Pondok Pesantren Anwarul Huda

Mencetak Generasi Ibadurrochman

Oleh : Wifqi Muwaffiqur Rohman Yusuf

Islam muncul dalam keadaan asing dan Islam akan kembali menjadi asing sebagaimana permulaannya, maka beruntunglah orang-orang yang asing(HR. Muslim)

Ketika membuat tulisan ini penulis tengah merasakan perasaan yang campur aduk. Penulis merasa bingung, sedih, malu dan lain-lain. Ada sedikit rasa senang dan bangga juga. Di satu sisi penulis mengetahui sebuah kenyataan bahwa Islam telah berkembang ke berbagai penjuru dunia. Islam kini telah menjadi agama dengan pengikut terbesar di dunia. Sebagai seorang muslim, penulis merasa bangga akan hal itu. Begitu juga ketika penulis membaca buku-buku sejarah peradaban Islam, baik pada abad klasik maupun abad pertengahan. Penulis begitu takjub ketika membaca tulisan-tulisan yang menceritakan kehebatan dan prestasi yang telah diraih oleh umat Islam di zaman dulu. Apalagi ketika penulis membaca kamajuan-kemajuan yang diraih oleh umat Islam di zaman dinasti abbasiyah yang dijuluki dengan zaman keemasan Islam. Rasanya penulis ingin sekali merasakan hidup sebagai seorang muslim di zaman yang penuh dengan kejayaan itu. Diantara buku-buku sejarah peradaban Islam yang penulis baca, banyak sekali keterangan yang mengatakan bahwa pada zaman itu negara-negara Islam hidup sangat makmur dan sejahtera. Banyak sekali ilmuwan-ilmuwan muslim bermunculan dan membawa penemuan-penemuan dari berbagai bidang keilmuan. Bahkan ada juga keterangan yang mengatakan bahwa dahulu bahasa arab menjadi bahasa internasional. Dulu Islam selalu terdepan dan menjadi pusat peradaban dunia.

Di sisi yang lain penulis juga mengetahui kenyataan bahwa Islam sekarang itu hanya unggul dari segi kuantitas saja, tapi tidak unggul dari segi kualitas. Entah ini hanya perasaan penulis saja atau memang kenyataan yang sedang terjadi saat ini. Penulis merasakan bahwa Islam sekarang menjadi terbelakang dan kurang berwibawa. Penulis tidak bermaksud menuntut setiap muslim yang membaca tulisan ini untuk menjadi unggul dalam berbagai bidang keilmuan seperti para ulama’ zaman dulu. Akan tetapi penulis hanya ingin mengajak pembaca sekalian agar sadar terhadap kemerosotan yang terjadi dalam Islam, baik dari segi pengetahuan maupun moral. Penulis merasa bahwa umat Islam yang banyak jumlahnya pada zaman sekarang ini tidak benar-benar paham dan menguasai ilmu agama Islam. Salah satu contoh sederhana yang sering penulis temui adalah ketika mendengarkan masyarakat membaca Al-Qur’an. Terdengar dengan jelas bahwa bacaan mereka masih belum lancar dan mengandung banyak sekali kesalahan. Padahal jika dilihat dari segi umur, orang-orang yang membaca Al-Qur’an itu termasuk orang dewasa yang seharusnya sudah memahami berbagai ilmu agama Islam, salah satunya adalah ilmu dalam membaca Al-Qur’an (ilmu tajwid). Dalam berbagai amaliyah, penulis juga pernah menemui tingkah salah seorang masyarakat yang lucu sekaligus memalukan. Dia bercerita kepada teman-temannya tentang betapa anehnya Islam itu. Karena dia baru saja mengikuti sebuah pengajian di masjid dan mendapat informasi dari sang penceramah bahwa pahala dari membaca QS. Al-Ikhlas sebanyak tiga kali itu sama dengan khatam Al-Qur’an. Dia merasa heran akan hal itu dan meragukan apa yang telah didengarnya. Dari segi umur, dia termasuk orang dewasa. Dari segi ekonomi, dia juga termasuk orang yang hidup sejahtera. Akan tetapi mengapa pengetahuan agama Islamnya begitu dangkal ? Lalu selama ini apa saja yang telah dia lakukan ? Padahal bagi orang-orang yang berilmu dan memahami agama Islam, pengetahuan tentang pahala membaca QS. Al-Ikhlas tersebut tergolong pengetahuan yang dasar dan sering didengar. Bukankah dalam Islam itu memang banyak amaliyah-amaliyah yang sedikit dan ringan tapi berpahala besar. Dalam kitab Tafsir Yasin malah ada keterangan yang mengatakan bahwa “Sesungguhnya segala sesuatu itu ada hatinya. Dan hatinya Al-Qur’an adalah surat yasin. Dan barangsiapa membacanya maka Allah SWT akan menuliskan baginya pahala membaca Al-Qur’an sepuluh kali”.

Menurut pengamatan penulis, masyarakat sering tidak seimbang dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Masyarakat seolah lebih condong untuk mengejar ilmu-ilmu duniawi tanpa dibarengi dengan ilmu agama Islam. Mereka begitu bangga jika anak mereka mampu sekolah di sekolah negeri unggulan. Akan tetapi mereka merasa malu dan gengsi jika anak mereka masuk ke pesantren utnuk mendalami ilmu agama Islam. Mereka berkata dalam hati, “mau jadi apa anak saya nanti jika masuk ke pesantren?” Padahal kenyataanya, anak yang masuk ke pesantren itu tidak melulu menjadi seorang Kyai atau ustadz. Yang jadi dokter, tentara dan lain-lain juga banyak. Mereka juga begitu bangga jika anak mereka mampu berbahasa inggris dengan fasih. Akan tetapi mereka seakan tidak peduli jika anak mereka itu belum fasih dalam membaca Al-Qur’an. Pernahkah orang semacam ini berpikir, bagaimana jika suatu saat nanti dia ditanya oleh seorang non muslim tentang bacaan Al-Qur’annya, sedangkan dia dalam kondisi belum lancar seperti itu? Apakah dia tidak malu? Padahal Al-Qur’an itu kan kitab suci umat Islam. Tapi kenapa orang Islam malah belum lancar membacanya? Membacanya saja belum lancar apalagi memahaminya? Lantas bagaimana mereka akan menjadikan  Al-Qur’an sebagai pedoman hidup mereka? Penulis juga sering melihat pandangan masyarakat yang seakan meremehkan ilmu Agama Islam ini. Mereka beranggapan bahwa mempelajari ilmu agama Islam itu tidak keren dan terkesan jadul.

Di sinilah letak masalahnya. Islam itu sebenarnya gagah, berwibawa dan disegani. Akan tetapi dengan kondisi masyarakat yang seperti itu Islam yang sebenarnya menjadi tertutupi. Oleh karena itu penulis membenarkan ucapan salah seorang tokoh pembaharu Islam dari Mesir, yaitu Muhammad Abduh. Beliau mengatakan “Al-Islaamu Mahjuubun bil Muslimiin” artinya adalah Islam itu tertutup oleh orang-orang Islam sendiri. Karena ulah beberapa orang yang tidak memahami ajaran agama Islam, seluruh umat Islam jadi ikut menanggung predikat jelek. Gara-gara orang semacam itu, mungkin banyak omongan seperti, “Orang islam kok seperti itu?”, “Orang islam kok nggak tau sih..” dan lain-lain.

Melanjutkan contoh sebelumnya tentang QS. Al-Ikhlas. Jika mereka, dengan ilmunya yang dangkal mendengar penjelasan tentang pahala membaca QS. Al-Ikhlas sebanyak tiga kali sama dengan khatam Al-Qur’an saja sudah heran. Penulis yakin mereka akan lebih kaget lagi ketika membaca keterangan dalam kitab Qomi’ut Tughyan tentang pahala bagi orang-orang yang mempelajari satu bab ilmu saja. Diterangkan dalam kitab tersebut bahwa Rasulullah SAW bersabda :

Barangsiapa yang mempelajari satu bab ilmu yang mana dia bisa mendapatkan manfaat untuk akhirat dan dunianya, maka baginya pahala orang yang berpuasa di siang harinya dan mendirikan sholat di malam harinya selama tujuh ribu tahun dan semua amalnya itu diterima oleh Allah SWT”.

Dalam kitab yang sama Nabi Muhammad SAW bersabda, “Pelajarilah ilmu karena mempelajari ilmu itu merupakan suatu kebaikan, muthola’ah ilmu itu sama dengan tasbih, membahas ilmu itu sama dengan jihad, mencari ilmu itu sama dengan ibadah, mengajarkan ilmu itu sama dengan shodaqoh, memikirkan ilmu itu sama dengan puasa dan berdiskusi tentang ilmu itu sama dengan mendirikan sholat malam”.

Dan masih banyak lagi hadits-hadits tentang fadhoilul a’mal yang dijelaskan dalam berbagai kitab kuning. Syaratnya hanya satu, yaitu kita harus mau ngaji. Jika kita sudah ngaji, maka kita akan mengetahui ilmu dari sumbernya langsung. Jadi jika suatu saat misalkan kita mendapati keterangan tentang pahala yang dilipatgandakan ketika melakukan suatu amaliyah, kita sudah tidak heran lagi dikarenakan dangkalnya ilmu kita. Kata “ngaji” itu juga jangan diartikan dengan kegiatan membaca Al-Qur’an saja seperti yang dipahami oleh masyarakat awam pada umumnya. Akan tetapi ngaji itu adalah kegiatan untuk mempelajari ilmu-ilmu agama Islam. Termasuk di dalamnya adalah belajar hadits-hadits, ilmu fiqih dan lain sebagainya. Inti dari tulisan ini adalah marilah kita sebagai seorang muslim sama-sama menjaga nama baik dan wibawa Islam. Salah satu caranya adalah dengan memperdalam pemahaman kita terhadap Ilmu agama Islam, baik itu fiqih, akidah, sejarah dan lain-lain supaya kita tidak menjadi “Orang Islam Yang Tidak Paham Islam”.

Mungkin itu yang dapat penulis sampaikan. Semoga melalui tulisan ini para pembaca bisa sadar mengenai kondisi Islam dan umatnya pada zaman sekarang. Penulis juga berharap tulisan ini dapat menyadarkan dan menggerakkan hati orang-orang Islam yang masih belum memahami Islam untuk menuntut ilmu agama, baik itu di pondok pesantren atau TPQ. Dan semoga Allah SWT meridhoi tulisan ini sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Amiiin

Bagikan:

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Might Also Like