MUSIBAH SEBAGAI PERINGATAN ALLAH

Published by Ponpes Anwarul Huda on

Oleh : KH. M. Baidhowi Muslich

Kita umat islam dan bangsa indonesia umumnya tengah diperingatkan oleh Allah SWT dengan datangnya musibah yang silih berganti. Mulai dari musibah tsunami, gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang, kekeringan, kebakaran, banjir lumpur panas,, kecelakaan, berbagai macam penyakit. Semua itu memakan korban yang tidak sedikit: baik nyawa maupun harta benda.

                Berbagai musibah tersebut mengi-ngatkan kita kepada sejarah umat-umat terdahulu yang diabadikan dalam kitab suci Alquran :

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri” (al-ankabut: 40)

                Mereka itu disiksa oleh Allah SWT sebab dosanya:

  • Kaumnya nabi luth dosanya : homoseksual.
  • Ashabul qoryah dirubah wajahnya menjadi kera sebab melanggar aturan hari mulya
  • Kaumnya nabi sholih diadzab sebab tidak menerima kebenaran
  • Qarun dan teman-temannya ditengge-lamkan kedalam bumi sebab menentang dan menghina nabi musa AS
  • Kaumnya nabi syu’aib disiksa sebab curang dalam timbangan dan takaran.
  • Kaumnya nabi nuh ditenggelamkan dengan banjir tsunami pertama sebab menolak kebenaranm nabi Nuh.
  • Fir’aun dan segenap pasukannya tenggelam ke laut merah sebab fir’aun melawan nabi Musa.

Demikianlah sepanjang riwayat dalam kitab suci Alquran bahwa : umat-umat terdahulu itu diadzab sebab dosa-dosa mereka.

                Timbul suatu pertanyaan: apakah berbagai bencana yang melanda dimana-mana sekarang ini adalah adzab yang dise-babkan oleh dosa umat manusia ataukah sebagai bala’/musibah-musibah sebagai ujian kesabaran bagi orang-orang yang beriman? Tentu hanyalah Allah yang paling tahu jawabannya dan Allah ta’ala tidak bisa ditanya, melainkan umat manusia yang akan diusut dalam ayat berikut:

“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai” (Al-Anbiya’: 23)

                Oleh karenanya: sebaiknya kita harus mawas diri. Bukankah kita ini banyak dosa-dosa terhadap Allah: perintah-Nya banyak yang ditinggalkan dan larangan-larangan-Nya banyak yang dilanggar. Kemudian seharusnya bertaubat kepada Allah dengan menta’ati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

                Namun bisa juga segala bencana itu merupakan ujian iman, maka kita wajib sabar dan ridho atas apapun yang menjadi ketetapan Allah SWT.

                Bahwa Rosulullah SAW bersabda:

“Ketika Allah mencintai suatu kaum/bangsa maka Allah menguji mereka, maka jika mereka ridho terhadap ujian Allah maka Allah ridho terhadap mereka. Dan apabila mereka marah-marah maka Allah juga marah” (HR. Tirmidzi).

                Satu lagi yang harus menjadi perha-tian kita yaitu masalah kemiskinan, mengapa sulit diatasi? Bahkan semakin merajalela dan menimbulkan bahaya bagi bangsa yang telah merdeka puluhan tahun lamanya. Jawabannya bahwa diantara penyebab itu adalah belum terwujudnya pemerataan dalam menikmati pendapatan sebagai rizki dari Allah SWT sehingga semakin nampak bahwa: yang kaya semakin kaya menumpuk dunia harta sedangkan yang miskin kurang diperhatikan. Yang kaya tidak membayar zakat sedang yang miskin banyak yang nekat.

                Rosulullah SAW Bersabda:

“Orang-orang miskin itu tidak akan kelaparan atau telanjang kecuali disebabkan perilaku orang-orang kaya. Ketauhilah bahwa Allah SWT akan meng-Hisab mereka dengan hisab yang rumit kemudian menyiksa mereka dengan siksa yang pedih”. (HR. Thobroni).

Bagikan:

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.