Refleksi Tirakat Imam Syafi’i Bagi Pelajar Era Milenial

Published by Ponpes Anwarul Huda on

Siapa yang tidak mengenal Imam Syafi’i? beliau adalah pengagas mazhab Syafi’i, salah satu mujtahid dari empat imam mazhab besar yang lazim dikenal oleh umat Muslim. Dikalangan pesantren-pesantren di Indonesia sudah tidak asing dengan Ulama’ yang cerdas dan tawadhu’ ini. Kitab-kitab yang dipelajari di Pesantren salaf, pada umumnya  bermazhab syafi’i, dalam artian pengarang kitab misalnya kitab fathul mu’in yang dikarang oleh Syekh Zainuddin bin Aziz Al Malibari, jika ditarik ke atas dari silsilah keilmuan guru-gurunya akan sampai kepada Imam syafi’i. Dari aspek amaliah ibadah umat Muslim di Nusantara pun demikian, mayoritas menganut dan merujuk kepada mazhab syafi’i. Termasuk Singapura, Malaysia, Thailand selatan, Brunei Darussalam bermazhab syafi’i.

Imam Syafi’i memiliki nama lengkap Abu Abdillah Muhammad ibn Idris ibn al-Abbas ibn Utsman ibn Syafi’ ibn al-Sa’ib ibn Ubaid ibn Abd Yazid ibn Hasyim ibn Muthalib ibn Abdi Manaf. Namun, nama yang di nisbatkan dengan Syafi’i, merupakan nama kakek dari kakeknya Imam Syafi’i. Penisbatan nama ini tentunya bukan tanpa beralasan, bisa menjadi alasan karena Syafi’ bin al-Sai’ib ketika masih kecil pernah dibawa oleh ayahnya berjumpa Rasulullah, tatkala melihat Syafi’i Rasulullah bersabda “Termasuk kebahagiaan seseorang, jika mirip dengan bapaknya.” Jadi, nama Syafi’i bukanlah nama asli dari Imam Syafi’i melainkan mengambil dari kakek buyutnya. Sebagai bentuk tabarruk/ mengharap keberkahan kepada Rasulullah SAW. Ini menjadi contoh yang patut untuk diteladani, manakala suatu ketika memberikan nama untuk keturunan kita, dengan nama orang Soleh, lebih-lebih menggunakan nama ulama pendahulu yang pernah berjumpa dengan Rasulllah saw.

Dari silsilah keluarga keatas, nasab Imam Syafi’i bertemu dengan Nabi Muhammad Saw tepatnya pada Abd Manaf.  Kelahiran Imam Syafi’i bertepatan dengan hari wafatnya Imam Mazhab pertama yaitu Imam Abu Hanifah. Tentunya ini bukanlah sesuatu yang kebetulan, tetapi merupakan sebagai tanda bahwa Imam Syafi’i akan menjadi penerus atau pengganti setelah wafatnya Ulama penggagas mazhab Hanafi. Imam Syafi’i dilahirkan di Kota Ghaza Palestina pada tahun 150 H. Kota yang namanya besar melahirkan ulama Masyhur. Hingga abad 21 ini nama Kota Ghaza menjadi gambaran perjuangan umat Muslim mempertahankan dan berjuang menjaga tanah kelahiran para Nabi-Nabi dari para Zionis Israel.

Ketika masa kecil, Imam Syafi’i sudah menjalani hidup dengan kesederhanaan bahkan bisa disebut kondisi yang miskin. Ketika Imam Syafi’i masih bayi, telah menjadi anak yatim kemudian dirawat dan dididik oleh Ibunda yang shalihah yang taat beribadah dan berakhlak mulia. Kederhanaan dan kehidupan yang jauh dari gaya hidup glamour ditambah dengan garis nasab yang mulia, membentuk karakter Imam Syafi’i sejak kecil menjadi pribadi yang tidak tamak terhadap kehidupan dunia serta menjaga  kehormatan diri dari perbuatan dosa (wira’i). Maka tidak heran jika Imam Syafi’i begitu dekat dengan masyarakat serta dihormati kedudukannya karena nasab mulia dan akhlaknya. Maka, mengaca dari Imam Syafi’i ini, mengajarkan kita bahwa kemiskinan bukanlah suatu perkara yang menjadikan sesorang hina, melainkan dengan menjauhi perbuatan dosa serta berakhlak mulia, secara fitrah seseorang akan diangkat derajatnya oleh Allah swt.

