Wanita dalam Pandangan Allah

Published by Ponpes Anwarul Huda on

Oleh: Fahmi Fardiansyah

Ada dua ayat dalam al-Quran yang menggambarkan bagaimana Allah sangat menjaga keadaan wanita dari rasa takut dan susah akan permasalahan yang dihadapi mereka.

“Maka Jibril menyerunya dari tempat yang lebih rendah “Janganlah kamu bersedih hati,”(Q.S Maryam ayat 24).

Ada perbedaan pendapat tentang siapa yang berbicara kepada sayyidah Maryam, ada yang berpendapat itu nabi Isa alaihissalam, ada yang berpendapat bahwa itu adalah Jibril. Namun, yang dikuatkan adalah Jibril, karena nabi Isa baru berbicara ketika dalam pangkuan dan menghadapi Bani Israil. Demikian Ibnu Abbas berkata. Allah berkata jangan bersedih, sungguh telah dijadikan dibawahmu aliran sungai kecil agar engkau minum darinya.

Juga pada kisah ibu nabi Musa alaihissalam, “Apabila kamu khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke dalam sungai dan janganlah kamu khawatir dan janganlah bersedih hati” (Q.S al-Qashash ayat 7).

Berkata Wahb: “telah sampai padaku riwayat, bahwa Fir’aun telah mem-bunuh bayi laki-laki Bani Israil untuk mencari Musa sebanyak 7000 bayi, ada yang mengatakan 9000 bayi.” Diriwayat-kan bahwa ibu nabi Musa alaihissalam membuat tabut (kubus) dari pohon Papirus yang dilapisi bagian dalamnya dengan cat pohon Qor (yang biasa digunakan untuk melapisi permukaan kapal), diletakkanlah Musa didalamnya dan dihanyutkan di sungai Nil. Allah ‘azza wa jall berkata, jangan khawatir, memiliki dua penafsiran, yaitu jangan khawatir akan tenggelamnya Musa, dan jangan khawatir akan kehilangannya. Allah ‘azza wa jall juga berkata, jangan bersedih hati, juga memiliki dua penafsiran, yaitu jangan bersedih hati akan berpisah dengan Musa, dan jangan bersedih hati jika ia akan dibunuh itu tidak akan terjadi.

Demikian indahnya Allah menjaga keselamatan dua wanita mulya tersebut agar ter-selematkan dari bahaya kematian, pembunuhan, hingga hilangnya anak mereka dengan sebegitu banyaknya pertolongan yang diberikan. Sebelum diuraikan maksud akan kedua ayat ini, baiklah kiranya akan dipaparkan fakta kekinian terlebih dahulu.

WHO (badan organisasi kesehatan dunia) bekerja sama dengan London Scholl of Hygiene and Tropical Medicine me-ngungkapkan data kekerasan pada wanita di seluruh dunia telah mencapai tingkat epidemi, mencapai lebih dari sepertiga perempuan secara global yang dilakukan oleh suami, pacar, dan anggota keluarga, dan atau teman.

Dalam analisis statistik pembunuhan internasional, studi tersebut menemukan bahwa suami, pacar, anggota keluarga, dan teman bertanggung jawab dari 35% pembunuhan perempuan di dunia. Daerah rawan kekerasan terhadap wanita dengan nilai tertinggi pertama adalah Afrika dengan mencapai presentase 45,6% kekerasan terjadi disana, disusul Asia Tenggara (termasuk Indonesia) mencapai 40,2% kekerasan terhadap perempuan terjadi, dan urutan ketiga oleh negara-negara berpendapatan tinggi (Amerika, Eropa) mencapai 32,7%.

Sungguh miris akan apa yang telah dilakukan kebanyakan manusia dalam memandang wanita, jauh bagaimana Allah memandang mereka. Sebagaimana Allah memandang sayyidah Maryam agar tenang dalam menghadapi persalinannya jangan takut, jangan melakukan aborsi, ada Allah untuk segala urusannya. Serta bagaimana Allah menyayangi ibu nabi Musa alaihissalam agar tidak takut dan bersusah hati atas apa yang telah dilakukan Fir’aun. La takhofi wa la tahzani, jangan takut akan kekerasan yang menghadapimu, jangan bimbang dan resah jika Musa harus diasuh oleh istri Fir’aun karena yang bisa menyusui Musa hanya ibunya tidak bisa orang lain. Sehingga ibu Musa diangkat menjadi ibu asuh kerajaan Fir’aun dan mengasuh Musa.

Allah ‘azza wa jall melakukan hal demikian karena Allah mengetahui bahwa wanita adalah tonggak berdirinya kemaslahatan negara, dan hancurnya negara karena rusaknya wanita. ‘Imadul bilad al-maratu, idza shaluhat mar’ah shaluhat bilad, idza fasadat mar’ah fasadat bilad (wanita adalah tiang negara, jika wanitanya baik baiklah negara, jika wanitanya rusak, rusaklah negara). Wanita diwakili oleh ibu sebagai madrasah pertama bagi manusia, bukan bapaknya. Al-Ummahatu madrasatul ula (Ibu adalah sekolah pertama).

Dampak kekerasan terhadap wanita yang perlu diketahui adalah:

  1. Banyak wanita akan mengalami depresi, sehingga banyak wanita mengalami gangguan psikis (gangguan jiwa).
  2. Bermasalah dengan penggunaan alkohol, banyak wanita yang menghilangkan beban kekerasan dengan meminum minuman keras, karena mereka beranggaan dengan minum alkohol setidaknya beban mereka hilang.
  3. Banyak wanita-wanita hamil yang melakukan aborsi karena tidak kuat menanggung kekerasan yang dialami.
  4. Banyak wanita yang kemudian melakukan perselingkuhan, hingga mengalami infeksi seksual (HIV), setiap mereka yang terjangkit infeksi, maka 1% atau 1,5% nilai HIV naik.
  5. Banyak bayi lahir dengan kondisi berat badan rendah (gizi buruk, kelainan fisik, dll.).
Bagikan:

3 Comments

Kesehatan · January 2, 2019 at 10:09 am

Nice Article. and your blog design is really unique.. thanks for share!

Leave a Reply

Your email address will not be published.