indonesia memasuki fase ketiga.

  1. Ketiga, Melaui Intelektual Islam Indonesia yang belajar di Iran

Menurut Jalaluddin Rahmat, penyebaran Syiah di Indonesia pada fase ketiga, didorong oleh meminat pengagum Syiah secara falsafi ke arah pemahaman fiqih. Fase ketiga ini dimotori oleh para Habib (keturunan arab/Nabi) atau orang-orang Syiah yang pernah mengenyam pendidikan di, Iran. Karena pemahaman Syiah sudah masuk ke ranah kelimuan fiqih, maka pada tahap ini benih-benih konflik sudah mulai tumbuh secara terbuka. Era Reformasi sebagai era keterbukaan, membawa perubahan besar pada prinsip-prinsip dakwah kelompok Syiah. Syiah tidak lagi tersembunyi dalam doktrin taqiyah. Di berbagai daerah, kelompok Syiah secara terang-terangan menunjukkan eksistensinya kepada publik melalui perayaan hari besar Syiah, seperti peringatan Tragedi Karbala (‘Asyuro), Hari Arbain, Yaum al-Quds, dan Hari al-Ghadir (perayaan pengangkatan Sayyidina Ali sebagai Imam pertama.

  1. Keempat, Tahap keterbukaan melalui Pendirian Organisasi Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia

Syiah memasuki gelombang ke empat yaitu ketika orang Syiah mulai membentuk ikatan, yaitu Ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), berdiri 1 Juli 2000. Sehingga secara terbuka Syiah eksistensinya semakin diakui oleh sebagian masyarakat Indonesia. Perkembangan Syiah secara terbuka ini didorong oleh semangat keterbukaan dan pluralisme sebagai buah dari semangat Reformasi. Dengan semakin meningkatnya penganut yang mengamalkan ajaran fiqh Syiah, maka tingkat ketegangan kelompok Sunni dengan Syiah semakin meningkat.

Jika ditelusuri lebih mendalam lagi bahwa persebaran Syiah di Indonesia yang sudah berlangsung permulaan Islam datang ke nusantara, telah banyak memberikan warna keagamaan di Indonesia. Banyak sekali ritus Islam Indonesia yang terindentifikasi terpengaruh dari ajaran Syiah. Ritual dan tradisi Syiah mempunyai pengaruh yang mendalam di kalangan komunitas Islam Indonesia, bukan saja di kalangan Syiah sendiri, tetapi juga di kalangan Sunni.

Itulah sedikit gambaran tentang paham Syiah secara ideology dan penyebarannya di Indonesia. Lalu bagaimana anda memaknai sejarah perkembangan syiah di Indonesia?

Disarikan dari: Syiah: Sejarah timbul dan perkembangannya di indonesia. Oleh: Moh. Hasim dalam Jurnal Analisa” Volume 19 Nomor 02 Juli – Desember 2012


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *