Islam: Rahmat Lil ‘Alamin

Published by Ponpes Anwarul Huda on

Oleh: Anwar Mas’ady M.A.*

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Q.S. al-Anbiya’, 21: 107)

Peristiwa baru-baru ini yang banyak menjadi perhatian hampir disemua media di dunia adalah peristiwa “Paris Attack” atau penyerangan di Paris. Penyerangan yang dilakukan oleh beberapa pria bersenjata disebuah tempat pertunjukan konser di Bataclan dan pengeboman disekitar stadion Stade de France tempat berlaga pertandingan antara Perancis vs Jerman. Laporan terakhir tentang penyerangan tersebut telah menewaskan 153 orang dan yang terbanyak adalah ditempat konser Bataclan seperti dilaporkan oleh Washingthon Pos.

Sehari pasca penyerangan tersebut, ISIS (Islamic State Iraq and Suriah) diklaim sebagai aktor dari penyerangan tersebut. Entah ini sebagai klaim atau diklaim karena dua kata tersebut merupakan hal yang berbeda. Keterlibatan ISIS pertama kali disebutkan oleh Reuters sebuah kantor berita di London. Pemberitaan dari Reuters ini bisa dikatakan sebagai pemberitaan yang sepihak karena begitu cepatnya Reuters membuat kesimpulan yang kemudian banyak dikutip media-media lain di dunia, bahkan menjadi berita utama bahwa ISIS adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap peristiwa tersebut.

Pemberitaan yang bersumber dari Reuters tersebut seakan-akan semakin menjadi kuat dengan olah TKP dari keamanan Perancis yang menemukan paspor kewarganegaraan dari Suriah berada di dekat tempat konser Bataclan. Tanggapan-tangapan dari media sungguh luar biasa baik media online maupun media sosial. Dua hal tersebut semakin menegaskan bahwa ISIS adalah otak dari penyerangan tersebut tanpa menimbang atau mengklarifikasi. Diantara media tersebut hal yang paling mengejutkan adalah adanya temuan paspor Suriah di dekat lokasi penembakan, memang seakan-akan temuan paspor tersebut menjadi bukti yang kuat terhadap keterlibatan ISIS dalam penyerangan tersebut. Media memang menjadi alat propaganda yang sangat kuat dan sayangnya media-media di negara-negara Islam ataupun yang mayoritas muslim mengamini media-media barat tersebut tanpa adanya analisis yang benar.

Namun bagi media yang kritis mungkinkah para teroris tersebut begitu mudahnya membawa identitas dalam aksi mereka, bukankah hal tersebut berarti membuktikan kebodohan mereka dalam melakukan aksi? Ataukah berita tersebut memang digunakan oleh pemerintah Perancis untuk menyudutkan kelompok ISIS? Yang jelas penemuan paspor tersebut tidak saja menjadi berita yang laris di media tetapi juga menjadi “meme” lucu di beberapa media sosial terhadap kecerobohan dan kebodohan pemerintah Perancis. Tampaknya kekuatan Media barat masih diandalkan untuk membentuk opini tertentu walaupun mendapatkan kritik sana dan sini.

Terlepas dari peran media-media tersebut, efek yang sangat terasa secara luas tidak hanya menimpa ISIS sebagai pihak yang paling disalahkan tetapi juga adalah Islam sebagai agama yang dianut oleh para penyerang tersebut. Penyerangan tersebut juga mempunyai efek bagi masyarakat Perancis dan bagi penganut agama Islam di Perancis yang terus berkembang sebanyak 8 % atau mencapai 5 juta dari total penduduk Perancis. Tekanan psikologis umat Islam di Perancis begitu luar biasa karena simbol-simbol Islam begitu melekat dan mudah dikenali. Media-media barat begitu membentuk opini psikologi yang sangat terasa, tidak hanya ISIS tetapi Islam dan ajarannya adalah hal yang paling bertanggung jawab terhadap penyerangan tersebut. Penyematan ISIS adalah teroris juga sebanding dengan Islam adalah teroris, karena yang membentuk ISIS menjadi teroris adalah ajaran Islam, itulah opini yang terbentuk dari media-media barat.

Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

Kejadian penyerangan di Paris memang masih dalam penyelidikan, walaupun media-media sudah begitu yakin bahwa ISIS adalah pelakunya.  Sehingga seakan-akan dalam pemikiran masyarakat, terutama masyarakat eropa, Islam adalah merupakan ajaran teror itu sendiri dan Islam mengajarkan untuk membunuh lewat jihad.

