KEKUATAN DOA

Published by Ponpes Anwarul Huda on

Oleh: M. Bastomi

Bagaimana mungkin, di dunia yang sudah modern seperti ini, masih saja ada manusia yang menggantungkan doa dan permohonan kepada benda mati, seperti berhala, dan sejenisnya, yang mana belum tentu benda-benda tersebut mendengar ucapan manusia yang meratap kepadanya. Apalagi memohon dan berharap kepada manusia lainnya, karena permintaan yang terlalu sering akan memberatkan manusia lainnya. Lalu, apakah manusia berhak menyombongkan usahanya sendiri, seolah bahwa semua yang didapatkan berkat usaha sendiri tanpa adanya bantuan Tuhan. Hal-hal seperti itulah yang mendekatkan manusia terhadap berbagai macam kesyirikan.

Doa merupakan puncak ibadah, yang di dalamnya terdapat harapan manusia yang ditujukan kepada Tuhannya. Banyak definisi yang menerjemahkan secara spesifik dari doa. Tapi, asal diketahui bahwa makna dari doa akan berbeda-beda tergantung dari orang yang berdoa. Doa menjadi salah satu bentuk ikhtiar manusia dalam menjalani kehidupan. Sebuah perkataan yang ditujukan kepada orang lain bisa menjadi sebuah doa, meskipun perkataan tersebut mengandung tujuan yang tidak baik, seperti umpatan, cacian, dll. Dengan berdoa, secara langsung manusia mengaku butuh terhadap kekuasaan Allah karena hanya hanya Allah lah yang mampu memenuhi segala urusan hamba-Nya.

“Tidaklah seorang muslim berdoa dengan doa yang tidak mengandung dosa dan pemutusan tali silaturahmi, kecuali Allah akan memberikan kepadanya salah satu dari tiga hal : akan segera dikabulkan doanya, atau Allah akan menjadikannya tabungan (pahala) di akhirat kelak, atau dengan doa itu Allah akan menjauhkannya dari kejelekan yang setara dengan doanya. Mereka berkata : “Kalau begitu kami akan memperbanyak (doa) ? Nabi SAW menjawab : “(Apa yang dimiliki) Allah lebih banyak”. (HR. Ahmad).

Islam adalah agama yang indah. Dalam melakukan aktivitas apa pun, ada doa yang dituntunkan Rasulullah SAW untuk mengawali dan mengakhirinya, seperti makan, berpakaian, bercermin, berpergian, dll. Semua aktivitas  seorang Muslim tak terlepas dari doa. Dengan berdoa, seseorang mengaharapkan akan datangnya kebaikan dan terhindar dari keburukan. Doa memiliki kekuatan yang besar, yang tersedia bagi setiap orang dalam memecahkan berbagai masalahnya. Doa memperkuat seorang hamba dalam menghadapi ujian dan cobaan. Dengan doa, seorang hamba akan merasakan pertolongan Allah yang diberikan kepadanya.

Doa menjadi kekuatan orang beriman. Doa menjadi perantara pertolongan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya dari bencana, penderitaan, kesakitan, dll. Jika Allah berkehendak, takdir yang telah digariskan pun akan berubah atas doa yang dipanjatkan hamba-Nya. Allah SWT berfirman, “Katakanlah: Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu  dari bencana di darat dan di laut yang kamu berdoa kepada-Nya dengan berendah diri dan dengan suara  yang lembut (dengan mengatakan), ‘Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah  kami menjadi orang-orang yang bersyukur.” (QS al-An’aam; 63)

Seorang manusia tidaklah luput dari salah di masa lalunya dan tidaklah terlepas dari harapan di masa depannya. Bagaimanakah sebuah kesalahan di masa lalu bisa terhapuskan?, dan bagaimana harapan di masa depan bisa terwujud?, jawabannya dengan doa. Doa yang baik akan mendatangkan manfaat, tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan banyak orang. Sedangkan doa yang jelek, akan mendatangkan keburukan kepada orang lain, terutama untuk dirinya sendiri. Dengan sering memanjatkan doa yang baik kepada orang lain, maka insyaallah orang lain pun akan senantiasa mendoakan kita. Rasulullah S.A.W. bersabda “Sesungguhnya doa bermanfaat bagi hal-hal yang telah terjadi dan bermanfaat bagi hal-hal yang belum terjadi, maka berdoalah wahai hamba-hamba Allah.” (HR Tirmidzi & Hakim)

Umur, jodoh, rizki, dan kematian adalah ketetapan yang hanya Allah mampu mengubahnya. Makhluk yang lemah dan berada di bawah kekuasaan-Nya tidak akan mampu mengubah dan mengganggu gugat keputusan-Nya. Doa semua makhluk secara keseluruhan bermuara kepada Allah, tidak terkecuali malaikat dan syetan. Malaikat pun senantiasa berdoa kepada Allah untuk mengampuni dosa-dosa manusia yang taat kepada Allah, sedangkan syetan berdoa kepada Allah untuk memberikan kehidupan abadi dalam menggoda manusia. Bahkan manusia, mempunyai keinginan yang tidak ada habisnya karena tanpa adanya pengendalian terhadap nafsu yang dimiliki.

Meskipun tanpa diucapkan, Allah mengetahui segala keinginan makhluk-Nya. Namun, Allah lebih suka melihat hambanya yang selalu berdoa karena dengan begitu hamba tersebut senantiasa menyebut-nyebut Allah. Dalam kitab al-Hikam, Ibnu ‘Atha’illah menjelaskan bahwa “Jangan sampai pengabulan doa yang terlambat menyebabkan Anda putus asa, padahal Anda telah sungguh-sungguh memintanya. Allah Swt telah menjamin pengabulannya untuk Anda, dengan sesuatu yang dipilihkan-Nya untuk Anda, bukan sesuatu yang Anda pilih. Dan,  terkabulnya doa itu akan terjadi pada waktu yang diinginkan-Nya, bukan menyesuaikan dengan waktu yang Anda inginkan.”

