Pondok Pesantren Anwarul Huda

Lembaga Ibadurrahman

Oleh: Romy Ittaqi Robby

Taubat adalah suatu penyesalan yang melahirkan tekad dan niat yang dengannya manusia meninggalkan maksiat menuju ketaatan. Hakikatnya adalah menyesali kesalahan yang telah dilakukannya di masa lampau, meninggalkannya di masa sekarang, dan bertekad untuk tidak mengulanginya di masa yang akan datang. Tiga hal ini terhimpun pada saat berlangsungnya taubat. Sebab, di waktu tersebut ia menyesal, meninggalkan, dan bertekad. Ketika itulah ia kembali kepada status penghambaan yang merupakan tujuam penciptaan dirinya. Kepulangan inilah hakikat dari taubat.

                Ibnu Qoyyim telah menjelaskan hubungan erat antara muhasabah dengan taubat. Ia berkata, “Dari tingkatan muhasabah, barulah ia bisa menempati tingkatan taubat. Sebab, apabila ia melakukan muhasabah terhadap dirinya, niscaya ia mengetahui apa yang menjadi kewajiban yang ditanggungnya, sehingga ia berusaha untuk melepaskan tanggungannya. Itulah hakikat taubat. Jadi, mendahulukan muhasabah daripada taubat lebih utama dikarenakan hal tersebut. Namun mengakhirkan muhasabah dari taubat bisa dibenarkan juga yakni bahwa muhasabah tidak bisa dilakukan kecuali setelah meluruskan taubat. tidak bisa dilakukan kecuali setelah meluruskan taubat.

                Oleh sebab itu, siapa yang mewujudkan muhasabah, maka ia akan naik mendekati tingkatan taubat. Karena dengan muhasabah, ia bisa membedakan antara apa yang menjadi hak dan kewajiban yang harus ditanggungnya. Dengan begitu, ia akan memfokuskan keinginannya untuk bertaubat yang seyogyanya tidak terpisah dari diri orang yang meniti jalan menuju Rabbnya sampai mati.

                Dengan begitu, jelaslah bagi kita urgensi taubat sebagai sarana yang praktis dalam menyucikan dan mengantarkan jiwa pada tingkatan yang dekat dengan Allah SWT. Inilah yang diisyaratkan oleh Ibnu Qayyim melalui ucapannya, “Kedudukan taubat adalah kedudukan yang pertama, pertengahan, dan terakhir. Hamba yang meniti jalan menuju Rabbnya tidak akan menjauhnya, dan selalu menetapinya sampai mati. Jadi, adalah langkah awal dan langkah akhir seorang hamba. Kebutuhan dirinya terhadap taubat di akhir perjalanan seorang hamba. Kebutuhan dirinya terhadap taubat di akhir oerjalanan sangatlah diperlukan, sebagaimana halnya kebutuhan di awal perjalanan juga sangat besar.

                Dalil-dalil Al Qur’an dan Sunnah saling mendukung atas wajibnya melakukan taubat dan kedudukannya dalam mewujudkan kesholihan dan kejayaan hamba di dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman:

                “….Dan bertaubatlah kepada Allah hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (An-Nur (24): 31)

                “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia;sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, ‘Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu’.” (At Tahrim (66):8)

                Taubat nasuha sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir adalah taubat yang tulus lagi mantab, yang menghapuskan keburukan-keburukan sebelumnya dan mencegah orang yang bertaubat dari perbuatan-perbuatan rendah yang biasa ia lakukan. Demikian itu dengan meninggalkan dosa di masa sekarang, menyesali dosa yang dilakukannya di masa lampau, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa yang akan datang.

                Para Ulama menjelaskan beberapa pendapat seputar makna istighfar dan taubat yang dilakukan oleh Rasulullah. Diantaranya, maksudnya adalah apabila beliau berhenti berdzikir yang memang selalu beliau lakukan, hal itu beliau anggap sebagai dosa, lalu beliau memohon ampunan. Atau istighfar beliau adalah menampakkan penghambaan dan kerendahan diri kepada Rabb serta menetapi kekhusyukan.

                Tentang hal tersebut, Ibnu Taimiyah menuturkan, “Para nabi terjaga (ma’shum) sehingga tidak mungkin jatuh dalam perbuatan dosa besar atau kecil. Melalui taubat yang Allah beritakan telah mereka lakukan, Dia berkenan mengangkat kedudukan dan melipatgandakan kebaikan-kebaikan mereka. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang suka bertaubat dan orang-orang yang membersihkan diri. Taubat bukanlah satu kekurangan, sebaliknya merupakan kesempurnaan yang utama. Taubat wajib dilakukan oleh semua makhluk. Maka tujuan setiap orang beriman adalah taubat.