Masih lekat dalam ingatan kita tentang film “fitna” yang dibuat oleh Arnoud Van Doorn, mantan politisi Belanda yang anti-Islam. Arnound Van Doorn adalah produk dari gencarnya media barat yang menyudutkan Islam. Akibat dari media-media tersebut kepala Arnound Van Doorn berisi memori  bahwa Islam itu fanatik, menindas wanita, tidak toleran, membabi buta memusuhi Barat sehingga inilah yang menjadi dasar dari Arnound Van Doorn untuk membuat film terutama tafsirnya mengenai ayat jihad sebagai legalisasi Islam terhadap terorisme.

Film yang dibuat oleh Arnound Van Doorn mendapatkan reaksi yang keras dari umat Islam yang sangat tidak sepakat dengan tafsir Van Doorn. Bagi umat Islam, ajaran Islam bukanlah seperti apa yang digambarkan oleh Van Doorn, ajaran Islam adalah ajaran kemanusiaan, ajaran yang menghargai nyawa manusia sebagaimana yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW. Kesalahan dan ketidaktahuan Van Dorn ahirnya mengantarkan Van Doorn dan anaknya untuk masuk Islam.

Kembali pada reaksi umat Islam pasca film fitna yang merupakan ketidaksepakatan umat Islam terhadap tafsir dalam film tersebut, tetapi juga pemelintiran makna terhadap QS. Surat al-Anfal ayat 60 yang memberikan kesan bahwa Islam memperbolehkan teror. Qurays Shihab lewat buku “Ayat-ayat Fitna: Sekelumit Keadaban Islam ditengah Purbasangka meluruskan tafsir-tafsir ayat yang digunakan dalam film tersebut. Tentu saja lagi-lagi propaganda barat lewat film ataupun media tampaknya menjadi alat yang ampuh untuk membentuk opini masyarakat.

Bantahan umat Islam dan Quraysh Shihab terhadap film fitna dan keraguan umat Islam terhadap teror di Paris Perancis beberapa hari yang lalu menandakan bahwa Islam bukanlah agama teror sebagaimana opini-opini yang dibentuk oleh media-media barat. Islam adalah agama rahmatan lil alamin (al-Anbiya’: 107). agama Islam sebagai rahmat (kasih sayang) bagi seluruh alam sudah melekat dan memiliki keterkaitan dengan diutusnya nabi Muhammad SAW sebagai rasul.

Kata Rahmat yang berarti kasih sayang, berikut derivasinya, disebut berulang-ulang dalam jumlah yang begitu besar, lebih dari 90 ayat dalam al-Quran. Hal ini menandakan begitu pentingnya kasih sayang dalam ajaran Islam. Bahkan dalam suatu hadits yang shahih diriwatakan bahwa para sahabat mengusulkan kepada nabi Muhammad SAW agar mendoakan keburukan bagi orang-orang musyrik, Nabi Muhammad SAW lalu menjawab, “Aku diutus bukanlah sebagai pembawa kutukan, tetapi aku diutus sebagai pembawa rahmat.” (HR. Muslim). Sungguh sempurna sifat nabi Muhammad SAW seperti yang digambarkan dalam hadist di atas. Dari hadist di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Islam sebagai rahmat lil alamin tidak saja menjadi rahmat bagi orang Islam saja, namun juga memberikan kasih sayang bagi semua yang di alam.

Kisah Rasulullah dan Suraqah bin Malik adalah salah satu bukti bahwa Rasululllah adalah teladan yang penuh kasih sayang. Beberapa kali Suraqah bin Malik yang terbuai oleh hadiah yang dijanjikan oleh orang-orang Qurays bagi yang mampu menangkap atau membunuh Rasulullah. Ketika kuda Suraqah bin Malik hendak mencapai Rasulullah maka ia dan kudanya terjerembab dan jatuh, seketika itu pula Rasulullah menolong dia.  Kedua kalinya Suraqah bin Malik berusaha untuk mengejar dan membunuh Rasulullah, namun kudanya kembali terjerembab, kedua kali pula Rasulullah menolong Suraqah bin Malik. pada momen yang ketiga Suraqah berhasil menghunus pedangnya dihadapan Rasulullah sambil berkata” siapa yang akan menyelamatkamu dari pedangku”?, Rasulullah menjawab “Allah yang akan menyelamatkanku”. Seketika itu juga Suraqah gemetar dan jatuh pedangnya, lalu Rasulullah memungut pedang Suraqah dan berkata, “siapa sekarang yang akan menyelamatkanmu?”. Suraqah pun gemetar dan terdiam, Rasulullah lalu memaafkan perbuatan Suraqah yang menjadi sebab dari keIslaman Suraqah.

