Maulid Nabi Muhammad Saw

Published by Ponpes Anwarul Huda on

KH. M. Baidhowi Muslich

            Perlu diketahui bahwa, salah satu dari pada perintah Allah yaitu cepat-cepat menuju kebahagiaan, memelihara ibadah dan mudawwamah (terus-menerus) dalam taat kepada Allah. sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur’an al-karim:

“Dan bersegeralah kamu mencari ampu-nan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Imran:133)

Sebagaimana kita yakini kebena-rannya bahwa junjungan kita nabi besar Muhammad saw adalah seorang yang dipi-lih Allah sebagai nabi dan rasulnya yang terakhir. sebagaimana firman Allah:

“Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Ahzab:40)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

“Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua, Yang Memiliki kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Menghidupkan dan Memati-kan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, (yaitu) Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia, agar kamu mendapat petunjuk.” (Al-A’raaf:158)

Setelah nabi Muhammad saw Allah tidak menurunkan akan mengutus lagi se-orang nabi lain yang membawa syariat baru. itu artinya syariat yang dibawa oleh nabi kita ini berlaku sepanjang zaman sam-pai hari kiamat nanti.

kita yakini pula bahwa nabi Muha-mmad saw diutus untuk semua umat  manu-sia, bukan hanya untuk bangsa arab. Allah swt menegaskan dalam Al-Qur’an:

“Katakanlah, “Perlihatkanlah kepadaku sembahan-sembahan yang kamu hubung-kan dengan Dia sebagai sekutu-sekutu (-Nya), tidak mungkin! Sebenarnya Dia-lah Allah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”(As-Saba’:28)

Dengan demikian berarti bahwa sebenarnya syariat islam ini dimaksudkan untuk semua umat manusia,tanpa mengenal batas-batas waktu dan tempat sampai akhir jaman. adapun maksud utama dari pada islam ini di syariatkan kepada manusia, tidak lain adalah untuk kepentingan umat manusia itu sendiri, agar mendapatkan kebahagian hidup yang abadi mulai dari hidup di dunia ini sampai di akhirat nanti.

Oleh karena itu perjuangan nabi Muhammad saw dalam menyebarkan benih-benih hidayah islam kepada umat manusia ini, harus dilanjutkan dan di lestarikan oleh umatnya. adapun hal-hal yang harus di lakukan dalam dakwah itu ialah:

  • Meluruskan I’tiqod

Banyak kepercayaan yang timbul dan lenyap sepanjang zaman. banyak keyakinan yang telah  dipegang kemudian ditinggalkan orang. dan banyak fisafat yang digali dan dikembangkan, namun akhirnya lenyap di lupakan karena perkembangan pengetahuan.

Banyak jalan yang boleh ditempuh, banyak cara yang boleh di lakukan, tetapi sendi-sendi iman atau rukun iman yang 6 tidak boleh kendor. pada zaman sekarang masih ada orang-orang yang kurang menya-kini akan kebesaran tuhan dengan alasan tuhan tidak tampak oleh mata. mereka mengi-nginkan tuhan untuk bisa dilihat,sehingga mereka mempertu-hankan bentuk-bentuk dengan harta kekayaan, sebagai kemauan hawa nafsunya. Allah menceritakan orang-orang yahudi yang yakin melihat tuhan

“Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, “Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas,” maka halilintar menyambar-mu, sedang kamu menyak-sikan.” (Q.S.Al-Baqoroh:55)

  • Meneruskan Amal

Banyak orang yang tidak beramal, mungkin mereka belum mengetahui bahwa amal itu akan bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain. amal merupakan syarat untuk mendapatkan kebahagiaan, disamping iman.

  • Akhlaqul Karimah (membersihkan jiwa)

Amal-amal lahiriyah yang sudah banyak dan manfaat itu banyak yang rusak disebabkan penyakit-penyakit kejiwaan seperti sombong, riya’, sum’ah(popularitas), ujub (berbangga diri) dan sebagainya. islam menganjurkan agar orang-orang berakhlak mulia, sebagaimana yang dijelaskan oleh nabi kita Muhammad saw.

  • Mengukuhkan Kepribadian

Islam mengajarkan agar kepribadian seseorang berpola agama, sehingga semua aktivitas hidupnya itu di warnai dengan nafas agama islam. memang islam tidak mengenal pemisahan antara urusan keagamaan dengan urusan keduniaan. demikian pernyataan Allah dalam Al-Qur’an:

“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguh-nya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam” (Al-An’Am:162)

  • Mengukuhkan Persaudaraan

Islam mengajarkan persaudaraan, sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berseli-sih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujarat:10)

semoga kita tergolong orang-orang yang tetap beriman dan beramal sholeh. bahagia di dunia maupun di akhirat. Amiin


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *