MENGUJI HASIL PUASA RAMADAN

Published by Ponpes Anwarul Huda on

Oleh: KH. Muhammad Baidowi Muslich

Yang dicinta telah tiba, yang dikenang telah datang. Hari raya Idul Fitri telah berada di tengah-tengah kita. Alhamdulillah, kita panjatkan puji syukur kepada Allah Azza wa Jalla, Dzat yang menentukan kita dapat berhari raya di pagi fitri ini, sesudah sebulan lamanya kita menunaikan ibadah puasa ramadan.

Hari ini adalah hari kemenangan yang gilang-gemilang, kemenangan dari sebuah pertempuran yang maha dahsyat, yaitu pertempuran melawan hawa nafsu. Sejarah Islam telah mencatat bahwa dalam rangka penyebaran agama Islam pernah terjadi peperangan yang terkenal antar umat Islam di bawah panglima nabi kita Muhammad SAW dengan kaum kafir Quraisy, yaitu perang Badar. Sebuah peperangan yang akhirnya dimenangkan oleh umat Islam meskipun harus merelakan tujuh orang prajurit terbaiknya gugur sebagai syuhada, sementara di pihak kafir 70 orang pembesarnya tewas.

Dalam perjalanan pulang dari perang Badar itulah Rasulullah SAW berkata kepada pasukan beliau;

رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ

“Kita kembali dari jihad (peperangan) yang kecil menuju jihad yang lebih besar.”

Para sahabat bertanya, “Apa akan ada peperangan yang lebih hebat dari peperangan Badar Kubro ini?” Rasulullah SAW menjawab, “Ada, yaitu perang melawan hawa nafsu!”

Memang mengalahkan hawa nafsu jauh lebih sulit dan berat daripada mengalahkan sebarisan pasukan musuh bersenjata lengkap. Jenderal dan panglima perang yang tidak pernah dikalahkan dalam medan perang, ada yang harus terpaksa bertekuk lutut mengakui kehebatan nafsunya sendiri. Dia kalah berperang melawan hawa nafsunya.

Hawa nafsu yang senantiasa merongrong dan menghambat kita dalam tugas dan kewajiban pada agama, nusa dan bangsa. Hawa nafsu senantiasa ingin merusak hubungan yang suci antara makhluk dengan khalik, dan hubungan baik antara manusia dengan sesama makhluk. Karena hawa nafsulah dunia selalu ribut dan kacau. Karena nafsu, perang saudara selalu berkobar. Karena hawa nafsu, anak dan orang tua menjadi bermusuhan. Karena hawa nafsu, kawan menjadi lawan, kerukunan hidup dalam masyarakat menjadi berantakan, dan manusia menjadi pemalas. Karena hawa nafsu pula terjadi hasut-menghasut antara kawan sekerja. Hubungan suami istri tidak harmonis, pertengkaran antara tetangga tidak dapat dihindarkan. Karena hawa nafsu terjadinya korupsi, perampokan, pembunuhan, jegal-menjegal dan semua perbuatan merusak.

Sebagai mukmin kita sudah melaksanakan shalat sehari lima kali. Dari mukmin, mari kita tingkatkan diri kita menjadi muhsin (orang yang berbuat bagus), dari muhsin menjadi mukhlis (yang selalu berbuat dengan hati ikhlas), dari mukhlis kita tingkatkan lagi menjadi muttaqin, dengan iman sepenuh hati serta amal shaleh sampai dibawa mati.

Janganlah kita jatuh menurun dari muslim menjadi fasiq, dari fasiq menjadi ragu-ragu, dari ragu-ragu menjadi ingkar, dari ingkar menjadi kafir, dari kafir menjadi munafiq. Inilah yang paling celaka, tempatnya paling bawah dari neraka. Allah berfirman:

إِنَّ الْمُنَافِقِيْنَ فِي الدَّرْكِ الْأَصْفَلِ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya orang-orang  munafiq berada di dasar terbawah dari neraka.” (QS An-Nisa: 145)

 

Mulai hari ini, jiwa kita mengalami hidup baru, karena sudah bersih, sudah suci dari bermacam-macam dosa dan kesalahan, baik terhadap Allah maupun terhadap sesama manusia. Dosa kepada Allah telah kita tebus dengan puasa Ramadhan, sebagaimana disabdakan oleh Nabi SAW:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan hanya mencari ridha Allah, maka baginya diampuni dosa-dosa yang telah lalu.”

Sedang dosa terhadap sesama manusia, juga pada hari ini kita tebus dengan halal bihalal, saling memaafkan. Akan tetapi, janganlah sekali-kali merasa bahwa diri kita sudah bersih dari dosa dan selamat dari adzab Allah. Kita hanya patut bersyukur, alhamdulillah dan berdoa semoga keadaan seperti ini akan terus berlangsung selama hayat dikandung badan, di samping memang harus merasa masih banyak dosa-dosa dalam diri kita dan terus memohon maaf. Hanya orang-orang merugilah yang merasa dirinya sudah bersih, sudah suci, bebas dari siksa Allah padahal dia belum tahu tentang dirinya; apakah diterima amal ibadahnya apakah sudah diampuni dosanya?

Dalam surat al Araf ayat 99, Allah berfirman:

أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّٰهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللّٰهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُوْنَ

“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS Al-a’rof: 99)

Nabi kita pun pernah menyatakan, bahwa semua manusia ini punya salah:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

“Setiap anak Adam mempunyai kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” (H.R. Turmudzi dan Ibnu Majah).

Baginda rasul Muhammad SAW meskipun orang yang maksum, dijauhkan dari perbuatan jelek, tetapi beliau tidak pernah merasa bersih dan selamat dari kesalahan. Beliau lebih banyak bertaubat daripada kita yang banyak dosa ini. Beliau pernah memberi peringatan, supaya kita tidak lengah:

Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah. Dan mintalah ampunan kepada-Nya. Maka sesungguhnya dalam sehari aku bertaubat 100 kali. (H.R. Muslim).

Di samping dosa-dosa kepada Allah, janganlah dianggap remeh dosa dan kesalahan terhadap manusia sedikitpun. Syukurlah kalau kita bisa berbuat baik kepada orang lain. Tetapi kalau tidak bisa, maka janganlah kita berbuat jelek dan merugikan orang lain. Shalat dan puasa yang disertai dengan menyakiti dan aniaya terhadap orang lain, tidak akan ada artinya di sisi Allah.

Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah:

Sesungguhnya Fulan itu memperbanyak shalat, puasa dan shadaqah. Tetapi dia sering menyakiti tetangganya dengan ucapan-ucapannya.

Maka Nabi menjawab:

هِيَ فِي النَّارِ

Dia akan berada di neraka. (H.R. Muslim)

Selain itu, seorang ahli ibadah yang memiliki banyak dosa kepada sesamanya, maka di akhirat menurut Nabi, dia akan menderita. Sebab pahala ibadah yang dilakukan di dunia akan diambil oleh orang-orang yang pernah disakiti dan dia rugi di dunia.  Apabila pahala-pahala itu habis terkurangi, maka dosa semua orang yang pernah disakitinya itulah yang akan dipikulkan kepada orang yang celaka ini.

Marilah kita mencoba merenung untuk kemudian kita berbuat. Berbahagialah orang yang mau mendengarkan perkataan, kemudian mengikuti hal-hal yang paling baik. Firman Allah SWT:

اَلَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِيْنَ هَدَاهُمُ اللهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُوْا الْأَلْبَابِ

“Mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya, maka merekalah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka adalah orang-orang yang mempunyai akal.” (Az Zumar: 18)

Bagikan:

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.