KEUTAMAAN BULAN SYA’BAN

Published by Ponpes Anwarul Huda on

Oleh: Imdad Rabbani

 

Dari Aisyah ra, istri Nabi saw, dia bercerita :

“Rasulullah saw. pernah berpuasa sehingga kami katakan beliau tidak berbuka dan beliau berbuka sehingga kami katakan beliau tidak berpuasa dan aku tidak pernah melihat Rasulullah saw. menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadhan. Dan aku juga tidak pernah melihat beliau berpuasa dalam suatu bulan yang lebih banyak dibanding pada bulan Sya’ban.”

“Wahai Rasulullah saw, mengapa engkau berpuasa pada bulan Sya’ban ?” beliau menjawab, “Wahai Aisyah, Sya’ban adalah bulan ketika malaikat maut menandai nama orang yang dicabut nyawanya pada waktu yang tersisa ditahun itu dan aku ingin namaku ditandai saat aku dalam keadaan puasa.”

Kata Sya’ban terdiri dari lima huruf : syin yang berarti asy-syaraf (kemuliaan), ‘ain yang berarti al-‘uluww (tinggi), ba’ yang berarti al-birr (kebajikan), alif yang berarti al-ulfah (kelembutan) dan nun yang berarti an-nur (cahaya). Hal itu merupakan karunia yang diberikan Allah swt. kepada seluruh hamba-Nya. Sya’ban merupakan bulan yang didalamnya semua pintu kebaikan terbuka, berbagai berkah turun, berbagai kesalahan diabaikan dan berbagai kejahatan dihapuskan. Pada bulan itu juga diperbanyak shalawat kepada Nabi saw. Karena ia merupakan bulan Nabi saw.

Dari Aisyah ra. menceritakan bahwa Rasulullah saw, pernah bertanya kepadanya, “Wahai Aisyah, malam apa ini?” Aisyah menjawab, “Allah swt. dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau berkata, “Malam pertengahan Sya’ban. Pada saat itu pula Allah swt. memberi perlindungan dari api neraka. Apakah kamu mengizinkanku pada malam ini ?” “ya,” jawab Aisyah. Maka beliau mengerjakan shalat dengan membaca surah Al-Fatihah dan surah Al-Qur’an lainnya yang ringan. Lalu bersujud sampai pertengahan malam. Kemudian beliau bangun untuk rakaat kedua dan membaca seperti rakaat pertama, kemudian bersujud sampai waktu shubuh. ‘Aisyah berkata, “Melihat hal itu, aku menyangka Allah swt. telah mencabut nyawa beliau. Setelah beberapa lama aku mendekat, lalu aku menyentuh kedua kakinya yang kempis. Beliau bergerak dan aku mendengar beliau mengucapkan dalam sujud, “Aku berlindung pada ampunan-Mu dari siksa-Mu, aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari murka-Mu, aku berlindung kepada-Mu dari azab-Mu. Pujian-Mu sangat Agung, aku tidak dapat menghitung pujian atas diri-Mu, Engkau seperti Engkau memuji diri-Mu sendiri.” Kutanyakan, “Wahai Rasulullah, aku telah mendengar engkau mengucapkan sesuatu dalam sujudmu malam ini yang belum pernah aku dengar sebelumnya.” Rasulullah saw. Bertanya, “apakah kamu mengetahuinya ?” “Ya, “Jawab Aisyah. Rasulullah saw bersabda, “Pelajari dan ajarkan do’a itu, karena sesungguhnya Jibril as. telah menyuruhku untuk mengucapkannya dalam sujudku.”

Dari Aisyah ra. dia bercerita : pada suatu malam aku pernah kehilangan Rasulullah saw, lalu aku keluar rumah dan ternyata beliau berada di Baqi’ sedang mengadahkan kepada ke langit, lalu beliau berkata kepadaku, “Apakah kamu khawatir jika Allah swt. akan menganiayamu sedang Rasul-Nya ada dihadapanmu ?” aku menjawab, “Wahai Rasulullah, aku kira engkau mengunjungi istrimu yang lain.” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah swt. turun ke langit dunia pada malam pertengahan bulan Sya’ban, lalu memberi ampunan kepada orang yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah bulu biri-biri.”

Abu Nashr memberitahuku, dari Malik bin Anas, dari Hisyam bin Urwah, dari Aisyah ra, dia bercerita, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Allah swt. mengalirkan kebaikan pada empat malam, yaitu : malam Idul Adha, malam Idul Fitri, malam pertengahan (nisfu) Sya’ban, pada malam itu Allah swt. menandai ajal dan rezeki serta menetapkan orang yang akan berangkat haji dan malam Arafah sampai waktu azan.”

Ada yang berpendapat bahwa malam itu disebut malam bara’ah (pembebasan), karena pada malam itu ada dua pembebasan. Pertama, pembebasan orang-orang yang sengsara dari Allah swt, Tuhan Yang Maha Penyayang; kedua, pembebasan para wali dari orang-orang yang hina dina. Para malaikat mempunyai dua malam raya di langit, sebagaimana kaum Muslim mempunyai hari raya di bumi. Malam raya para malaikat adalam malam bara’ah dan malam Lailatul Qadar. Sedangkan hari raya orang-orang yang beriman adalah hari Idul Fitri dan Idul Adha. Hari raya para malaikat berlangsung pada malam hari karena mereka tidak tidur, sedangkan hari raya orang-orang Mukmin berlangsung pada siang hari karena mereka tidur di malam hari.

Hikmah ditampakannya malam bara’ah dan malam Lailatul Qadar disembunyikan adalah karena malam Lailatul Qadar merupakan malam penuh rahmat, pengampunan dan pembebasan dari api neraka. Malam itu disembunyikan Allah swt. agar mereka tidak membicarakannya. Dan Allah swt. memperlihatkan malam bara’ah, karena malam itu merupakan malam pemberian keputusan. Malam itu merupakan malam kemurkaan dan keridhaan, malam pengabulan dan penolakan, malam kebahagiaan dan kesengsaraan, malam kemuliaan dan kehinaan. Pada malam itu ada orang yang bahagia dan ada pula yang sengsara, ada yang dimuliakan ada pula yang dihinakan. Berapa banyak kain kafan yang dicuci sedang pemakainya masih terus sibuk di pasar. Berapa banyak kuburan yang sudah digali sedang pemiliknya masih terus tertawa padahal mereka sudah dekat dengan kebinasaan. Berapa banyak orang yang berharap syurga tetapi yang tampak padanya adalah petunjuk ke nereka. Berapa banyak orang yang mengharapkan pemberian tetapi memperoleh musibah. Dan berapa banyak orang yang mengharapkan kekuasaan, tetapi justru dia mendapatkan kebinasaan.

baca juga : Sya’ban bukan bulan biasa

Sabda Nabi saw: “Tahukah kamu sekalian, mengapa dinamakan bulan Sya’ban ? mereka menjawab : Allah swt. dan Rasul-Nya yang mengetahui, beliau bersabda, “Karena didalam bulan ini bercabanglah kebaikan yang banyak sekali ( Raudhatul ‘Ulama ). Oleh karena itu diterangkan: “Bulan Rajab kesempatan membersihkan badan, bulan Sya’ban kesempatan membersihkan hati dan bulan Ramadhan kesempatan mensucikan jiwa.

Maka sesungguhnya orang yang membersihkan badannya dibulan Rajab, seharusnya dia membersihkan hatinya dibulan Sya’ban dan barang siapa yang membersihkan hatinya dibulan Sya’ban juga seharusnya membersihkan jiwanya dibulan Ramadhan. Maka kalau tidak membersihkan badanya dibulan Rajab dan tidak membersihkan hatinya dibulan Sya’ban kemudian kapan / bagaimana dia bisa membersihkan jiwa dibulan Ramadhan ?