Apabila dalam jangka waktu yang lama doa seseorang masih belum terkabulkan, maka Allah sedang menguji kesabaran dan keikhlasan doa yang dipanjatkan, oleh karena itu pantang untuk putus asa. Sebaliknya, pantang bagi seorang hamba gampang berputus asa dan berprasangka buruk dengan berpandangan bahwa Allah tidak mengabulkan doanya karena tidak adanya kecintaan terhadap hamba tersebut. Pandangan seperti sudah pasti salah, bagaimana Allah tidak menyayangi hamba-Nya, apabila kasih sayang Allah melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Bahkan ampunan Allah lebih luas daripada bentangan langit dan lebih dalam daripada dasar lautan. Teruslah berdoa dan berusaha karena Allah telah menjamin untuk mengabulkan doa hamba-Nya. Dalam al-Quran Allah berfirman:

“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu….” (QS. Al-Mukmin; 40).

Allah Swt sudah pasti mengabulkan doa hamba-Nya, hanya saja terkadang Allah tidak memberikan sesuatu yang sama persis dengan permintaan, namun diganti dengan sesuatu yang lebih baik. Bisa juga, Allah mengundur waktu terkabulnya permintaan dari seorang hamba karena Allah khawatir apabila permohonan dikabulkan pada waktu yang diminta, hamba tersebut akan sombong dan melupakan Allah. Apabila sampai akhir hayat seorang hamba belum terkabul doanya, maka bisa jadi doa tersebut akan terkabul untuk anak, cucu, bahkan cicitnya. Allah mengungkap kasih sayang-Nya yang terkadang manusia tidak sampai untuk memahami karena pada dasarnya Pencipta mengetahui dengan pasti tentang yang terbaik bagi hamba-Nya. Rasulullah SAW bersabda, “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi (kemakbulannya), yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang dizalimi.” (HR Abu Daud, Ahmad, & Tirmidzi).

Allah maha adil dalam mengabulkan segala doa ummat-Nya. Seorang Nabi pun tidak lepas berdoa kepada Allah. Namun, tidak semua doa Nabi-nabi dikabulkan secara seketika itu juga, padahal nabi adalah kekasih Allah, yang tidak diragukan kedekatannya dengan Allah. Seperti halnya Nabi Musa, diriwayatkan bahwa doanya dikabulkan Allah sekitar 30 tahun lamanya, dengan tujuan bahwa Allah meningkatkan derajat Nabi Musa melalui ikhtiar dalam berdakwah kepada fir’aun, dan masih banyak kisah yang dapat kita ambil hikmahnya.

Seorang hamba tidak berhak mengkritik kehendak Tuhannya lantaran apa yang diterima tidak sesuai dengan harapan. Hal tersebut bisa menjadikan kita berburuk sangka kepada Allah. Perlu diketahui bahwa sesuatu yang kita anggap baik, belum tentu baik di hadapan Allah. Dan sebaliknya, sesuatu yang kita anggap buruk, belum tentu buruk dihadapan Allah. Semua yang ditakdirkan bagi hamba-Nya adalah kebaikan. Maha suci Allah sebagai dzat yang maha mengetahui dan menguasai segala sesuatu.

Seorang hamba yang arif lebih memilih menyibukkan diri dengan berdzikir baik lisan maupun hati kepada Allah daripada meminta dan menuntut-Nya. Hamba seperti ini percaya bahwa setiap makhluk telah mendapatkan pembagian yang adil dari Allah, sehingga berdoa sekedar untuk mendapatkan sesuatu menjadi pertanda tidak beradabnya makhluk kepada Tuhannya, seolah-olah menuduh Allah tidak akan memberikan bagian yang semestinya. Salah satu bentuk kesempurnaan hamba adalah meyakini dan mengerjakan doa sebagai ubudiyah dan menjalankan hak rububiyah.

Instropeksi diri adalah cara yang tepat apabila doa yang dipanjatkan tidak lekas terkabul. Salah besar apabila meragukan kebenaran janji Allah tidak mewujudkan doa yang menjadi harapan. Kita perlu menilik secara jujur, bagaimana kualitas ibadah kita selama ini, sudahkan diri kita menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya?.  Kita perlu bertaubat apabila masih sering melakukan kekhilafan dalam rutinitas kehidupan. Mengakui segala kesalahan kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya adalah sebuah wujud pertobatan sebenarnya. Doa yang tidak terkabul adalah karena akibat dari perbuatan selama ini.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.  (Q.S. Al-Baqarah:186)

Perasaan butuh yang luar biasa kepada Allah adalah jalan pengabulan doa. Jadikanlah Allah sebagai satu-satunya sandaran untuk mengadu. Dengan menampakkan kerendahan diri, kehinaan dan kelemahan seorang hamba, di saat itulah Allah menunjukkan kuasa-Nya untuk menolong hamba-Nya. Sudah sepatutnya kita memperbarui iman dan ketaqwaan, bertaubat dari kelalaian, berjihad melawan nafsu, dan meningkatkan kualitas ibadah. Dengan cara seperti itulah kita bisa lebih dekat dengan sang Penguasa yang berkenan mengabulkan segala doa.

*penulis adalah santri Anwarul Huda dan sarjana ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Bagikan:

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.