Islam Indonesia Inspirasi Peradaban Dunia Yang Rahmatan Lil Alamin

Published by Ponpes Anwarul Huda on

Oleh : Muhammad Fahmi Hidayatullah

 

Kamis, 14 Januari 2016 kejadian terror bom di Jl. MH. Tamrin mengingatkan kita pada perisitiwa teror bom pada tanggal 1 oktober 2005 yang diledakkan oleh amrozi dan kawan-kawan di Kuta Bali. Peristiwa tersebut sebenarnya bukan hal yang tabu bagi masyarakat Indonesia. Ketika mereview sejarah kehidupan bangsa kita ke belakang, sebenarnya teror bom pertama kali terjadi di negara kita sejak tahun 1957 era kepemimpinan Soekarno dimana saat itu presiden pertama sedang berkunjung ke sekolah Perguruan Cikini, Jakarta Pusat, dan hendak dibunuh melalui ledakan bom. Namun Bung Karno selamat pada serangan saat hari ulang tahun (HUT) Perguruan Cikini, yang juga menjadi tempat anak-anaknya bersekolah.

Dari beragam peristiwa di atas dapat kita simpulkan bahwa negara kita dalam ancaman. Dengan kekayaan sumber daya alam Indonesia membuat negara tetangga khususnya dan negara maju umumnya menjadi terlena terbujuk rayu akan kekayaan negara kita. Hal ini sebagai bukti ril bahwa negara mayoritas berpenduduk muslim seperti negara kita Indonesia kemudian negara-negara Timur Tengah seperti: Turki, Iraq, Syiria, Iran, Mesir, Arab Saudi dan negara timur tengah lainnya memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah.

Melihat kondisi negara timur tengah berpenduduk mayoritas muslim, saat ini sedang digoncang konflik, pertikaian sesama agama terus mengalir, dan ancaman bertebaran dengan propaganda munculnya teroris mengatasnamakan agama tertentu. Kondisi demikian membuat negara timur tengah dilema yang berdampak terhadap terpecah belahnya masyarakat sehingga sulit untuk menyatukan presepsi yang sama dalam membangun negara. Namun tidak demikian dengan negara Indonesia dengan perbedaan ragam adat, budaya dan agama, konsepsi Islam Nusantara yang mengakar mampu mengawal persatuan dan kesatuan dengan menayamakan presepsi menjaga keutuhan NKRI.

Islam Nusantara dalam artian bukan peradaban yang mengikuti tradisi islam sebagai agama akan tetapi islam sebagai agama menyesuaikan peradaban dan budaya masyarakat. Sehingga prsepsi masyarakat islam sebagai rahmat bukan sebagai ancaman. Walisongo sebagai penyebar islam pertama di Nusantara memberikan contoh dengan tidak memaksakan masyarakat mengukuti tradisi agama islam di Arab Saudi. Masyarakat diberikan kebebasan dalam berpakaian tanpa harus menggunakan pakaian bergamis dengan batasan pakaian yang digunakannya menutup aurat. Rasulullah SAW dalam menyebarkan islam juga menyesuaikan dengan kondisi masyarakat. Terbukti dengan cara mensiarkan islam di Mekkah dan di Kota Madinah. Begitu pula dalam menjaga persatuan terdapat konsepsi kafir harbi dan kafir dhimmi. Kafir harbi yang wajib dibunuh karena tidak bisa menghargai adanya perbedaan dan menjunjung tinggi persatuan dan kafir dhimmi adalah kafir yang wajib dilindungi karena mampu menghargai perbedaan yang ada dengan berprinsip terhadap kesatuan dan persatuan negara. Toleransi yang di junjung tinggi tanpa memperhatikan ras maupun agama menjadikannya bagian dari islam inklusif yang merupakan islam terbuka dan menerima segala macam perbedaan sesuai dengan pancasila sila ke dua kemanusiaan yang adil dan beradab.