Diceritakan dari Muhammad bin Abdullah Az Zaahidiy bahwa dia berkata : “Kawan saya Abu Hafshin Al-Kabiir telah meninggal dunia, maka saya juga menshalati jenazahnya dan saya tidak mengunjungi kuburnya selama delapan bulan. Kemudian saya bermaksud akan menengok kuburnya, ketika saya tidur dimalam hari saya bermimpi melihatnya dia sudah berubah mukanya menjadi pucat, maka saya bersalam kepadanya dan dia tidak membalasnya. Kemudian saya berkata / bertanya kepadanya, “Subhaanallah / Maha Suci Allah, mengapa engkau tidak membalas salam saya ?” dia menjawab, “membalas salam adalah ibadah, sedang kami sekalian telah terputus dari ibadah.” Kata saya, “Mengapa saya melihat wajahmu berubah, padahal sungguh engkau dahulu berwajah bagus ?

Dia menjawab, “ketika saya dibaringkan didalam kubur, telah datang satu malaikat dan duduk disebelah kepala saya seraya berkata, “Hai situa yang jahat, dan dia menghitung semua dosa saya dan semua perbuatan saya yang jahat bahkan diapun memukul saya dengan sebatang kayu sehingga badan saya terbakar”. Kuburpun berkata kepada saya, “Apakah engkau tidak malu kepada Tuhanku ?”, kemudian kuburpun menghimpit saya dengan himpitan yang kuat sekali sehingga tulang-tulang rusukku menjadi bertebaran dan sendi-sendi tulangkupun menjadi terpisah-pisah sedang saya dalam siksa sampai malam pertama bulan Sya’ban”, waktu itu ada suara mengundang dari atas saya, “Hai Malaikat, angkatlah batang kayumu dan siksamu dari padanya, karena sesungguhnya dia pernah menghidupkan / mengagungkan satu malam dari bulan Sya’ban selama hidupnya dan pernah berpuasa pula satu hari dibulan Sya’ban. Maka Allah swt. menghapuskan siksa dari padaku dengan sebab aku memuliakan malam hari di bulan Sya’ban dengan shalat dan juga dengan berpuasa satu hari dibulan Sya’ban; kemudian Allah swt. memberi kegembiraan kepada saya dengan syurga dan kasih sayang-Nya.” Oleh sebab itu Rasulullah swt. bersabda : “Barangsiapa yang menghidupkan malam dua hari raya ( Idul Fitri dan Idul Adha ) dan malam pertengahan dari bulan Sya’ban, maka hatinya tidak akan mati disaat semua hati sama mati”.

Sholat Nisfu Sya’ban ( Shalatul Khoir )

Adapun sholatnya dikerjakan pada malam ke lima belas bulan Sya’ban sebanyak 100 raka’at, tiap-tiap satu raka’at membaca Al-Fatihah dan Surat Al-Ikhlas 10x sampai 50x salaman, ulama salaf mengerjakan sholat Sya’ban ini dan memberi nama sholat ini Shatul Khoir. Sultohonul Awliya Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani juga mengerjakan sholat Khoir ini. Telah diriwayatkan dari Sayyidina Hasan Rohimahullah bahwasanya telah menceritakan tiga puluh sahabat Nabi saw. kepadaku : “Barangsiapa yang melaksanakan sholat Nisfu Sya’ban pada malam ini Allah swt. akan memandang padanya dengan 70 pandangan dan Allah swt. memberikan padanya setiap pandangan 70 kebutuhan, yang paling dekat adalah maghrifoh Allah  swt.

Satu kebaikan di bulan-bulan yang lain mendapat 10x lipat. Pada bulan Rajab 70x lipat, bulan Sya’ban 700x lipat dan bulan Ramadhan 1000x lipat. Bulan Rajab bagaikan anginnya, bulan Sya’ban bagaikan awannya, sedangkan Ramadhan bagaikan hujannya. Bulan Rajab khusus untuk mendapat ampunan Allah, bulan Sya’ban khusus untuk mendapat syafa’at sedangkan bulan Ramadhan khusus untuk mendapat kebaikan yang berlipat. Hitungan tahun merupakan pohonnya, bulan Rajab merupakan hari-hari tumbuhnya daun, bulan Sya’ban merupakan hari berbuahnya sedangkan bulan Ramadhan merupakan hari-hari memetiknya. Rajab adalah bulan membersihkan badan, Sya’ban adalah bulan membersihkan hati dan Ramadhan adalah bulan membersihkan ruh.

 

Bagikan:

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.