Refleksi Keteladanan Kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz untuk Pemimpin Zaman Sekarang

Published by Ponpes Anwarul Huda on

Akhir-akhir ini kita sebagai warga Indonesia disedihkan dengan berbagai pemberitaan tentang banyaknya kepala daerah yang terlibat kasus korupsi. Ironis memang, kepala daerah yang notabene seharusnya sebagai pengayom, pelindung dan pelayan rakyat, namun justru mengkhianati rakyatnya. Hal ini tentu jauh dari pada definisi pemimpin yang adil. Padahal Rasulullah pernah bersabda dari hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id RA, “Sesungguhnya orang yang paling dicintai Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah pemimpin yang adil, sedangkan orang yang paling dibenci Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah pemimpin yang dzalim” (HR. Tirmidzi).

Kemudian diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwasanya ada 3 golongan yang mana Allah SWT enggan berbicara dan murka kepada mereka pada hari kiamat kelak, dan telah disiapkan siksa yang pedih, yaitu orang tua yang berzina, penguasa yang suka berdusta, dan fakir miskin yang takabur. Hal ini yang harusnya menjadi perhatian bagi setiap pemimpin, bahwa amanah yang mereka terima akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat.

Pemimpin yang adil telah banyak dicontohkan oleh khalifah Islam dulu. Salah satunya kita mengenal Khalifah Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah dari Bani Umayyah yang mana hanya memerintah selama 2 tahun 5 bulan 5 hari, namun mempunyai dampak luar biasa pada kehidupan umat Islam saat itu. Pada era kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, Dinasti Umayyah mampu menorehkan tinta emas kejayaan yang mengharumkan nama Islam. Berbagai kebijakan Umar bin Aziz telah menjadikan umat Islam saat itu sebagai umat yang makmur dan sejahtera. Bahkan diriwayatkan pada zaman pemerintahan Umar bin Abdul Aziz ada seorang laki-laki datang membawa zakatnya namun ia tidak berhasil menemukan seorangpun yang berhak menerimanya, karena saking tercukupinya kebutuhan rakyat pada saat itu.

Keberhasilan pemerintahan Umar bin Abdul Aziz tidak terlepas dari kepribadian dan berbagai kebijakan beliau saat memerintah. Umar bin Abdul Aziz mewarisi apa yang telah dicontohkan dari kakeknya, Umar bin Khattab RA. Bahkan banyak ahli sejarah mengatakan bahwa Umar bin Abdul Aziz pantas sebagai Khalifah ke lima setelah Khulafaur Rasyidin. Sehingga, pemimpin di zaman sekarang perlu untuk napak tilas sifat-sifat dan keteladanan dari Umar bin Abdul Aziz. Di antara sifat- sifat terpenting Umar bin Abdul Aziz yang menyatu dengan kepribadiannya adalah sebagai berikut:

Ketakutannya yang besar kepada Allah SWT

Keistimewaan yang paling besar dan ciri khas yang menghiasi diri Umar bin Abdul Aziz adalah imannya yang kuat terhadap akhirat dan rasa takutnya kepada Allah SWT. Pernah dikisahkan dari isteri beliau, Fathimah binti Abdul Malik, berkata : “Demi Allah Umar bukanlah orang yang banyak shalat, bukanlah orang yang banyak puasa, akan tetapi demi Allah, aku tidak pernah melihat seseorang yang takut kepada Allah selain dirinya. Di tempat tidur dia teringat Allah, maka dia menggigil seperti burung kecil yang kehujanan karena ketakutannya yang mendalam, sampai-sampai kami berkata, ‘Rakyat akan mendapatkan waktu pagi sementara mereka tidak memiliki khalifah.’ “.

Rasa takut Umar bin Abdul Aziz kepada Allah SWT telah membawa berbagai kebijakan-kebijakan yang berpihak penuh kepada rakyat. Misalnya salah satu kebijakannya adalah dalam bidang moneter, Umar bin Abdul Aziz menata kembali pembagian kekayaan negara dengan cara yang adil dan sesuai ridha Allah SWT. Pertama lewat melarang seluruh pejabat negara untuk menjadikan modal perniagaan, menarik harta kepemilikan yang didapat dengan cara yang tidak benar oleh para pejabat, kemudian mengembalikannya kepada yang berhak. Namun jika tidak diketahui maka akan diberikan ke Baitul Mal untuk kepentingan umum. Kedua, Meningkatkan infaq dan perhatian kepada kelompok masyarakat tidak mampu dan lemah, serta menjamin tingkat kecukupan mereka melalui jalan zakat dan pemasukan lainnya. Melalui rasa takut kepada Allah, melalui pandangan kehidupan dunia yang fana dan kekalnya kehidupan akhirat membuat Umar bin Abdul Aziz tidak melangkah sejengkalpun, mengucapkan satu kalimatpun, serta melakukan tindakan apapun kecuali atas ridha Allah SWT.

