Oleh : Irvan Mubarok

“Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)

Tepat hari ini kita telah memasuki salah satu dari empat bulan haram (suci), yaitu bulan Rajab. Bulan Rajab berada diantara bulan Jumadil akhir dan Sya’ban, persisnya berada pada bulan ke tujuh dalam kalender hijriyah. Adapun bulan haram yang dimaksud adalah bulan yang dimuliakan, bulan yang diagungkan, karena pada bulan terebut kita sebagai umat Islam dilarang keras untuk melakukan maksiat, serta diperintahkan bagi kita agar banyak beramal sholih. Beribadah di bulan Rajab memiliki ganjaran yang sangat besar, terutama dengan berpuasa serta beristighfar dan bertaubat dari dosa-dosa. Dan malam pertama bulan Rajab merupakan malam yang istimewa, sebab doa sangat besar kemungkinan diterimanya di malam ini. Dalam sebuah hadits dikatakan, “Ada lima malam ketika doa di malam-malam itu tidak ditolak: malam pertama bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam `Idul Fithri, dan malam nahar (Idul Adha).” Sampai-sampai dijelaskan  dalam kitab (Latho-if Al Ma’arif, 214) para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” Bahkan Ibnu ’Umar, Al Hasan Al Bashri dan Abu Ishaq As Sa’ibi melakukan puasa pada seluruh bulan haram, bukan hanya bulan Rajab atau salah satu dari bulan haram lainnya.

Dengan memasuki bulan Rajab, berarti saat-saat kedatangan bulan Ramadhan semakin dekat. Agar nantinya kita dapat memanfaatkan bulan suci itu dengan sebaik-baiknya dengan memperbanyak ibadah, persiapannya mesti dilakukan sejak jauh-jauh hari sebelumnya, khususnya ketika memasuki bulan Rajab. Salah satu caranya adalah dengan menyucikan diri dengan banyak beristighfar, memohon ampun kepada Allah dan bulan Rajab memang salah satu saat yang terbaik untuk banyak beristighfar.

Bertaubat dan memohon ampun memiliki berbagai manfaat dan keutamaan. Salah satunya adalah memudahkan rizqi, sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat, “Banyak memohon ampun dapat menarik (mendatangkan) rizqi.” Sedangkan dalam ayat Al-Quran dikatakan, “Mohonlah ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan kepadamu hujan lebat, dan membanyakkan harta dan anakanakmu, dan mengadakan untukmu kebunkebun dan dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS Nuh: 10-12).

Rasulullah SAW juga bersabda, “Perbanyaklah istighfar oleh kalian, karena, barang siapa membanyakkannya, Allah akan memberinya kelapangan dari setiap kedukaan dan kesedihan serta menganugerahinya rizqi yang tak disangka-sangka.” Dalam Sunan Abi Dawud dan Sunan Ibnu Majah terdapat hadits dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa merutinkan istighfar, Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesempitan, kelapangan dari setiap kesedihan, dan memberinya rizqi yang tak diduga-duga”.

Di antara doa yang sangat baik untuk kita amalkan sepanjang bulan Rajab adalah doa singkat berikut: Allahumma baarik lanaa fii rajaba wa sya’ban wa ballighnaa ramadhan
“Ya Allah, berilah keberkahan kepada kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan”. Selain itu bacaan terbaik di bulan Rajab adalah Sayyidul Istighfar, doa permohonan ampunan, atau doa-doa taubat lain yang banyak terdapat dalam Al-Quran. Baik doa-doa permohonan ampunan yang diajarkan para sahabat Nabi dan ulama salaf yang terdapat dalam kitab-kitab mu’tabar. Seperti Istighfar Syaikh Abdul Qadir Jailani yang terdapat dalam kitab Al-Ghunyah, Istighfar Rajab-nya Sayyid Hasan bin Abdullah Ba’alawi, dan shalawat taubat yang dikarang oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Biasanya para ulama yang mengajarkan doa-doa taubat juga menerangkan keutamaannya. Syaikh Abdul Hamid Al-Qudsi, seorang ulama yang mengajar di Masjidil Haram, misalnya, dalam kitabnya, Kanzun Najah was Surur menjelaskan, bahwa Imam Wahb bin Munabbih berkata : “Barang siapa membaca ‘Allahummaghfir li warhamni wa tub’alayya, (Ya Allah ampunilah hamba, sayangi hamba, dan terimalah taubat hamba) tujuh puluh kali pagi dan sore, tubuhnya tidak akan tersentuh api neraka.”

Amaliah lain yang dianjurkan di bulan Rajab adalah berpuasa. Paling sedikit satu hari, yakni di hari pertama. Puasa dalam bulan Rajab, sebagaimana dalam bulan-bulan mulia lainnya, hukumnya sunnah. Diriwayatkan dari Mujibah Al-Bahiliyah dari ayahnya , Rasulullah Bersabda,(yang artinya): “Berpuasalah kalian pada bulan-bulan haram atau tinggalkan (puasa).” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)”.

