TAJAMNYA LISAN YANG MEMBAHAYAKAN

Published by Ponpes Anwarul Huda on

Oleh: A. Nahid Masyhuri, S.PdI*

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf:18)

Allah swt memberikan anugerah yang sangat besar kepada manusia berupa lisan. Dengan lisan itu manusia dapat mengungkapkan segala yang terbersit dalam hatinya melalui ucapan. Dengan lisan pula manusia menciptakan berbagai macam karya seni dan keindahan. Bahkan, beberapa manusia diberi anugerah lisan yang sangat menakjubkan. Mereka dapat mempengaruhi ribuan bahkan jutaan manusia lewat ucapan yang mereka sebarkan. Nabi kita Muhammmad saw adalah contoh manusia dengan lisan yang mulia dan penuh dengan kejujuran. Sabda-sabdanya yang kemudian yang dikenal dengan “hadits” telah ditulis, dipelajari, dan disebar luaskan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia dengan penuh ketulusan tanpa adanya paksaan. Di Indonesia sendiri kita memiliki pahlawan bernama Soekarno yang mampu menghipnotis para pejuang dengan pidatonya yang berapi-api hingga mengantarkan negara kita menuju pintu kemerdekaan. Maka, segala puji bagi Allah, Tuhan yang menciptakan manusia dengan segala kebaikan, melengkapinya dengan lisan yang penuh dengan berbagai faedah dan keutamaan.

Namun dibalik setiap nikmat yang agung tentulah terdapat tanggungjawab yang agung pula. Karena setiap nikmat yang diberikan Allah kepada manusia tentu diiringi dengan ujian apakah manusia itu mensyukuri nikmat itu atau malah mengkufurinya. Hal ini selaras dengan pernyataan Nabi Sulaiman as. yang disebutkan dalam surat an-Nahl ayat 40 yang artinya:

Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya)”.

Ibarat mata uang yang mempunyai dua sisi, lisan juga memiliki dua sisi. Sisi baik yang dapat membawa pemiliknya ke jalan menuju surga yang abadi, dan sisi buruk yang membawa pemiliknya ke jalan neraka tempat siksaan yang tak tertandingi. Lisan yang baik adalah lisan yang basah sebab al-Quran, berdzikir, dan mengucapkan ucapan-ucapan yang baik yang melegakan hati. Sedangkan lisan yang buruk adalah lisan yang yang penuh dengan kalimat-kalimat tercela, kebohongan, adu domba, hinaan, gunjingan, dan caci-maki.

Menjaga lisan bukan perkara ringan semudah membalikkan telapak tangan. Bagi mereka yang berhasil menjaga ucapan, menghiasinya dengan pujian dan dzikir kepada Tuhan maka keselamatan yang mereka dapatkan, sebagaimana sabda Nabi saw saat ditanya oleh sahabat Uqbah bin ‘Amir: “wahai Rasulullah bagaimana cara memperoleh keselamatan itu?” Nabi menjawab: “Jagalah lisanmu, luaskan rumahmu, dan menangislah atas kesalahan-kesalahanmu”(HR. Tirmidzi) Namun banyak sekali orang-orang yang terjatuh dalam lembah kehancuran sebab ucapan yang tak mereka kendalikan. Sabda Nabi: “Tidaklah manusia dibenamkan wajahnya ke neraka kecuali karena hasil dari perkataannya.”(muttafaq alaihi). “Kesalahan yang terbanyak dari anak Adam adalah dari lisannya.”(HR. Thabrani)