Pengembaraan Ilmu

Sejak masih berumur dibawah 10 tahun, Imam Syafi’i sudah dikirim oleh ibunya untuk berguru dan menggali ilmu di Kota Makkah. Kalau dilihat dari umur sedemikian, masih sangat belia bagi seorang anak yang masih senang dengan dunia permainan. Tetapi berbeda dengan Imam Syafi’i. Keinginan pribadi Imam Syafi’i ditambah dengan dorongan dari Ibunya, ia memilih memulai perjalanan pengembaraan ilmunya di mulai dari menghafal Al Qur’an. Makkah sebagai kota yang suci, memiliki sejuta Ulama’ yang menetap di kota ini. Lingkungan orang-orang yang berilmu semakin mengokohkan semangat Imam Syafi’I dalam belajar. Tidak lama, pada umur 7 tahun Imam Syafi’i sudah hafal Al-Qur’an.

Kecintaan Imam Syafi’i pada ilmu, mendorong Imam Syafi’i mengisi waktunya dengan berkumpul di majelis ilmu. Ia sering hadir di majelis pengajian para muhaddist. Ketertarikannya pada hadis, mendorongnya untuk menghafal hadis. Lebih-lebih Imam Syafi’i dari kecil mempunyai daya ingat yang kuat. Cukup dengan mendengarkan penyampaian hadis oleh gurunya, ia bisa hafal bahkan menuliskannya ditembikar atau di atas kulit. Tidak sebatas menghadiri majelis ilmu, Imam Syafi’i dari kecilnya rutin mengunjungi perpustakaan. Ia mendalami pengetahuannya dengan mempelajari catatan dan manuskrip yang tersimpan. Pada tahapan ini ia juga mempelajari dan hafal Kitab al-muwaththa’ karya dari Imam Malik. Bahkan pada masa itu Imam Syafi’i belum berjumpa dengan Imam Malik. Kecintaan pada ilmu Imam Syafi’I sangat patut untuk di tiru. Waktu-waktunya di isi hanya untuk ilmu dan ibadah. Maka ini menjadi pengingat bagi penuntut ilmu pada abad milenial ini. Sangat di sayangkan dan jauh dari yang dicontohkan Imam Syafi’i, manakala seorang pelajar banyak membuang waktunya untuk melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat, atau bahkan demam game online pada abad 21 ini, menjadi wabah candu merenggut waktu para penuntut ilmu. Bahkan tidak jarang ada yang menghabiskan waktu malamnya bergadang hanya demi permainan game gadget, berkumpul dengan orang-orang yang lalai untuk ibadah dan waktu terbuang sia-sia.

Imam Syafi’i di awal masa remajanya memilih untuk tinggal dan belajar bahasa Arab dari penduduk dusun Kaum Hudzail, di dekat Kota Mekah, yang masyhur dengan memiliki jati diri kearaban yang kuat serta mahir di bidang ilmmu bayan dan syair. Imam Syafi’i mengikuti pola hidup Nabi ketika kecil pernah di asuh di perkampungan bani Sa’ad. Hal ini dilakukan untuk mendalami bahasa Arab yang fasih, sehingga menghindari dari bahasa Arab yang mulai banyak terpengaruhi oleh lahjah bahasa selain Arab, terutama di kota besar seperti Makkah. Selain bahasa Imam Syafi’i mempelajari sejarah Arab. Di perkampungan kaum Hudzail ini, Imam Syafi’i menetap selama 17 tahun, pendapat lain mengatakan selama 10 tahun. Waktu yang relatif cukup lama bagi seorang pelajar jika dibandingkan jenjang pendidikan era modern ini. Jenjang pendidikan paling lama selama 6 tahun pada Sekolah Dasar, dan ini mempelajari berbagai ilmu. Lebih-lebih pada jenjang pendidikan S-1 jurusan Bahasa Arab yang hanya 4 tahun. Masih sangat jauh lebih singkat dengan Imam syafi’i yang mendalami bahasa Arab. Maka, tidak tepat jika seorang merasa sudah ahli bahasa manakala telah memiliki titel gelar sarjana bahasa Arab yang hanya diperoleh selama empat tahun dibandingkan Imam Syafi’i selama 17 tahun. Maka, jika merasa sulit dan berputus asa untuk belajar bahasa Arab, mengacalah kepada Ulama besar penggagas Mazhab Syafi’i yang memfokuskan belajar bahasa Arab selama 10 tahun, pendapat lain mengatakan 17 tahun.