Ketegasan Umar bin Abdul Aziz

Ketegasan diperlukan oleh setiap pemimpin agar setiap keputusan yang diambil tepat dan objektif. Umar bin Abdul Aziz menghiasi dirinya dengan sifat ini termasuk kepada para pegawai, para pemegang jabatan dan para gubernur. Di antara ketegasan Umar bin Abdul Aziz adalah ketika memulai suatu perkara, beliau akan meneruskannya hingga selesai. Suatu hari Umar menerima surat dari Bani Marwan yang membuat kemarahannya memuncak. Kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya Allah mempunyai satu hari dari Bani Marwan, ada yang berkata penyembelihan. Demi Allah jika penyembelihan itu melalui tanganku…” Manakala mereka tahu ketegasan Umar, mereka berhenti, mereka tahu bahwa jika Umar memulai suatu urusan, maka akan meneruskannya.

Dalam hal lain, ketegasan Umar diwujudkan ketika melarang para gubenur dan para pejabat untuk ikut terjun langsung dalam dunia bisnis atau perdagangan. Umar menyampaikan kepada gubenurnya, “Kami berpendapat bahwa pemimpin tidak boleh berdagang, seorang pejabat tidak halal berniaga dalam kekuasaannya yang menjadi tanggungjawabnya, karena jika seorang pemimpin berdagang, maka dia akan mementingkan dirinya dan terjerumus dalam hal-hal yang menyulitkan, sekalipun dia sudah berupaya untuk tidak melakukannya.”

Begitulah Umar bin Abdul Aziz dengan ketegasannya yang perlu dicontoh oleh pemimpin di era sekarang, beliau mengambil prosedur-prosedur dan kebijakan-kebijakan yang tegas. Ketegasan Umar ini mempunyai dampak besar dalam menstabilkan segala urusan dan mewujudkan segala apa yang dicanangkan untuk diwujudkan yang mempunyai nilai keadilan.

Sikap Wara’ Umar bin Abdul ‘Aziz

Wara’ merupakan salah satu sikap dari Khalifah Umar bin Aziz. Wara’ berarti menahan diri dari apa-apa yang mungkin merugikan, mencakup hal-hal yang haram, perkara-perkara syubhat serta bahkan perkara mubah yakni ketika dalam kadar yang berlebihan. Mumculnya sikap wara’ Umar tidak lain karena iman yang kuat, perasaan tanggung jawab serta kehadiran akhirat dalam hatinya.

Ada beberapa kisah yang menunjukkan tingkat wara’ Umar bin Abdul Aziz. Seperti ketika Umar sangat berhati-hati menggunakan harta kaum muslimin di Baitul Maal. Beliau menyalakan lampu dari Baitul Maal jika menunaikan hajat kaum muslimin, jika telah selesai dari hajat kaum muslimin, maka beliau memadamkannya dan menyalakan dengan biayanya sendiri. Kemudian perihal sikap wara’ Umar, pernah dikisahkan beliau meyakini bahwa diri beliau tidak memiliki hak untuk mencium bau minyak wangi misk yang datang dari kaum muslimin. Ketika sebuah botol besar minyak wangi diletakkan di depan beliau, maka beliau menutup hidung, seseorang berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, ini hanya aroma.” Umar menjawab, “Bukankah manfaatnya adalah aroma wanginya?”

Demikianlah sikap wara’ Umar adalah mencakup segala urusannya, dalam makannya, hajatnya, dan keinginannya serta harta kaum muslimin, serta dalam segala sisi kehidupannya. Sifat wara’ ini adalah di antara sifat-sifat Umar bin Abdul Aziz yang jelas menonjol. Sifat wara’ dalam jiwa Umar ini mencapai derajat pada jiwa Umar sampai-sampai beliau membeli sendiri tanah kuburannya. Bagi beliau, tidak ada sesuatu apapun di dunia ini yang gratis sekalipun itu liang kubur.