Kisah yang lain adalah ketika futuhat di Suriah/Syam pada masa Umar bin Khattab. Kisah ini saya ambil dari buku History of the Arabs karya Hitti. Futuhat Islamiyah ke Syam digambarkan begitu luar biasa oleh Hitti karena sahabat Umar bin Khattab melarang untuk membunuh kecuali yang sudah jelas sebagai musuh, melarang untuk mendirikan tenda didalam kota Suriah karena dikhawatirkan akan mengganggu aktifitas penduduk Suriah, melarang untuk menghancurkan gereja dan menganggu ibadah orang-orang nasrani. Sikap sahabat umar ketika itu mendapat simpati yang luar biasa karena futuhat ke Syam tidak menggambarkan ketakutan penduduk Syam dari peperangan, tetapi memberikan pembebasan terhadap kekangan agama dan paksaan budaya yang dilakukan oleh penguasa romawi. Bahkan ketika pembukaan kunci dari kota Jerussalem dibukakan oleh Sophronius yang menemani sahabat Umar bin Khattab, ia sangat terkejut dengan kesederhanaan dan busana lusuh dan dikenakan tamu arabnya.

 Kedua peristiwa Suraqah dan futuhat di Suriah tentu memberikan gambaran kepada kita betapa luar biasa kasih sayang Rasulullah dan sahabatnya Umar bin Khattab, Rasulullah adalah teladan yang sangat luar biasa sebagai contoh utama rahmat bagi semesta alam yang juga diikuti oleh sahabatnya Umar bin Khattab. Ajaran Islam begitu mulia sebagai ajaran agama kasih sayang yang melarang pembunuhan yang tanpa sebab, bahkan hukuman dari orang yang melakukan pembunuhan adalah dibunuh, hal itu dilakukan untuk menghormati begitu mulianya jiwa manusia, kisah sahabat Umar bin Khattab diatas kiranya merupakan bukti yang sangat shahih tentang memandang dan menghormati lawan yang sudah kalah dalam peperangan.

Tasawuf sebagai  Solusi

Sebagaimana disebutkan diatas bahwa agama Islam adalah agama yang penuh kasih sayang. Kiranya ayat dalam surat al-‘Anbiya’ ayat 107 sudah memberikan gambaran kepada kita bahwa tujuan diutusnya Rasulullah adalah rahmat/kasih sayang bagi semesta alam. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari juga dijelaskan bagaimana diutusnya Rasulullah  “Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang baik.“(HR. Bukhari). Dalam surat al-‘Anbiya’ dan Hadist Nabi SAW diatas sudah sangat jelas sekali bahwa begitu pentingnya ahlak dalam ajaran Islam, bahkan kedatangan Rasulullah adalah untuk memberikan rahmat/kasih sayang dan untuk menyempurnakan akhlak manusia. Sehingga dapat dikatakan bahwa inti ajaran Islam dan jati diri seorang muslim adalah ahlaknya sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi “Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah orang yang sempurna budi pekertinya. (HR. Tirmidzi).

Akhlak dan tasawuf berhubungan sangat erat, akhlak adalah dasar dalam bertasawuf. Hubungan akhlak dan tasawuf tidak akan dipisahkan karena kesucian hati akan membentuk akhlak yang mulia. Tasawuf akhlaqi adalah mengajarkan bagaimana berperilaku yang baik karena ibadah sangat berhubungan dengan Tuhan atau Allah juga berhubungan dengan akhlak manusia.

Ajaran tasawuf mengajarkan tidak saja berhubungan dengan Allah, tetapi juga hubungan dengan makhluk yang lainnya. Karena hubungan yang baik dan ahklak dengan mahluk yang lainnya akan membawa kita pada hubungan yang baik kepada Allah. Contoh dari kisah-kisah Rasulullah kisah yang menjadi suri tauladan bagaimana kita berhubungan dengan manusia lainnya, bagimana Rasulullah memaafkan Suraqah bin Malik dan bagaimana sahabat Umar sangat menghargai nyawa manusia dengan tidak mengizinkan membunuh penduduk Suriah yang sudah ditaklukkan, bahkan sahabat Umar melarang pasukan muslimin untuk membuat tenda didalam kota Suriah.

Contoh ahklak yang demikian ini adalah merupakan inti dari ajaran Islam dan tasawuf sebagaimana ajaran Islam. Islam dilarang membunuh yang tanpa sebab, bahkan dianjurkan untuk memaafkan sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah dalam kisah Suraqah. Maka sangat tidak benar jika ajaran Islam dikaitkan dengan terorisme karena ajaran Islam adalah ajaran akhlak, seseorang tidak bisa dikatakan sempurna imannya jika tidak tidak sempurna akhlaknya. Penyerangan di Paris Perancis jelas bukan bagian dari ajaran Islam, karena Islam menolak pembunuhan yang tanpa sebab, Islam menghargai jiwa manusia, Islam mengedepankan akhlak yang mulia dan kehadiran Rasulullah yang mulia adalah untuk menyempurnakan ahlak, betapa mulianya ajaran Islam.

 

Bagikan:

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.