KEAJAIBAN DI BULAN RAMADHAN

Published by Ponpes Anwarul Huda on

Oleh: Romy Ittaqi Robby

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian puasa sebagaimana diwajibkan atas kaum sebelum kalian, agar kalian bertaqwa”. (Al Baqarah: 183)

Puasa adalah sebab yang bisa mengantarkan pelakunya menuju ketaqwaan, karena puasa mampu meredam syahwat. Ini sesuai dengan salah satu penafsiran yang disebutkan Imam Al Qurthubi, yang berpatokan kepada hadits riwayat Imam Ahmad yang menyebutkan bahwa puasa adalah perisai.

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh mujahadah dan juga penuh dengan ampunan dan maghfiroh. Para ulama’ salaf adalah suri tauladan bagi umat, mujahadah mereka dalam mengisi bulan Ramadhan amat perlu dicontoh. Seperti Al Imam Asyafi’i, dalam bulan Ramadhan beliau menghatamkan Al-Quran dua kali dalam semalam, dan ini dikerjakan di dalam shalat, sehingga dalam bulan Ramadhan beliau selalu menghatamkan Al-Quran enam puluh kali dalam sebulan. Imam Abu Hanifah juga menghatamkan Al-Quran dua kali dalam sehari selama Ramadhan.

 Puasa Ramadhan merupakan event atau ajang untuk menumbuhkan sifat amanah dan juga menjaga dari perbuatan maksiat. Wahbah Zuhaili dalam bukunya Al Fiqh Al Islami berpendapat bahwa puasa mengajarkan rasa amanat dan muraqabah di hadapan Allah SWT, baik dengan amalan yang sangat jelas maupun yang tersembunyi. Maka tidak ada yang mengawasi seseorang yang berpuasa agar menghindari hal-hal yang dilarang dalam berpuasa kecuali Allah Ta’ala. Wahbah Zuhaili juga menegaskan bahwa seorang yang berpuasa harus makan dan minum dalam waktu yang sangat terbatas. Bahkan dalam berbuka puasa pun harus disegerakan.

Seseorang yang merasa lapar dan dahaga akhirnya juga bisa ikut merasakan kesengsaraan saudara-saudaranya yang kekurangan atau tertimpa bencana. Sehingga  tumbuh perasaan kasih sayang terhadap umat Islam yang lain. Karena di dalam bulan Ramadhan kita dianjurkan dan dilatih untuk berbuat kesabaran atau ketabahan, sabar menahan hawa nafsu seperti makan dan juga minum.

Bulan Ramadhan adalah bulan puasa di mana pada siang hari kita diperintahkan meninggalkan makanan yang asalnya halal, terlebih lagi yang haram. Begitu pula di saat ada seseorang mengganggu kita. Rasulullah Saw pun juga bersabda: “Bila seseorang menghina atau mencacinya, hendaknya ia berkata ‘Sesungguhnya aku sedang puasa.” (HR. Bukhari). Rasulullah bersabda: ”Berpuasalah, maka kamu akan sehat” (HR. Ibnu Sunni), ada yang menyatakan bahwa hadits ini dhoif, akan tetapi ada pula yang menyatakan bahwa derajat hadits ini sampai dengan tingkat hasan.

Akan tetapi makna matan hadist bisa tetap diterima, karena puasa memang menyehatkan. Al Harits bin Kaldah, tabib Arab yang pernah mengabdi kepada Rasulullah Saw. juga pernah menyatakan:”Lambung adalah tempat tinggal penyakit dan sedikit makanan adalah obatnya”.

Pada bulan Ramadhan semua kejelekan menjadi sedikit dan berkuang, karena dibelenggu dan diikatnya jin-jin dan juga syetan jahat dengan salasil (rantai), belenggu dan ashfad. Mereka tidak bisa bebas merusak dan mengganggu manusia sebagaimana bebasnya di bulan yang lain, karena kaum muslimin sibuk dengan menunaikan puasa hingga hancurlah syahwat, dan juga karena bacaan Al-Qur’an serta seluruh ibadah yang mengatur dan membersihkan jiwa. Maka dari itu ditutupnya pintu-pintu jahannam dan dibukanya pintu-pintu surga, disebabkan karena pada bulan tersebut amal-amal shaleh banyak dilakukan dan ucapan-ucapan yang baik berlimpah ruah yakni ucapan-ucapan yang mengandung kebaikan banyak dilafadzkan oleh kaum mukminin.

