Oleh :

Mohammad Fauzan Ni’ami

Sebagai muslim yang takwa sudah sepatutnya kita imtistalu awamirillah wajtinabu nawahih sirron wa ‘ala niah. Yakni mengerjakan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarangnya baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Ketika kita hendak melakukan hal tersebut pastilah kita membutuhkan suatu roda untuk menggerakanya, seperti halnya kendaraan. Karena rodalah komponen terpenting untuk melancarkan jalanya suatu kendaraan. Roda disini adalah moralitas dan intelektualitas.

Moral lebih kita kenal dengan budi pekerti yang baik atau juga attitude, dalam islam lebih kita kenal kenal dengan kata akhlak. Hakikatnya akhlak adalah implementasi dari kepribadian dalam diri kita. Jika diri kita baik maka baik pula akhlak kita, dan sebaliknya. Akhlaklah juga yang membuat kita semakin digandrungi oleh kerabat dekat. Tidak heran ketika zaman rasulullah Muhammad Saw. banyak orang-orang yang masuk islam karena melihat moral rasulullah. Bahkan mereka mengatakan wajah Muhammad saw. bukanlah wajah pembohong maka apa yang disampaikan sudah pastinya benar. Mereka mengatakan: “ini bukanlah wajah pembohong”

Perlakuan rasulullah kepada sesama makhluk sudah mencapai derajat yang sangat tinggi. Beliau selalu mengulurkan tangan pada orang yang membutuhkan, senyum ramah yang selalu terurai dari bibir indahnya, jika diajak berdialog beliau selalu memperhatikan, kalimat yang keluar dari lisanya tersusun rapi dan halus serta tidak menyinggung perasaan. Hal demikianlah yang menjadikan orang yang notabenya non Islam tertarik dengan ajaran yang dibawakan Rasul dan pada akhirnya memeluk ajaranya.

Akhlak atau moral merupakan salah satu konsideran pengangkatan nabi Muhammad saw. sebagai utusan Allah. Karena akhlak beliau berada di puncak akhlaknya para makhluk seluruhnya. Hal ini dapat kita ketahui dalam firman Allah QS. al-Qalam 1-5 yang berbunyi:

Artinya: “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis (1) berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila (2) Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya (3) Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung (4) Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat (5)”

Bukti aqliyahnya yaitu adakah utusan Allah yang tidak mempunyai akhlakul karimah? Semenjak nabi adam diangkat menjadi nabi sampai khotamun nabiyyin yaitu nabi Muhammad saw. semua mempunyai akhlak yang sangat luhur. Contohnya saja nabi musa, sebelum diangkat menjadi rasul, beliau dahulu mengabdi kepada nabi Syuaib atas usul anaknya yang bernama Shafura. Dia menjalaskan bahwa tidak ada lelaki yang cekatan daripada beliau dan tidak ada laki-laki yang lebih amanah selainya. Pada akhirnya nabi Syuaib menikahkan anaknya Shafura kepada nabi Musa. Contoh lainya yaitu gelar al-Amin yang disandarkan kepada Muhammad saw. jauh sebelum beliau menjadi Rasul, salah satu faktornya adalah kepribadian beliau yang sangat jujur dan amanah, terlebih dalam hal muamalah. Beliau selalu menjelaskan barang yang diperdagangkan, kelebihan serta kecacatan pada mabii’ beliau jelaskan secara detail. Dan apabila seseorang menitipkan barang pada Rasul pastilah beliau merawat dan menjaganya. Sekelumit bukti itulah yang menandakan bahwa akhlak yang baik merupakan salah satu konsideran pengangkatan utusan allah.

Memperkaya moral sudah menjadi legitimasi hidup bagi setiap muslim, karena itulah ajaran yang selalu dibawakan oleh para nabi-nabi terdahulu. Sebagai warasatul anbiya’ ulama-ulama kita selalu mencontohkan dan selalu mewanti-wanti kepada kita untuk selalu mejaga estetika moral, yang meliputi gestur tubuh (bersalaman, menundukan kepala, dll) serta mimik muka (wajah ceria, senyum). Bukankah kita selalu diingatkan oleh ulama kita bahwa senyum saja, dan memasang wajah yang ramah merupakan suatu anjuran bagi kita. Bahkan sahabat Jarir bin Abdillah mengatakan:

“Rasulullah tidak pernah melihatku sejak aku masuk islam, kecuali beliau tersenyum ke wajahku”

 Setidaknya, jika kita tidak bisa meniru akhlak rasul dengan gestur tubuh, kita bisa mengimplemetasikan akhlak rasul kepada antar sesama dengan mimik muka yang ceria. Seperti apa yang telah rasul lakukan kepada para sahabat. Bukankah kerap sekali kita diingatkan untuk selalu tersenyum dalam situasi apapaun pada lantunan bait syair yang masyhur kita dengar? Seperti syairصَلِّ عَلَى النَّبِيْ وِتَّبَسَّمْ, دَا النَّبِيْ تَبَسَّمْ  وِتَّبَسَّم ْ Sholawatlah kepada nabi dan tersenyumlah, karena nabi selalu tersenyum dan tersenyum”.