Keteladan sikap wara’ ini yang wajib menjadi teladan bagi setiap pemimpin saat ini, agar setiap kebijakan yang dilakukan benar-benar dalam prinsip kehati-hatian dan berpihak penuh kepada kepentingan rakyat. Rasulullah SAW pernah bersabda : “Dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat bagi dirinya.” (HR. Tirmidzi)

Keadilan Umar bin Abdul ‘Aziz

Di samping sifat wara’ sifat lain yang sangat menonjol bagi Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz adalah keadilan beliau. Keadilan Umar terlahir karena kepercayaan bahwa sifat adil itu adalah buah dari iman. Pentingnya adil adalah karena adil buah dari ketaqwaan seseorang. Dengan memiliki sikap adil, seseorang dituntut untuk berbuat sama baik terhadap orang yang dicintai maupun yang dibenci serta tidak diskriminatif. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Maidah ayat 8: “Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah menjadi orang-orang yang menegakkan kebenaran karena Allah, dengan menjadi saksi yang adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketaqwaan. Dan bertaqwalah kepada Allah, sessungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. “

Ketika Umar bin Abdul Aziz memulai pemerintahannya, beliau mengawali dengan penegakan keadilan yakni pengembalian hak-hak kepada pemiliknya. Hal ini ia awali dengan diri beliau sendiri kemudian di lingkungan keluarga baru kepada rakyatnya. Dari sikap ini Umar harus mendapat teguran dari Bani Umayyah karena kebijakan beliau dapat mengancam kedudukan keluarga besar Bani Umayyah dan melemahkan kekuatan mereka. Setelah menertibkan harta yang bukan haknya di keluarga Bani Umayyah, beliau mengumumkan kepada rakyatnya, barangsiapa yang merasa mempunyai hak atas gubernur atau orang-orang Bani Umayyah atau yang pernah dianiaya oleh mereka maka hendaklah menghadap dengan membawa bukti. Suatu saat Gubernur Basrah mengirim kepada Umar seorang laki-laki yang tanahnya dirampas paksa, maka Umar mengembalikan tanah tersebut kepadanya. Kemudian Umar bertanya, “Berapa biaya yang kamu habiskan untuk datang kesini ?” Laki-laki itu menjawab, “Amirul Mu’minin engkau menanyakan berapa ongkos untuk datang kesini padahal engkau telah mengembalikan tanahku lebih dari seratus ribu Dinar?” Unar menjawab, “Aku hanya mengambalikan hakmu kepadamu.” Kemudian Umar memberikan ongkos 60.000 dirham sebagai ongkos perjalanan kepadanya. Kepedulian Umar bin Abdul Aziz terhadap pentingnya adil bukan hanya digambarkan melalui berbagai kisahnya, namun pernah suatu ketika Umar memohon nasihat dari Hasan Basri tentang sikap adil.

Hebatnya pencapaian Umar bin Abdul Aziz dalam mengelola negara sepatutnya menjadi kurikulum tersendiri yang harus dipelajari bagi seluruh pemimpin di Indonesia, baik di daerah hingga nasional. Pencapaian ini tidak lain berasal dari kepribadian Umar yang memegang teguh ketakwaan kepada Allah, ketegasan, sikap wara’, dan keadilan serta sikap-sikap mulia lainnya. Melalui kombinasi sifat inilah kemudian membentuk kepribadian seorang pemimpin Umar bin Abdul Aziz. Belum pernah dijumpai dari dulu hingga sekarang ini prestasi segemilang Umar bin Abdul Aziz, di mana ada seorang yang ingin memberikan sedekah tapi tidak menemukan kepada siapa sedekahnya berhak diterima. Bukan tidak mungkin, jika setiap pemimpin di negeri ini merefleksikan kembali sifat-sifat kepemimpinan yang telah diteladankan oleh Umar bin Abdul Aziz akan menciptakan sebuah negeri yang diidam-idamkan selama ini yakni negeri yang makmur, negeri di mana sebuah keperluan dan kebutuhan rakyat terpenuhi, serta negeri yang bukan hanya mengantarkan rakyatnya kedamaian hidup  di dunia, melainkan juga akhirat atau negeri yang disbutkan dalam Al-Qur’an, Baldatun Thayyibatun wa rabbun Ghafur.

 

Penulis: Ma’rufa Khotiawan

Bagikan:

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.