Rasulullah SAW bersabda dalam haditsnya yang berbunyi: “Jika datang bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga dalam riwayat Muslim: “Dibukalah pintu-pintu rahmat”, dan ditutup semua pintu-pintu neraka dan dibelenggunya syetan” [Hadits Riwayat Bukhari 4/97 dan Muslim 1079].

Ketahuilah saudaraku kaum muslimin dan muslimat dimanapun anda berada, mudah-mudahan Allah selalu memberkatimu, Sesungguhnya sifat bulan Ramadhan itu merupakan sebagai bulan yang diturunkan padanya Al-Qur’an, dan kalimat sesudahnya dengan huruf (fa) yang menyatakan illat dan sebab: “Barangsiapa yang melihatnya hendaklah berpuasa” memberikan isyarat illat (penjelas sebab) yakni sebab dipilihnya Ramadhan adalah karena bulan tersebut adalah bulan yang diturunkan padanya Al-Qur’an.

Keajaiban-keajaiban yang lain di bulan Ramadhan yakni terdapat pada 10 malam terakhir bulan ramadhan yang telah banyak disebutkan di dalam al-Qur’an maupun Sunnah. Diantaranya, Pertama, terjadinya malam Lailatul Qadar yang merupakan malam di turunkannya al-Qur’an dan dicatatnya di Lauhul mahfudz seluruh perkara yang akan terjadi di muka bumi pada tahun tersebut. Rasulullah saw. mewanti-wanti agar umatnya memperhatikan Lailatul Qadar  pada 10 malam terakhir. Beliau bersabda:

“Carilah lailatul qadar pada tanggal ganjil di sepuluh malam terakhir bulan ramadhan.” (HR. Bukhori),Kedua, Orang yang beribadah shalat pada malam lailatul qadr maka dosanya yang telah lalu akan diampuni. “Dan barangsiapa yang berdiri (shalat sunat) pada malam lailatul qadr dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Ibnu Abi Dunya dalam Fadhail Ramadhan)

Ketiga, Segala kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya. Apalagi jika bertepatan dengan lailatul qadr maka satu amalan kebaikan pahalanya lebih baik dari amalan kebaikan yang dilakukan selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun. Allah swt. berfirman:

“malam kemuliaan (lailatul qadr) itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr: 3)

Keempat: Allah tidak akan mentaqdirkan selain keselamatan pada malam lailatul qadar itu. Dimana hal ini tidak terjadi pada malam-malam lainnya yang terdapat keselamatan dan bencana. Pada malam itu pula para malaikat menyampaikan ucapan selamat kepada orang-orang beriman sampai terbitnya fajar. Penjelasan tersebut disampaikan An-Nasafi dalam Madarikut Tanzil wa Haqaiqut Ta’wil dan Az Zamakhsyari dalam Al Kasysyaf, ketika keduanya menafsirkan ayat ke 5 dari surat al Qadr.

Dan masih banyak lagi keajaiban-keajaiban yang lain yang menegaskan keutamaan dan kelebihan bulan ramadhan khususnya pada 10 malam terakhir. Semua itu tentu akan semakin mengokohkan dan menguatkan keimanan seorang mukmin dan lebih mendekatkan dirinya dengan Allah swt. Karena berbagai ayat tersebut tentu sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan keagungan-Nya. Dan bahwa Allah swt. sangat mencintai dan menyayangi hamba-Nya sehingga Dia sediakan satu bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang utama yang bisa dijadikan kesempatan oleh hamba-hamba-Nya untuk menambah semua pahala untuk bekal hidup kelak di akhirat nanti.

Segala amal atau ibadah sunnah yang kita lakukan dengan penuh ketulusan akan mendekatkan kita dengan Allah swt. Maka dari itu kita akan mendapatkan cinta-Nya. Cinta Allah kepada seorang hamba adalah anugerah yang tidak terhingga. Karena ia akan menjadi orang yang paling diperhatikan oleh Allah SWT. Ia pun senantiasa akan diliputi kasih sayang-Nya yang akan mendatangkan kepada kebahagiaan yang tiada bandingannya. Allah akan selalu membimbing setiap langkahnya sehingga ia tidak akan terpeleset ke jurang kenistaan. Seluruh tubuhnya akan terjaga, karena Allah SWT yang akan mengendalikannya.

Berbagai kegiatan ibadah bisa dilakukan untuk mengisi ramadhan terutama pada sepuluh malam terakhir bulan suci itu. Dengan kegiatan itu kita akan menggapai keajaiban-keajaiban yang ada di dalamnya. Dan kita akan meraihnya secara penuh jika ada kesungguhan untuk melaksanakannya. Rasulullah saw. dan para sahabat ra. telah mencontohkan aktifitas ibadah yang penting dilakukan pada saat malam-malam tersebut diantaranya adalah:

  1. I’tikaf, yaitu berdiam diri di dalam masjid dengan niat yang sangat khusus dan disertai dengan ibadah. Imam Nawawi dalam kitab An-Nihayah mengartikan i’tikaf sebagai menetapi sesuatu dan menempatinya. Maka orang yang menetap di masjid dengan melaksanakan ibadah di dalamnya disebut orang yang beri’tikaf. Rasulullah saw. biasa melakukan i’tikaf pada 10 hari terakhir ramadhan. Ibnu Umar ra. Berkata:

“Rasulullah saw. beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan ramadhan”. (HR. Mutafaq ‘alaih).

  1. Memperbanyak bersedekah. Ibnu Abas ra. berkata:

“Rasulullah saw. adalah orang yang sangat dermawan kepada siapapun, dan pada bulan ramadhan beliau lebih dermawan lagi saat Jibril menemui beliau”. (HR. Mutafaq ‘alaih).

  1. Memperbanyak membaca al-Qur’an. Karena pahala membacanya akan dilipatgandakan melebihi pahala pada bulan selain ramadhan. Selain itu bulan ramadhan adalah bulan dimana al-Qur’an diturunkan pertama kali. Oleh karenanya para ulama terdahulu lebih banyak mengkhatamkan al-Qur’an dibulan ramadhan. Imam Syafi’i biasa mengkhatamkannya sebanyak 60 kali pada bulan ramadhan lebih banyak dari bulan lainya yang hanya satu kali dalam sehari semalam. Malaikat Jibril senantiasa mendatangi Rasulullah saw. pada bulan ramadhan untuk membacakan al- Qur’an kepada beliau.
  1. Melakukan ibadah umrah. Rasulullah saw. bersabda: “Umrahlah kamu pada bulan ramadhan, karena umrah pada bulan ramadhan sebanding dengan melaksanakan ibadah haji” (HR. An-Nasai)
  1. Memperbanyak berdo’a. Dari Aisyah ra. ia berkata kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, bagaimana jika suatu malam aku mengetahui bahwa itu malam lailatul qadar, apa yang harus aku baca? Beliau bersabda, bacalah;“Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pemaaf, Engkau menyukai permintaan maaf maka ampunilah aku”. (HR. Tirmidzi).
  2. Memperbanyak shalat sunnah.“Barangsiapa yang bangun (untuk shalat) pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan keikhlasan maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Mutafaq ‘alaih)

Jika kita sudah tahu kehebatan dan juga keajaiban di bulan Ramadhan beserta sepuluh malam terakhir dan keutamaan yang ada di dalamnya maka apalagi yang membuat kita tidak tergerak dan tekad untuk  bersungguh-sungguh mendapatkannya? Masihkah kebiasaan atau tradisi berdesak-desakan di pasar dan pusat-pusat perbelanjaan akan terus kita lestarikan? Padahal ada kegiatan yang seharusnya diprioritaskan dari hanya sekedar mempersiapkan hari raya dengan pakaian yang serba baru dan makanan yang beraneka ragam. Sementara ladang pahala yang lewat di hadapan kita dibiarkan berlalu tanpa ada perhatian.

Mungkin kesempatan ini hanya tinggal sekarang diberikan Allah kepada kita. Kita tidak tahu apakah tahun depan kita masih bisa bertemu kembali dengan Ramadhan? Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk meraih cinta-Nya. Amin

Wallahu A’lam bisshowab.

Penulis adalah alumni ponpes anwarul huda dan sekaligus mahasiswa UIN MALIKI Malang jurusan Al Akhwal Al Syakhsiyah.

 

 

 

Bagikan:

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.