Setelah menguasai ilmu Bahasa Arab, Imam Syafi’i sering tampil di majelis syair di mekkah. Banyak penduduk Mekkah yang menyukai syair yang dibacakan oleh Imam Syafi’i. Kemahiran bahasa yang dimiliki, menjadi potensi untuk mempelajari ilmu lainnya. Atas saran Paman Imam Syafi’i, agar mempelajari ilmu fikih kepada Imam Malik bin Anas. Ulama’ masyhur di Madinah. Imam Syafi’i berguru menimba ilmu kepada Imam Malik hingga pencetus mazhab malik tutup usia. Patut menjadi contoh, Imam Syafi’i dalam pengembaraan pencarian ilmu menfokuskan diri untuk menguasai satu demi satu ilmu dari satu orang guru. Ini merupakan salah satu adab ketika menuntut ilmu. Mengedepankan akhlak kepada guru, salah satunya tidak berpindah kepada guru lainnya sebelum benar-benar telah tuntas berguru dan diizinkan untuk menggali ilmu dari guru lainnya. Jauh dari adab yang dicontohkan Imam Syafi’i manakala seorang pelajar/santri yang memilih belajar dengan seorang guru/Ulama’, pada waktu yang belum tuntas, berhenti ataupun kabur dari lingkungan pendidikan seorang guru. Ini banyak dijumpai diberbagai pesantren. Santri yang memilih keluar dari pondok tanpa pamit kepada guru. Sangat dikhawatirkan ilmunya tidak manfaat karena mengabaikan adab terhadap guru. Maka, selayaknya seorang pelajar/santri tetap terjalin hubungan silaturrahmi dengan guru walaupun suatu ketika telah berpisah dengan guru.

Kecintaan Imam Syafi’i terhadap ilmu di iringi dengan ibadah dan keimanan. Beliau dikenal orang yang alim dan wara’. Pada malam hari, ia membagi waktunya menjadi 3 bagian. Seperempat malam pertama digunakan untuk menulis. Karya tulisan Imam Syafi’i begitu banyak. Di antaranya kitabnya “Al-Umm”. Ulama’-Ulama’ besar terdahulu meyakini bahwa usianya tidaklah panjang. Namun, karya yang dihasilkan berupa kitab-kitab akan hidup dan bermanfaat sepanjang zaman. Ini merupakan ajaran Nabi dalam hadisnya “ Dari Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah saw bersabda :Jika wafat anak keturunan adam, maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga perkara; sedekah jariyah (yang berlaku terus menerus) ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholeh senantiasa mendoakan orangtuanya,.” HR Muslim. Dengan hadist ini, mengajarkan umat muslim menjadi produktif dengan karya dan ilmu yang bermanfaat diwariskan kepada anak keturunan. Karena ilmu yang bermanfaat akan senantiasa digunakan secara kontiniu oleh generasi setelahnya. Ini yang dicontohkan para Ulama terdahalu, salah satunya Imam Syafi’i.

Seperempat malam kedua, Imam Syafi’i gunakan untuk istirahat/tidur. Total waktu tidur Imam Syafi’i hanya 4 jam. Rasulullah saw juga mengajarkan dengan pola hidup menyedikitkan tidur. Walaupun ada pendapat para ahli kesehatan, manusia butuh waktu tidur selama 8 jam. Namun, bagi seorang muslim, apalagi sebagai santri tentunya lebih bijak menyedikitkan waktu tidur, untuk mengisi malam dengan belajar dan ibadah. Seperempat malam ketika, Imam Syafi’i gunakan waktunya untuk Sholat, di mulai dari sholat tahajjud dan sholat sunnah lainnya.

Dedikasi Imam Syafi’i terhadap ilmu ushul fiqih dan ilmu fiqih  begitu besar pengaruhnya hingga abad 21 ini. Karyanya tetap bisa menjawab permasalahan umat. Tentunya ini merupakan buah hasil dari tirakat Imam Syafi’i lakukan. Memadukan antara ilmu dan ibadah. Tidak hanya berkonsentrasi menjadi pribadi soleh, tetapi juga diiringi dengan kesolehan sosial dengan pengaruhnya memberikan pencerahan umat dari berbagai masalah yang semakin rumit. Masih banyak nilai-nilai tirakat kehidupan yang Imam Syafi’i lakukan menjadi rutinitas kesehariannya.

Maka, semestinya para pelajar/santri pada abad 21 ini atau dikenal generasi abad milenial mengikuti atau mencontoh jalan pengembaraan ilmu Imam Syafi’i. Dari kecil mengkader diri untuk senantiasa cinta terhadap ilmu, waktu tidak ada yang terbuang sia-sia selain diisi dengan ilmu. Kemudian mencari teman, guru, ataupun jamaah yang mendukung untuk memperoleh ilmu. Namun, kesibukan dalam mencari ilmu semestinya tidak melalaikan untuk beribadah. Karena hakikatnya ilmu yang diperoleh adalah anugerah dari Allah swt. Tidak akan memperoleh keberkahan ilmu tanpa di iringi dengan amal ibadah.

Bagikan:

1 Comment

Hari Ismail · October 14, 2020 at 7:54 am

Mantappp

Leave a Reply

Your email address will not be published.