Islam Nusantara menjadi founding father terciptanya perdamaian dan persatuan negara Indonesia maupun dunia. Perdamaian dunia menjadi impian semua orang untuk hidup rukun, menghargai perbedaan, adil dan manusiawi dalam bertindak, berbuat dan beragama. Islam Nusantara  memberikan pelajaran menjungjung tinggi perbedaan dan tidak memaksakan untuk mengikuti agama tertentu sehingga mampu memfilter adanya konflik perbedaan agama didalam sebuah negara. Revitalisasi Islam Nusantara sebagai rahmat bagi ummat mampu memberikan inspirasi kepada peradaban dunia arti penting persatuan dan kesatuan dengan menjunjung tinggi perbedaan agama yang merepresentasikan Islam Rahmatan Lil Alamin.

Menurut pemikiran pendidikan Prof. Dr. Abuddin Nata guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang ditulis oleh Umar Makka, LC bahwa Islam adalah adalah agama yang Syamilah Mutakamilah, universal dan telah disempurnakan Allah, syariat dan hukum-hukumnya adalah universal yang tidak terbatas oleh ruang waktu dan tempat, sempurna dan menyempurnakan terhadap agama-agama sebelumnya sehingga ia tidak hanya menjadi rahmat bagi  pengikutnya. Yang dimaksud rahmat disini adalah Rahmatan Lil Alamin yang merupakan rahmat dan kasih sayang bagi semesta alam dan semua ummat manusia. Firman Allah dalam ayat Al-Qur’an surat Al-Anbiya’: 107

“Artinya: kami tidak mengutus engkau wahai Muhammad kecuali sebagai rahmat seluruh alam.”

Islam Rahmatan Lil Alamin yang dimaksud adalah islam sebagai rahmat seluruh ummat. Pengertian ummat disini adalah ummat manusia baik muslim khususnya dan non muslim yang hidup setelah zaman Rasulullah SAW. Jadi islam yang memberikan rahmat kepada seluruh ummat di alam semesta ini. Rahmat umat islam yang dimaksud berupa akhlak, kekayaan ilmu pengetahun dan sumber daya alam. Dari ketiga rahmat tersebut penulis menggambarkan dengan piramida ke atas berupa akhlak, tasawuf dan filsafat.

Pertama akhlak, yang dimaksud disini memiliki dasar-dasar bersikap didalam kehidupan bermasyarakat yang meliputi tawasuth dan i’tidal (prinsip hidup adil dan lurus), tasamuh (toleran), tawazun (moderat), dan amar ma’ruf nahi munkar (berbuat baik dan mencegah kejahatan).

Kedua tasawuf, munculnya ragam ilmu pengetahuan  tidak menafikkan lahir dari islam sebagai agama. Kejayaan islam pada zaman kejayaan dinasti abbasiyah sebagai bukti kongkrit munculnya beragam ilmu pengetahuan. Namun yang perlu diketahui bahwa kejayaan ummat islam tidak terlepas dari kecerdasan intelektual cendekiawan muslim tanpa mengabaikan kecerdasan spiritual dengan bersikap tasawuf.

Ketiga filsafat, kekayaan alam negara yang mayoritas berpenduduk muslim di dunia ini harus kita akui bahwa rahmat Allah SWT yang diturunkan kepada pemeluknya. Dan ummat islam selalu berfikir secara mendalam bagaimana cara untuk mengawal perdamaian dan kesejahteran dunia dengan kekayaan yang dimiliknya. Namun banyak sekali oknum yang ingin menguasai kekayaan ummat islam dengan menghadirkan kelompok islam garis keras, islam radikal yang membuat ummat muslim carut marut dan dilema dengan kondisi tersebut. Hal ini merupakan ujian bagi ummat islam.

Islam Rahmatan Lil Alamin mewujudkan terciptanya hidup rukun, damai dan bersahabat. mengayomi seluruh ummat baik muslim ataupun non muslim. Selain itu Islam Rahmatan Lil Alamin, Islam sebagai rahmat membuktikan negara mayoritas berpenduduk muslim mampu mengawal kesejahteraan ummat, hanya negara mayoritas berpenduduk muslim yang memiliki sumber daya dan kekayaan alam melimpah sehingga mampu membuat negara lain dilema. Mari bersama-sama menjaga keutuhan NKRI dengan ber Holopis Kuntul Baris gotong royong menjaga kutuhan, kenyamanan dan perdamaian bangsa dan negara kita. Hidup Indonesia! Hidup Islam Indonesia! Hidup Kita Semua!

Bagikan:

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.