Pondok Pesantren Anwarul Huda

Lembaga Ibadurrahman

Oleh: Arif Rachman Hakim, M. Luki Luqman, M. Rosikhon Ali

 

Islam adalah satu satunya agama yang di ridhoi oleh Alloh SWT. Menurut bahasa islam berasal dari kata “aslama” yang berari patuh, tunduk, berserah diri. Islam adalah nama agama wahyu yang diturunkan Allah swt kepada rasul rasulNya yang berisi wahyu Allah untuk disampaikan ke dunia. Islam yang diturunkan kepada nabi Muhammad adalah wahyu Allah terakhir yang diturunkan kepada manusia. Karena itu agama ini sudah sempurna dan senantiasa sesuai dengan tingkat perkembangan manusia dari awal hingga akhir peradaban kelak. Nabi Adam adalah bapak dari semua umat islam. Beliaulah yang pertama kali menginjakan kaki di bumi ini. Itu sebuah bukti bahwa kita adalalah satu keluarga. Selain itu islam mengajarkan kita untuk saling mengenal satu sama lainnya. Yang mana hal tersebut dapat menjadi benteng agama islam, terutama di Indonesia ini.

Maka dari itu, kita sebagai umat islam. Siapakah kita sebenarnya ? Di dalam Al-Qur’an telah dijelaskan gambaran konkret tentang manusia, dan penyebutan nama manusia tidak hanya satu macam. Penyebutan ini untuk menunjukkan berbagai aspek kehidupan manusia itu sendiri, antara lain: Sebutan Bani Adam, karena manusia adalah anak cucu Adam. Manusia disebut Basyar, yang mencerminkan sifat fisik kimiawi biologisnya. Manusia disebut Insan, berdasarkan tinjauan seara intelektual, yakni makhluk terbaik yang diberi akal sehingga mampu menyerap ilmu pengetahuan. Secara sosiologis, manusia disebut  Nas, menunjukkan kecenderungannya untuk berkelompok dengan sesamanya.

Sekilas mendengar tentang Indonesia maka sulit untuk menggambarkannya dalam satu atau dua kalimat. Hal ini tidak terlepas dari betaapa sangat pluralnya Negara tercinta kita ini. Dengan keberagman yang kita miliki justru membuat semakin kokoh dan solid meskipun di perlukan usaha lebih. Tak ayal seperti pelatih sepak bola, dalam satu tim terdapat beberapa sisi yang berbeda baik depan, tengah, atau belakang. Tim yang baik akan mampu menggerakkan segala lini dan sektornya bukan bergerak sendiri- sendiri.

Sudah cukup bangsa kita dijajah belanda 350 tahun, andaikan pribumi tidak bersatu yang notabene sangat jauh beragam baik poleksosbud maka sangat sulit bagi bangsa ini untuk merdeka. Berkat kerukunan beragama antar individu dan kelompok akan tercipta persatuan yang sangat potensial menjadi daya yang luar biasa. kita harus lebih bersyukur tatkala sampai saat ini Indonesia tidak terjadi konflik seperti kerusuhan dan kekrisuhan yang terjadi di Timur Tengah.

Kerukunan menjadi kunci Tuhan akan menurunkan ridhonya,  tapi rukun saja tidak cukup untuk menjadikan negeri ini bersaing dengan bangsa besar lainnya di dunia. Yang kita butuhkan ialah persatuan, loyalitas dan solidaristas di seluruh strata masyarakat. Saat ini  bukan waktunya untuk kita bangsa Indonesia untuk saling menyalahkan, merendahkan, membandingkan baik ras, budaya, maupun agama.

Perbedaan ini seharusnya jangan sampai dijadikan manusia sebagai penghambat kerukunan. Kerukunan tersebut natinya agar umat manusia saling kenal mengenal dan mengasihi antar sesama. Perbedaan antar umat manusia sendiri sudah dijelaskan pada Al-Qur’an:

 Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengena. (QS. Al-Hujurat : 13)

Ayat di atas menjelaskan tentang kerukunan antar umat manusia. Umat manusia sendiri diciptakan oleh Allah berkelamin laki-laki dan perempuan dan menjadikan berbangsa dan bersuku-suku agar umat manusia dapat mengenal satu sama lain. Saling menghargai dan tolong menolong, bukan saling menghujat dan menyakiti.

Pada dasarnya manusia diciptakan hanya untuk beribadah dan itu mutlak hingga diterangkan dalam FirmanNYA ”Tidak Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu (QS. 51(al-Dzariyat ): 56)”.  Perlu diketahui bahwasanya ibadah tidak hanya sebatas hubungan antara makhluk dengan Tuhan saja atau ibadah mahdoh itu sendiri, Ibadah dalam islam dibagi menjadi dua janis yaitu mahdhoh dan ghoiru mahdhoh, bila ibadah mahdhoh sudah dijelaskan diatas, maka pengertian ghoiru mahdhoh adalah ibadah yang dilakukan  manusia untuk mencari ridho Allah Swt serta merupakan hubungan atau interaksi antara makhluk (manusia) dengan makhluk lainnya. Terjadinya hubungan sosial ini Tidak bisa dipungkiri bahwasanya manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang tidak bisa hidup dan memenuhi kehidupannya sendiri dan pasti membutuhkan bantuan orang lain.

Dalam islam sendiri ada cara atau konsep yang mengajarkan umat manusia agar saling mengenal dan memiliki rasa kerukunan atau persaudaraan (ukhuwah). Ukhuwah sendiri dibagi menjadi tiga macam yaitu: Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Watoniah, dan Ukhuwah Basariah.

Ukhuwah Islamiyah adalah persaudaraan yang sifatnya dalam hal keagamaan, khususnya intern antar umat islam. Islam adalah agama pemersatu, bukan golongan yang tercerai berai dalam menjalankan syariat dan akidah islam itu. Jadi dalam konsep ini umat manusia bukan berarti harus membenarkan semua ajaran agama yang ada di dunia ini dengan dalih toleransi, tapi pada konsep ini manusia harus memiliki rasa toleransi pada agama lain tanpa harus mengikuti ajaran mereka. Dalam Al-Qur’an surat Al-Kaafiruun ayat 6, yang artinya: “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”.

Ukhuwah wathoniah adalah persaudaraan berdasarkan kenegaraan. Rasa nasionalisme sebangsa dan setanah air, tanpa memandang ras, agama, dan derajat, dalam mewujudkan kerukunan. Kerukunan inilah yang dapat menjauhkan dari saling menyalahkan dan saling mencelakakan. Nasionalisme yang kuat memunculkan sikap toleran dan menjauhkan sikap diskriminan. Alim ulama, seperti Gus Dur, yang mempunyai sikap toleran yang tinggi, ibarat seperti hujan yang menyejukkan di tengah teriknya matahari musim kemarau, di mana banyak golongan yang merasa ternaungi dan dilindungi.

Ukhuwah Basyariah menyangkut hubungan seluruh manusia, bukan hanya satu bangsa saja, melainkan seluruh dunia. Allah memerintahkan kepada manusia untuk saling tolong menolong antara satu dengan yang lain tanpa melihat apa agamanya, bangsanya, dan sukunya. Perbedaan warna kulit, bahasa yang digunakan, dan kebudayaan yang dimiliki bukanlah halangan untuk memunculkan hubungan sinergis untuk saling menguntungkan.

Dari Abu Hurairoh berkata, Rasulullah SAW. Bersabda, ‘’barang siapa melepaskan dari seorang muslim satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan di dunia, niscaya Allah melepaskan dia dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Dan barang siapa member kelonggaran kepada orang yang susah, niscaya Allah akan member kelonggaran baginya di dunia dan akhirat; dan barang siapa menutupi aib seorang muslim,  niscaya Allah menutupi aib diadi dunia dan di akhirat. Dan Allah selamanya menolong hamba-Nya, selama hambanya menolong saudaranya.” (H.R.Muslim)

Hadist diatas menjelaskan secara ringkas bagaimana seharusnya seorang muslim saling tolong-menolong dalam kesusahan, maka jelas Allah SWT meridhoi perkara yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, memupuk rasa peduli terhadap sesama, mengasihi dan menolong dari rasa ketidakberdayaan. Patutlah seorang muslim apabila sudah melakukan ibadah mahdhoh maka iya melakukan ibadah sosial (habblum minannnas).

Manusia diberi dua kedudukan yang mulia oleh Allah, yaitu sebagai hamba Allah dan khalifah Allah. Sebagai hamba Allah, manusia bertugas beribadah serta tunduk dan patuh kepadanya. Sebagai khalifah Allah, manusia bertugas sebagai pemegang mandat Tuhan guna mewujudkan kemakmuran di bumi. Allah menciptakan sesuatu dengan tujuan tertentu tanpa ada yang sia-sia atau tanpa maksud. Itulah sebabnya manusia harus berupaya melakukan apapun yang dikehendaki Allah dan tidak menyimpang dari  ketentuannya. Menurut Al-Qur’an QS A-Dzariyat,Allah menciptakan manusia agar beribadah kepadanya seperti berikut:

Artinya: “Dan aku tidak menciptakanjin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu.”

Pada dasarnya manusia dipandang sama oleh Tuhan yang maha esa. Bila melihat dari sudut pandang islam, mari kuatkan jalinan silaturahim sesama muslim, saling mengasihi, tolong menolong dan membantu dalam hal kebaikan sesuai firman Allah Swt:

 “ Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya [al-Mâidah/5:2]

Menurut ayat di atas, al-birru bermakna kebaikan. Kebaikan dalam hal ini adalah kebaikan yang menyeluruh, mencakup segala macam dan ragamnya yang telah dipaparkan oleh syariat. Bila dilihat dengan nilai sosial arti tolong-menolong adalah tindakan aplikatif yang benar menurut agama islam untuk menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Kalau pada saat ini, bangsa ini dilanda situasi yang kurang kondusif, di mana banyak perselisihan pendapat antara tokoh satu dengan yang lainnya, pertikaian antara kampong satu dengan kampong lainnya, ketidak rukunan antara suku satu dengan yang lainnya, mengindikasikan bahwa manusia selalu bertindak semaunya sendiri, menomor satukan ego dan menomor duakan akibat yang akan ditimbulkan. Hal-hal seperti itu tidaklah diajarkan dalam nilai-nilai islam, karena lebih mirip pada perbuatan zaman jahiliyah dulu. Apakah modernisasi kehidupan membawa manusia pada kejahiliyahan budi pekerti?. Oleh itu, marilah kita renungkan, bermuhasabah mencari kekurangan pada diri sendiri, dan berusaha memperbaikinya.

Waktunya kita bangkit, Allah swt. juga menyuruh kita agar tidak saling mencemooh satu sama lain. Asal kita ketahui bahwa ketika ucapan yang keluar dari mulut muslim maupun non muslim kepada orang lain ialah sebuah doa dan pengharapan diri  terhadap terwujudkan kata yang kita ucapkan. Maka berhati hatilah dalam berprasangka, sama sama mengeluarkan  lebih baik berprasangka baik yang akan berdampak positif. Kesatuan dan persatuan akan mampu mengokohkan Indonesia menjadi bangsa yang aman, tentram, dan nyaman. Tetap jaga hablumbinafsi, hablumminallah dan hablumminannas.

Bagikan:

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Might Also Like