Oleh sebab itu, sudah seyogyanya seseorang menghiasi diri dengan perangai akhlak yang bagus dan halus selalu melatih dan memotivasi diri sendiri untuk memperkaya moral, entah dengan cara apapun itu, bisa dengan melihat habit ulama-ulama atau masyarakat sekitar, mendengarkan wejangan-wejangan­ kyai atau mubalig, atau membaca kisah-kisah teladan, bahkan mendengarkan syair-syair yang sering kita dengarkan. Karena pada hakikatnya semakin luhur akhlak seseorang maka akan semakin mantap kebahagiaan dalam dirinya.

Tidak hanya kaya moral saja, seorang muslim juga terkena khitob tholabu ilmu faridhotun ‘ala kulli muslimin sebagaimana yang tercatut dalam hadis rasul, dan juga khitob afalaa tatafakkarun dan afalaa tatadzakkarun dalam nash al-Qur’an. Akal merupakan suatu anugerah yang Allah berikan kepada setiap manusia, seorang sufi besar yang bernama Harits bin Asad al-Muhasiby berkata: “Akal adalah insting yang diciptakan Allah swt. Pada banyak makhluk-Nya yang (hakikatnya) tidak terjangkau oleh hamba-hamba-Nya, yang (hakikatnya) tidak terjangkau oleh hamba-hamba-Nya, baik melalui (pengajaran) sebagian terhadap sebagian yang lain maupun secara berdiri sendiri. Mereka semua tidak dapat menjangkaunya dengan pandangan, indra, dan rasa”. [1]

Salah satu ulama yang masyhur yaitu Imam al-Ghazali mengingatkan kepada kita bahwa kata akal mempunyai banyak makna, setidaknya mempunyai 4 pengertian. Pertama mempunyai makna suatu potensi yang dapat membedakan manusia dari binatang dan yang menjadikan manusia mampu menerima berbagai pengetahuan teoritis. Kedua bermakna suatu pengetahuan yang dicerna oleh seorang. Ketiga yaitu pengetahuan yang diperoleh seseorang yang berdasar pengalaman yang dilaluinya. Keempat, akal merupakan kekuatan insting yang menjadikan seseorang mengetahui dampak semua persoalan yang dihadapinya.[2]

Sedangkan menurut Quraish Shihab yang dinamakan akal adalah daya pikir yang bila digunakan dapat mengantarkan seseorang untuk mengerti dan memahami persoalan yang dipkirkanya.[3] Pada akhirnya bisa dimengerti makna akal secara terminologi adalah suatu daya pikir untuk memahami, melakukan suatu persoalan demi mencapai tujuan yang diinginkan.

Dalam Islam akal memiliki kedudukan yang sangat mulia, tidak heran jika Allah swt. mengingatkan kepada dengan bunyi ayat afala tatafakkarun “Apakah kamu tidak memikirkanya?”. Secara implisit ayat ini menuntut kita untuk menjadi pribadi yang berintlektual, salah satu caranya dengan selalu bertafakkur dengan melihat realitas serta tadabbur ayat-ayat kekuasaan Allah.

Islam juga merupakan agama yang mengedepankan aspek rasionalitas dan juga merupakan agama rasional. Bukankah Rasulullah saw. bersabda:

 “Agama  adalah akal, dan tidak ada beragama bagi siapa yang tidak memiliki akal

Kalau kita telisik lebih dalam, ajaran-ajaran Islam dapat dijangkau dan dapat dipahami oleh nalar manusia, hal seperti inilah yang perlu kita cerna. Perlu kita diluruskan, bahwa maksudnya Islam agama rasional disini adalah karena Islam memiliki pembenaran rasional yang argumentatif atas aturanya dan juga dasar hujjah yang dibangun dapat dibuktikan secara rasional.

