Pondok Pesantren Anwarul Huda

Lembaga Ibadurrahman

Oleh: Rozi Yahya

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir,” (QS. az-Zumar: 42).

                Pernahkah kita mengalami mati? Yang pasti kita semua pernah mengalaminya. Namun hanya sedikit dari kita yang mengetahui dan mengambil pelajaran terhadap kejadian tersebut. Ya, tidur merupakan kematian kecil bagi segenap umat manusia. Setiap kali akan tidur, Rasulullah saw. menuntunkan kepada kita agar membaca doa, “Bismika allahumma ahya wa amut.” Kita diajari bahwa tidur sesungguhnya hampir sama dengan kematian. Kita meninggalkan dunia tempat kita tinggal. Kenikmatan yang ada di sekeliling kita, tak lagi kita rasakan saat mata kita telah terpejam dan ruh berada dalam genggaman Allah ‘Azza wa Jalla. Orang-orang tercinta yang barangkali ketika itu ada di dekat kita, tidak kita rasakan kehadirannya lagi karena ruh kita sedang terpisah dari jasadnya, meski nyawa tetap melekat dan badan tetap bernapas.

                Setiap kali tidur, Rasulullah saw. mengajarkan kita membaca doa yang mengingatkan bahwa hidup dan mati kita semata-mata ada karena Allah. Atau semestinya kita menjalani hidup ini dengan, untuk, dan karena Allah swt. Kita tak punya apa-apa. Bahkan diri kita pun bukan punya kita. Maka, alangkah sombongnya kita kalau karena sedikit kekayaan yang diberikan oleh Allah kepada kita, lantas kita lupa dan terlena. Padahal sebesar-besarnya kekayaan di dunia ini, tidak ada nilainya dibandingkan sedikit kenikmatan di akhirat. semata-mata ada karena Allah. Atau semestinya kita menjalani hidup ini dengan, untuk, dan karena Allah swt. Kita tak punya apa-apa. Bahkan diri kita pun bukan punya kita. Maka, alangkah sombongnya kita kalau karena sedikit kekayaan yang diberikan oleh Allah kepada kita, lantas kita lupa dan terlena. Padahal sebesar-besarnya kekayaan di dunia ini, tidak ada nilainya dibandingkan sedikit kenikmatan di akhirat.

                Teringat dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat at-Takatsur. Dalam surat ini, Allah Ta’ala mengingatkan kita, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. Kemudian kamu pasti ditanya pada hari itu tentang kenikmatan,” (Q.S. at-Takatsur [102]:1-8).

                Kadang kita ingat kepada Allah ketika tubuh kita layu, badan kita kehilangan kekuatan, dan perut kita perih menahan lapar. Tetapi, ketika telah ada sedikit kekuatan, kita mulai lupa bahwa tidak ada kekuatan, tidak ada upaya yang sanggup kita kerjakan, kecuali semata-mata karena Allah. Di saat sekedar berdiri saja kaki kita sudah gemetar karena menahan lapar, kita tak habis-habis membaca atau menyebut Allah. Kita ingat seluruh dosa-dosa kita, seraya menginsyafi  bahwa kesulitan itu datang boleh jadi karena dosa kita. Tetapi begitu mulai punya sedikit kekuatan, dunia seisinya seakan-akan hendak kita telan. Awalnya memohon kepada Allah, kini merasa bahwa kekuatan kita hampir tidak mungkin ada yang dapat mengenyahkannya.

                Astaghfirullah….. Alangkah seringnya kita lupa, alangkah mudahnya kita lalai. Kalau saja Allah tidak menolong kita, maka tak ada yang kita dapatkan dari hidup ini kecuali kebinasaan.

                Mengingat tidur adalah mati kecil, maka teringat dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat al-An’am ayat 61-62 disebutkan: “Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah lah kamu kembali. Lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.”

                Dari dua ayat tersebut di atas, Allah menyebutkan kata wafat dua kali, yakni pada kata “yatawaffakum” yang diartikan sebagai kata ‘menidurkan’ pada ayat di atas, juga pada kata “tawaffathu” yang berarti ‘diwafatkan’.

                Hal ini adalah tentang dua macam wafat, yakni wafat sementara dan wafat selamanya. Hal ini dijelaskan dalam ayat az-Zumar ayat 42, “maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan.”

                Karena itulah, ketika kita tidur, menurut sunnah dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tempat tidurnya, kemudian kembali lagi, hendaklah ia mengibas-ngibaskan kainnya tiga kali (sebelum tidur pada tempat tidurnya). Sesungguhnya ia tidak mengetahui apa yang terjadi saat ia meninggalkannya.