Salah satu indikator/tanda keimanan seseorang adalah sejauh mana ia bisa menjaga lisan, mencegahnya dari ucapan yang dapat menyakiti perasaan. Saat ditanya siapakah seorang muslim yang paling utama, Nabi saw bersabda “muslim yang bisa menjaga lisan dan tangannya sehingga kaum muslimin aman darinya”(muttafaq alaih). Sebanyak apapun shalat yang seseorang kerjakan, sebanyak apapun harta yang telah ia shadaqahkan, dan selama apapun ia berpuasa dan membaca al-Quran akan sia-sia jika lisannya masih saja berkutat dengan ucapan-ucapan setan, ucapan yang menyakitkan, menyayat hati, membekas, dan sulit terobati, ucapan yang jauh dari kebenaran, yang hanya menebar kebencian, pertengkaran, dan permusuhan. Mengapa bisa begitu? Karena ucapan-ucapan yang demikian akan menghapus pahala-pahala kebaikan, sebagaimana api membara membakar kayu sampai habis tak tersisa yang hampir mustahil untuk dipadamkan.

Menghiasi lisan dengan perkataan yang baik dan bermanfaat mungkin sulit untuk dilakukan. Sama sulitnya dengan menghindarkan lisan dari perkataan buruk yang tidak diperbolehkan, namun setidaknya kita bisa diam dan menahan lisan, tidak membiarkan perkataan apapun keluar tanpa dikendalikan. Seperti yang Nabi saw sabdakan: “barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam” (muttafaq alaih). Hanya ada dua pilihan bagi lisan, berkata baik atau diam. Jika seseorang mampu untuk berkata baik saat berbicara dengan orang lain maka hendaklah ia lakukan. Namun jika ia merasa lisannya terbiasa berbicara kotor atau hal-hal buruk telah biasa ia ucapkan, maka diam adalah sebaik-baik pilihan, karena perkataan yang buruk akan berakibat fatal dan sangat membahayakan, baik di dunia ini maupun di akhirat, tempat pembalasan.

Imam al-Ghazali dalam kitabnya ihya’ ulumuddin menggolongkan ucapan menjadi 4 bagian. Pertama: ucapan yang berbahaya misalnya kebohongan, celaan kepada orang, dan sebagainya. Kedua: ucapan yang berbahaya namun bermanfaat seperti ucapan yang menyenangkan hati orang lain namun isinya kebohongan atau gunjingan. Ketiga: ucapan yang tidak berbahaya dan tidak bermanfaat seperti ucapan tentang keadaan sekitar, kabar, berita olahraga dan sebagainya. Keempat: ucapan yang bermanfaat seperti dzikir, bacaan al-Quran, dan sebagainya. Imam al-Ghazali menjelaskan lebih lanjut bahwa jenis ucapan yang pertama dan kedua jelas harus dihindari karena berbahaya baik bagi si pengucap maupun bagi orang lain. Ucapan jenis kedua juga harus dihindari karena tidak ada gunanya dan hanya membuang waktu dan tenaga. Hanya jenis yang keempat yang bisa diamalkan, itupun bagi orang yang bisa menghindarkan dirinya dari berbagai macam penyakit hati seperti sombong, riya’, dan ujub. Bagi orang yang tidak mampu maka diam adalah solusi terbaik yang bisa dilakukan.

Nabi Sulaiman as.  berkata: “jika berbicara adalah perak maka diam adalah emas”. Diam adalah pilihan bagi orang yang menginginkan keselamatan tanpa rasa cemas. Lebih baik diam sehingga hati tak mengeras, akibat banyaknya perkataan yang keluar tanpa batas, yang mengotori hati dan terus membekas. lidah memang tak bertulang, tapi bisa lebih tajam dari sebilah pedang. Tajamnya lidah mampu merobek hati seseorang, membuatnya terluka dan terus terkenang. Luka yang mendalam dan tak mudah hilang

Semoga Allah memberi petunjuk dan pertolongan kepada kita. Semoga Allah Menghindarkan kita dari perkataan-perkataan tercela, perkataan yang tercemari dosa, yang menyalahi nilai dan norma. Semoga Allah senantiasa menghiasi lisan kita dengan perkataan terpuji, yang baik dan menenangkan hati, sampai saat ajal mendatangi.

  • Penulis adalah santri PONPES Anwarul Huda dan alumnus UIN MALIKI Malang jurusan PBA.

Bagikan:

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.