                Para Ulama menyatakan penting dan wajibnya bertaubat, serta tidak boleh menangguhkannya. Imam Nawawi mengatakan, “Mereka sepakat bahwa taubat dari segala dosa itu wajib dan harus dilakukan segera, tidak boleh menundanya, baik maksiat tersebut kecil atau besar. Taubat termasuk perkara pokok dan dasar agama Islam yang sangat ditekankan.

                Kadang-kadang hamba meremehkan dosa-dosa kecil dan tidak segera bertaubat dirinya karena keberadaannya yang dianggap remeh. Dan ternyata, dosa-dosa kecil itu menumpuk satu demi satu; dan ia masih meremehkannya, sehingga ia pun terus melakukannya. Akibatnya, dosa-dosa kecil itu menjadi sebab kebinasaan dirinya.

segera bertaubat dirinya karena keberadaannya yang dianggap remeh. Dan ternyata, dosa-dosa kecil itu menumpuk satu demi satu; dan ia masih meremehkannya, sehingga ia pun terus melakukannya. Akibatnya, dosa-dosa kecil itu menjadi sebab kebinasaan dirinya.

                Bukti kebenarannya adalah apa yang diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad R.A yang mengatakan, “Rasulullah SAW bersabda:

                “Hindarilah oleh kalian akan dosa-dosa kecil. Tiada lain perumpamaan dosa-dosa kecil seperti suatu kaum yang singgah di dasar lembah. Lantas, orang ini datang membawa satu ranting, dan yang lain lagi membawa satu ranting pula, sampai mereka membawa apa yang bisa membuat roti mereka matang. Sesungguhnya dosa-dosa kecil, kapan pun pelakunya disiksa karenanya niscaya bisa membinasakan dirinya.”

                Bila api yang besar bermula dari percikan-percikan api yang kecil, maka kebanyakan dosa besar tidak akan dilakukan oleh seorang hamba kecuali karena ia meremehkan dosa-dosa kecil, tidak mempedulikannya, dan tertipu dengan angan-angan ampunan. Akibatnya, dosa-dosa kecil itu menumpuk, sebagaimana ranting-ranting kayu terkumpul untuk menyalakan api. Akhirnya, hamba itu berani meremehkan keberadaan perbuatan maksiat dan pengaruh kesadarannya terhadap maksiat tersebut dalam dirinya melemah, sehingga ia merasa lepas bebas untuk melakukannya dan berani kepada Rabbnya.

                Tidak diragukan lagi bahwa mereka itu menipu diri mereka sendiri. Orang yang hanya memperhatikan dan mengandalkan teks-teks harapan dan kasih sayang, sementara ia melupakan teks-teks peringatan dan ancaman keras kepada orang-orang yang suka berbuat maksiat, seolah-olah ia melihat dengan satu mata. Sungguh, harapan dan rahmat telah digabung penyebutannya dengan peringatan dan ancaman pada banyak tempat dalam Al-Qur’anul Karim. Diantaranya firman Allah SWT:

                “Kabarkan kepada hamba-hambaKu bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih.” (Al Hijr (15): 49-50)

                “Sesungguhnya Rabbmu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-A’raf (7): 167)

                Orang berakal yang baik sangka kepada Allah dan mengharap rahmat-Nya seyogyianya berbuat kebaikan juga. Bila tidak, maka berbaik sangka disertai menuruti hawa nafsu adalah suatu ketidakberdayaan. Dan orang yang besandar pada maaf namun terus melakukan dosa, maka ia seperti seorang pembangkang.

                Tentang masalah ini, Hasan Bashri mengatakan, “Sesungguhnya ada orang-orang yang terlenakan oleh angan-angan ampunan sehingga mereka meninggalkan dunia  tanpa membawa taubat. Salah seorang mereka berkata, ‘Itu karena aku berbaik sangka, niscaya ia akan memperbagus amalnya.

mereka berkata, ‘Itu karena aku berbaik sangka, niscaya ia akan memperbagus amalnya.

                Demikian, seyogyianya seorang mukmin menyatukan antara rasa takut dan harapan, segera melakukan taubat yang tulus, berdo’a kepada Rabbnya dengan penuh keyakinan bahwa do’anya akan diperkenankan, serta memperbanyak istighfar dan mengingatkan istighfar kepada manusia agar mereka kembali kepada Rabb dalam keadaan dan bertaubat. Semoga bermanfaat, Wallahu A’lam bisshowab.

Bagikan:

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Might Also Like