Misalnya, melalui teks al-Qur’an maupun hadis Islam mengharamkan khamr, karena didalamnya mengandung zat yang memabukan dan menghilangkan kesadaran, sedangkan Islam merupakan agama yang menjaga kemaslahatan pribadi dan umum. Hal ini diperkuat oleh ­science (ilmu pengetahuan), Berdasarkan Kementerian Kesehatan RI, NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Aditif lainnya) dipahami sebagai zat yang mempengaruhi sistem tubuh terutama sistem saraf pusat sehingga menyebabkan gangguan fisik, psikis, dan fungsi sosial. Dalam hal ini narkoba, minuman beralkohol, maupun non-obat seperti ganja berdampak menghilangkan kesadaran dan akal, sehingga masuk kriteria iskar. Secara mekanisme kerja tubuh, hal-hal memabukkan dan mengganggu kesadaran pada NAPZA mempunyai dampak adiksi atau kecanduan.[4]

Melalui contoh tersebut, dapat dipahami bahwa akal adalah dasar memahami suatu teks (naql) melalui berpikir, andai kata tanpa akal, kenabian dan syariat tidak dapat dipahami, seperti itulah ungkapan yang diutarakan oleh Syekh Yusuf Qordhawi.[5] Tetapi yang patut digaris bawahi akal bukanlah penentu segalanya, akal memiliki kemampuan dan kapasitas yang terbatas. Ia tetap membutuhkan bimbingan dari teks wahyu agar tidak tersesat. Justru dengan keterbatasan itulah yang menjadikan akal manusia menjadi mulia.

Dengan demikian, akal merupakan sarana seseorang untuk berfikir, jikalau seseorang tidak mempunyai akal “tidak mempergunakan akalnya dengan baik” maka seseorang tersebut bisa dikatakan wong ora waras, begitupun sebaliknya. Berpikir merupakan suatu proses menggunakan akal untuk mempertimbangkan atau memutuskan sesuatu, sehingga dengan berpikir seseorang akan menemukan suatu pengetahuan. Suatu pengetahuan tidak akan muncul apabila seseorang tidak mempergunakan akalnya, dikarenakan pengetahuan dapat diperoleh manusia melalui pengamatan akal.

Ketika seseorang telah memiliki atau menemukan pengetahuan dengan akalnya, maka ia akan selalu berusaha berpikir dan menggali untuk menemukan suatu kebenaran. Pada akhirnya munculah produk namanya ilmu yang timbul akibat logika-logika rasional yang tersusun rapi dan sistematis melalui jalan kerangka berpikir. Semakin tinggi seorang tersebut mengarungi samudra ilmu, maka semakin banyak pengetahuan-pengetahuan yang ia peroleh, terlebih mengenai persoalan agama. Apalagi pada dewasa ini, banyak persoalan-persoalan yang tidak terdapat dalam teks wahyu. Atas dasar tersebut upaya memperkaya intelektual dan dengan pemikiran yang inklusif sangatlah dibutuhkan demi kemaslahatan bersama.

Pada akhirnya, untuk menggapai takwa tidaklah cukup hanya mengarungi dan memperkaya aspek spiritual saja, melainkan aspek moralitas dan intelektualitas juga turut andil untuk merupakan pendorong dan penopang menjadi hamba-hamba yang saleh dan bertawa. Moralitas yang tinggi merupakan tanda dari kesempurnaan pribadi dan kebahagiaan seseorang. Sedangkan Intelektual yang ditopang oleh akal menjadikan seorang selalu bertafakkur dan bertadabur dengan apa yang telah Allah beri dan ciptakan, tentang perbuatan-perbuatan yang harus ditinggalkan atau dikerjakan, sehingga menjadikan orang tersebut mencapai derajat tafaqquh. Kedua hal ini saling berinterelasi, orang yang berakal membutuhkan akhlak dan orang yang berakhlak membutuhkan akal, sebagaimana tumbuhan membutuhkan air. Inilah  hal yang dapat mendekatkan kita kepada Allah, yaitu dengan menggapai takwa dengan kaya moral dan intelektual.

 

 

[1] Quraish Shihab, Logika Agama, (Tanggerang: Lentera Hati), 50

[2] Quraish Shihab, Logika Agama, 51

[3] Quraish Shihab, Logika Agama, 52

[4] Muhammad Iqbal Syauqi, Mengapa Barang yang Memabukan Itu Diharamkan?, https://islam.nu.or.id/post/read/115221/mengapa-barang-yang-memabukkan-itu-diharamkan-, Diakses pada tanggal 15 Juni 2020

[5] Huseein Muhammad, Dialog dengan Kiai Ali Yafie, (Yogyakarta: IRCiSoD. 2020), 76

Bagikan:

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!