                Dan apabila berbaring, hendaklah ia membaca, “Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, Rabb-ku, aku meletakkan lambungku (tidur), dan dengan-Mu pula aku mengangkatnya (bangun).

                Apabila Engkau menahan diriku (mati), sayangilah aku. Namun bila Engkau melepaskannya (hidup), peliharalah ia sebagaimana Engkau telah pelihara dengannya hamba-hambaMu yang shalih”.

(mati), sayangilah aku. Namun bila Engkau melepaskannya (hidup), peliharalah ia sebagaimana Engkau telah pelihara dengannya hamba-hambaMu yang shalih”.

                Jadi apabila kita hendak tidur berwudhu’ lah dan bacalah do’a agar terhindar dari segala macam bahaya dan penyakit. mengingat itu semua, rasanya kita perlu lebih sering mengingat mati. Rasulullah saw. sesungguhnya sudah menuntun kita doa sekaligus mengingatkan tentang kematian, sebelum dan sesudah tidur. Sesudah bangun, Rasulullah Saw mengajarkan kita doa,” Alhamdulillah, alladzhii ahyana ba’da ma amatana wa ilaihinnusyur.”

                Sesungguhnya. Segala puji bagi-Mu, ya Allah, yang telah menghidupkan kembali diriku setelah kematianku, dan hanya kepada-Mu kelak kami semua akan berpulang.

                Di dalam doa bangun tidur ini, ada beberapa simpul yang andaikan kita renungkan setiap saat akan membangkitkan kekuatan dan memberi makna pada hidup kita. Dalam doa ini terkandung ras syukur atas hidup yang dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’ala sesudah kita mati beberapa saat. Maka hendaknya, kehidupan yang dipinjamkan kembali oleh Allah kepada kita, benar-benar dapat mengantarkan kita pada kematian yang mulai. Tak ada yang lebih indah dari seorang mukmin, kecuali kematian baik. Husnul Khotimah. Jikalau Allah karuniakan kematian yang baik, lebih-lebih mati syahid, maka segala kemegahan kubur tak kita perlukan. Tidak perlu yang bersusun, tidak pula bangunan yang megah berukir indah. Sebab, Indahnya kematian terletak pada kesempurnaan amal yang di ridhai Allah swt.

                Wallahu a’lam bishawab. Semoga Allah mengampuni dosa kita, keluarga kita, guru-guru kita, anak-anak kita dan keturunan kita seluruhnya. Aamiin.

Mutiara Hadist

                Nabi Muhammad Saw bersabda, “Diam adalah tingkatan ibadah yang paling tinggi,” (HR. ad-Dailami dari Abu Hurairah ra). Yang dimaksud dengan diam di sini adalah tidak mengucapkan sesuatu, kecuali untuk sesuatu yang bermanfaat bagi agama dan dunia, dan juga tidak pernah membantah orang yang menentang. Diam dianggap sebagai ibadah tingkat tinggi, karena sebagian besar kesalahan (perbuatan dosa) itu diakibatkan oleh lisan. Akan tetapi, jika orang itu hidup hanya sendirian, maka diamnya itu tidak dianggap sebagai ibadah.

                Kemudian sabda Nabi Muhammad Saw yang diriwayatkan oleh ad-Dailami dari Anas, “Diam adalah pemimpin akhlak.” Diam dari perkara yang tidak ada pahalanya merupakan pemimpin akhlak yang mulia, karena dapat menyelamatkan pelakunya dari perbuatan ghibah dan lain sebagainya. Adapun memperbanyak amalan yang dapat mendatangkan pahala, seperti dzikr, membaca al-Quran dan ilmu itu adalah lebih utama dari pada diam.

                Sabda Nabi Muhammad Saw yang diriwayatkan oleh al-Qadha’i dari Anas dan ad-Dailami dari Ibnu Umar sebagai berikut, “Diam adalah hikmah, tapi sedikit sekali orang yang melakukannya.” Diam adalah hikmah dan tidak banyak orang yang mau melakukannya, karena ketidaktahuan mereka. Jarang sekali orang-orang yang mau berdiam diri dari membicarakan hal-hal yang justru menghancurkan dirinya sendiri. ad-Dailami dari Ibnu Umar sebagai berikut, “Diam adalah hikmah, tapi sedikit sekali orang yang melakukannya.” Diam adalah hikmah dan tidak banyak orang yang mau melakukannya, karena ketidaktahuan mereka. Jarang sekali orang-orang yang mau berdiam diri dari membicarakan hal-hal yang justru menghancurkan dirinya sendiri.

Bagikan:

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Might Also Like

error: Content is protected !!