Seperti penjelasan yang sudah dipaparkan, kita sudah mengetahui bahwa Rajab termasuk bulan-bulan haram (Al Asyhurul Hurum). Maka hadits tersebut diatas secara umum juga menunjukkan kesunnahan puasa di bulan Rajab. Diriwayatkan pula dari Abu Qilabah, seorang pembesar Tabi’in, beliau berkata, “Di surga terdapat sebuat istana yang diperuntukkan bagi orang-orang yang puasa di bulan Rajab”. Perihal Abu Qilabah, Imajm Baihaqi berkata, “Beliau adalah pembesar Tabi’in, tidaklah beliau menyampaikan sesuatu kecuali karena mendengar generasi diatasnya (para sahabat)”. Maka dari itu tersebutlah beberapa ulama salaf yang melakukan puasa Rajab sebulan penuh seperti Imam Abdullah bin Umar, Hasan Al Bashri, Abu Ishaq As Sabi’iy dan lainnya.

Lain lagi dengan Imam Ahmad bin Hambal dan Yahya bin Sa’id Al Anshori beliau tidak menyukai berpuasa sebulan penuh dalam Rajab karena ada keterangan dari sahabat Abdullah bin Abbas bahwa beliau tidak senang jika Rajab dipakai puasa sebulan penuh. Oleh karenanya untuk menghindari hal tersebut, kata Imam Ahmad bin Hambal : “Hendaknya seseorang tidak puasa satu atau dua hari di bulan Rajab”. Hal ini rupanya sejalan dengan pendapat Imam Asy Syafi’I, beliau berkata : “Aku tidak suka jika seseorang berpuasa sebulan penuh seperti dia berpuasa Ramadhan. Alasannya adalah jangan sampai perbuatannya tadi diikuti oleh masyarakat awam (yang jahil) sehingga dikhawatirkan mereka akan menyangka bahwa hal itu hukumnya wajib. Dan akan hilang kemakruhan mengkhususkan Rajab dengan puasa tersebut, jika digabung dengan puasa sunnah lainnya, seperti berpuasa Rajab sebulan penuh dan dilanjutkan dengan puasa Sya’ban, maka yang demikian tidaklah makruh”.

Begitu banyak keistimewaan ataupun ganjaran yang akan diperoleh bagi orang-orang yang bertaqwa, dalam hal melaksanakan amalan-amalan sunnah serta senantiasa menjaga diri dari perbuatan maksiat di bulan mulia tersebut. Namun sebaliknya, jika amalan sholeh pada bulan rajab ini akan dillipat gandakan pahalanya, maka berbeda halnya dengan para pendosa yang gemar bermaksiat. Perkara ini akan menjadi ancaman bahkan musibah besar bagi mereka, karena ganjaran dosa yang diterimapun juga akan dilipat gandakan. Hal ini juga jelaskan dalam (QS. At-Taubah : 36) :

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”.

Berdasarkan ayat di atas, berbuat maksiat dan kemungkaran pada bulan haram, adalah bentuk pembangkangan terhadap perintah Allah. Apalagi jika kemaksiatan itu dilakukan dengan terang-terangan sehingga menyebar di tengah masyarakat dan akhirnya dianggap biasa.
Rasulullah menegaskan, orang yang dengan terang-terangan melakukan kemaksiatan dan kemungkaran di tengah masyarakat tidak akan mendapatkan ampunan dari Allah.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘Seluruh umatku diampuni kecuali al-mujahirun (orang yang terang-terangan berbuat dosa), dan termasuk bentuk mujaharoh (terang-terangan dalam berbuat dosa) adalah seseorang berbuat dosa pada malam hari, kemudian pada pagi harinya yang dosanya telah ditutup oleh Allah, dia malah berkata, ‘Wahai fulan, semalam aku telah melakukan seperti ini dan ini (menceritakan dosanya).’ Allah telah menutupi dosanya pada malam hari, tetapi dia membuka kembali dosa yang telah ditutup oleh Allah tersebut.’’ (HR Bukhari dan Muslim).

Bercermin dari penjelasan di atas maka seyogyanya kita sebagai umat islam harus menyambut baik atas kedatang bulan mulia ini, dengan cara sebisa mungkin meningkatkan kualitas ibadah kita berupa melaksanakan amalan-amalan sholeh dan senantiasa menjaga diri agar tidak mudah terjerumus dalam lembah kemaksiatan.

Mudah-mudahan kita semua diberkati di bulan mulia ini dan disampaikan kepada bulan-bulan mulia berikutnya dalam keadaan sehat afiat, dilingkupi dengan taufiq dan hidayah-Nya. Aamiin Ya Robbal Alamiin.

Bagikan:

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!