Oleh: Ali Hasan Assidiqi

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.  (QS Ali Imran ayat 103)

Di akhir zaman saat ini banyak kasus di mana-mana terjadi. Salah satu kasus yang fenomenal adalah berkaitan dengan keharmonisan kekeluargaan. Kekeluargaan disini dimaksud adalah keluarga inti atau pula keluarga besar. Contoh dari beberapa kasus yang biasanya terjadi tidak terlepas dari sebuah harta atau perebutan sesuatu atau juga perilaku. Sebagaimana kadang dalam satu keluarga anak terlantar karena orang tua sibuk mencari harta hingga melupakan tugas lainnya. Kemudian juga kadang ada saudara kandung dimana karena harta mereka rebutan memilikinya bahkan membuat mereka saling membenci antara satu sama lainnya. Dan ingin lebih menguasai harta tersebut daripada mengelola bersama atau diselesaikan dengan baik. Sungguh fenomena ini merupakan hal buruk bagi masa depan. Sebab selain keluarga adalah inti dari seseorang, keluarga juga inti seseorang kedepannya lebih baik. Dan apa jadinya jika misal hal itu terjadi pada keluarga di sekeliling kita. Dan bagaimana dengan negara ini jika seandainya perselisihan tersebut kerap terjadi.

Dengan adanya hal tersebut, maka perlu atau penting dalam suatu keluarga adanya keharmonisan atau dikenal harmonisasi, baik harmonisasi antara orangtua dengan anak, istri dengan suami, ataupula antar satu keluarga dengan keluarga yang lain yang masih saudara. Harmonisasi sendiri secara etimologis menunjuk pada proses yang bermula dari suatu upaya untuk menuju atau merealisasi system harmoni. Istilah harmoni di sini memiliki arti keselarasan, keserasian, keseimbangan yang menyenangkan. Jadi dari hal ini disimpulkan bahwa harmonisasi yang berkaitan dengan keluarga adalah suatu bentuk upaya dimana didalamnya ada keseimbangan yang menyenangkan.

Jika kita tinjau secara Islam, harmonisasi dalam kekeluargaan ini merujuk kepada ayat-ayat Al-Qur’an. Untuk harmonisasi antar keluarga inti atau ayah, ibu dan anak hal ini dapat kita rujuk dari dialog orangtua dengan anak dalam Al-Quran. Di mana dalam suatu catatan study oleh Sarah binti Halil ditemukan bahwa Al-Qur’an memuat dialog orangtua dengan anak dalam 17 tempat yang tersebar di 9 surat. Dan semua yang terdapat didalamnya kebanyakan memuat tentang kisah bagaimana orangtua dan anak harus berbuat. Sebagaimana dalam surah luqman yang menasehati anaknya. Dan bahkan dalam cerita tersebut diperlihatkan bahwa keduanya tak pernah ada rasa selain ingin berbuat kebaikan. Tentu hal ini bukan ada karena kesalahan, tetapi mengistilahkan bahwa hubungan harmonisasi orangtua dan anak merupakan suatu hal yang harus ada dan tidak boleh diantara salah satunya meninggalkan atau meremehkan. Sebab banyak keluarga inti, terlihat kadang ayahnya tak perhatian, ibunya tak perhatian ataupun anaknya tidak memperhatikan orang tuanya yang sudah tua, sehingga harmonisasi keluarga di dalamnya hilang dan bahkan kadang membuat salah satu terutama anak trauma dan bahkan tak jarang melakukan hal jelek seperti berkumpul dengan orang tidak baik, bunuh diri dan lainnya. Maka dari itu hal ini perlu diperhatikan serius oleh semua keluarga untuk menjaga harmonisasi keluarganya. Tidak boleh salah satu mengabaikan karena kerjaan atau harta dan sejenisnya.

Sedangkan untuk harmonisasi antar keluarga besar atau yang meliputi saudara dan lainnya dapat kita rujuk kepada surah Ali Imran ayat 103 yaitu “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.

Melalui ayat tersebut, Allah melarang umat Islam berselisih. Allah pun akan mencabut pertolongan-Nya terhadap mereka yang berselisih. Meski begitu, dilarang berselisih bukan berarti tidak boleh berbeda pendapat. Artinya boleh kita memiliki pendapat beda, tetapi tidak menjadikan perbedaan tersebut menjadi kokoh utama yang menganggap kita paling benar dan apalagi menyebabkan hubungan kekeluargaan luntur sehingga tidak harmonis lagi.

Selain rujukan diatas tersebut, harmonisasi keluarga ini juga ditunjukkan dengan adanya istilah keluarga sakinah mawaddah dan warohmah. Dimana istilah tiga hal tersebut bukan hanya merujuk kepada keluarga inti tapi keluarga secara umum. Sakinah yang memiliki arti ketenangan baik jasmani atau rohani, mawaddah memiliki arti mencintai sesuatu dan berharap bisa terwujud dan warohmah yang memiliki makna mendorong untuk kebaikan. Dan jika hal diatas kita gabung dan kaitkan dengan keluarga maka jelas bahwa sesuatu yang ada dalam keluarga baik keluarga inti dan besar harus memiliki nilai cinta, nilai kasih sayang, dan nilai menuju kebaikan sehingga terlahir harmonisasi keluarga.

Untuk teori mencapai keharmonisan keluarga baik keluarga inti atau keluarga besar dalam dalam study Islam keluarga terdapat tiga hal yang meliputi:

  1. Masa Pengenalan

Dalam hal ini seseorang keluarga harus saling mengenal. Artinya bukan hanya sekedar tahu nama tetapi juga adanya komunikasi. Bagi keluarga jauh maka diusahakan ada komunikasi online atau bahkan bisa mendatanginya di moment-moment tertentu seperti momen hari raya.

  1. Masa Pendalaman

Dalam hal ini, seluruh keluarga bukan hanya mengenal, artinya disini mereka semua harus memahami karakter dan sifatnya masing-masing. Misal memahami si A suka marah, si B suka pendiam dll. Disini dengan adanya memahami diharapkan untuk bisa intropeksi diri sekaligus tidak mudah sembarangan mengatakan atau memutuskan sesuatu. Sehingga dengan adanya ini sekalipun terdapat masalah dapat diselesaikan dengan baik.

  1. Masa Perjalanan hingga akhir

Dalam masa ini sebuah keluarga harus terus berusaha saling memahami. Tidak boleh terpaku atau terobsesi dengan harta. Walau di masa ini masalah pasti ada, namun wajib diselesaikan dengan baik. Bahkan juga komunikasi jangan hanya melibatkan orang tua tetapi juga seluruh keluarga besar mulai anak-anak dan cucu. Sebab dengan adanya semuanya akan membuat semuanya paham dan tidak terputusnya keluarga karena tak ada komunikasi ataupula karena harta.

Oleh karena itu dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa harmonisasi keluarga sangatlah penting baik bagi keluarga inti dan keluarga besar. Tidak boleh di dalamnya ada saling menyalahkan atau meremehkan dan harus benar-benar dilakukan dengan baik. Sebab jika ada salah satu yang meremehkan maka pastinya semuanya akan runtuh dan berantakan. Jika ada masalah harus diselesaikan dengan baik. Komunikasi harus tetap ada dan tidak boleh terlalu terobsesi pada harta semata dan melupakan keluarga.

Bagikan:

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!