IMAN DAN AMAL

Published by Ponpes Anwarul Huda on

Oleh: Mohammad Bastomi

“Barangsiapa yang mengerjakan amal soleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguh-nya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS: An-Nahl: 97)

Dunia ini bukanlah tempat yang aman untuk ditinggali, melainkan sebuah tempat di mana manusia menjalankan ujian dari Tuhannya. Sepanjang-panjang umur manusia, pastilah akan menua dan kemudian mati.  Tidak ada satupun makhluk yang hidup abadi, karena Allah menciptakan keabadian hanya untuk di akhirat. Tidak ada yang kekal di dunia ini, rumah akan hancur, mobil akan rusak, umur akan habis, harta akan ditinggalkan, bahkan alam ini akan hancur pada waktunya, semuanya memiliki batasan. Tidak ada yang tidak terbatas didunia ini, semuanya ada batasannya, yang tidak terbatas nanti di akheratnya Allah.  Apabila manusia hanya berfokus pada kehidupan dunia, maka sudah tentu akan menuai kerugian besar di akhirat nantinya. Harta, tahta, dan wanita menjadi tipu daya yang mampu menyilaukan mata manusia. Hal-hal itulah yang menjadikan manusia menjadi serakah dan lupa bahwa apa yang dikejar di dunia hanya ketidakpastian dan tipuan. Segala sesuatu yang dilakukan di dunia tanpa ditujukan kepada Allah hanya menjadi sebuah kesia-siaan belaka.

Ibarat seorang musafir yang sedang berlayar, berhenti disebuah dermaga bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Pemberhentian hanya bertujuan untuk transit menuju pulau lainnya sebelum sampai ke pulau tujuan. Salah besar apabila musafir tadi mati-matian kerja untuk membangun rumah disekitar dermaga, padahal hal tersebut bukan tujuan utama dari perjalanan yang dilakukan. Maka, suatu kebodohan jika musafir tadi mengeluarkan segala usaha untuk membangun rumah apabila pada akhirnya akan ditinggalkan. Sebuah kerugian akan muncul di hati musafir ketika tersadar bahwa ia tidak akan sampai pada pulau yang dituju. Ketika itu, penyesalan sudah tidak ada gunanya.  Kehidupan akhirat akan terbentuk dari apa yang diusahakan oleh manusia ketika masih hidup di dunia. Segala amal baik dan buruk akan mendapatkan balasan yang setimpal, di mana amal yang membawa ridho Allah akan mengantarkan manusia ke surga. Sedangkan amal yang membawa murka Allah akan mengantarkan kita ke neraka. Kehidupan di surga ataupun neraka bersifat abadi, sehingga hanya ada dua pilihan di akhirat nantinya, bahagia selama-lamanya atau menderita selama-lamanya, tergantung dari amal manusia di dunia.

Iman ialah kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu. Jika diibaratkan, iman adalah sebuah biji. Biji itulah sumber dari sebuah pohon. Biji tersebut akan mampu tumbuh apabila ditanam. Tingkat kesuburan pohon yang tumbuh tergantung dari perlakuan yang diberikan kepada pohon tersebut. Akan tumbuh subur apabila mendapat air, pupuk, dan cahaya yang cukup. Begitupula semuah iman yang dimiliki oleh manusia. Seorang manusia yang menyatakan keimanan terhadap Allah, maka ia secara tidak langsung menghadirkan Allah dalam hatinya. Iman yang muncul dalam hati manusia akan terus tumbuh menguat seiring dengan amal-amal sholeh yang telah dikerjakan, dan juga sebaliknya.

Iman itu memiliki 76 tingkat. Tingkatan yang paling utama adalah mengucapkan Laailaha ilallah. Sedangkan tingkatan paling rendah adalah membuang sesuatu yang menggangu jalan. Dan malu adalah sebahagian daripada iman. (HR Muslim)

Dalam sebuah hadits diterangkan bahwa kalimat Laailaha ilallah merupakan tingkat tertinggi dalam keimanan seseorang apabila diucapkan dengan keikhlasan dan keyakinan. Kalimat tersebut menjadi sebuah pengakuan seorang hamba atas keberadaan Tuhannya yang berkuasa atas segala hal. Kalimat Laailaha ilallah menjadi sebuah dzikir yang mampu membersihkan hati manusia dari sifat-sifat kotor, seperti hasud, iri, tama’, dll.

Dalam kitab al-Hikam karangan Syekh Attho’illah disebutkan bahwa untuk mencapai kesempurnaan iman, seorang muslim akan menempuh beberapa tahapan keimanan. Dimulai dengan ilmul yaqien, yang mana seorang yang hanya meyakini sesuatu berdasarkan pengetahuan atau ilmu yang telah didapatkan seperti halnya pengetahuan seseorang terhadap sebuah kota di mana orang tersebut belum pernah mengunjungi kota itu. Tahapan selanjutnya, tahapan ainul yaqien, yang mana seorang pernah secara langsung mengindera sesuatu yang telah diketahui dari ilmunya. Namun, penginderaan tersebut tidak mendetail layaknya seseorang yang mengelilingi kota sehingga tidak mengetahui secara terperinci keadaan kota tersebut. Tahapan terakhir, haqqul yaqien, yang mana seseorang mampu merasakan keimanan tidak hanya sekedar mengindera melainkan menggunakan dzauq (rasa) dalam mengenali Tuhannya, seperti halnya seseorang yang mengenal sebuah kota secara detail tidak hanya dari informasi melainkan pernah mengunjungi kota tersebut sehingga orang itu mengetahui seluk beluk dan keadaan kota tersebut.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS al-Baqoroh ayat 3:

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Manusia memiliki tingkat keimanan yang berbeda, tidak serta merta keimanan manusia berada pada tingkat tertinggi tanpa adanya latihan (riyadhah). Dengan melakukan amal-amal baik, keimanan akan terus meningkat.  Riyadhah dan dzikir menjadikan manusia dijauhi setan dan terhindar dari himpitan kesibukan dunia. Seorang manusia yang menunda-nunda amal baik yang bisa mendekatkannya kepada Tuhannya karena merasa tidak memiliki waktu luang disela-sela kesibukannya di dunia, maka tindakan tersebut mencerminkan tanda kebodohan jiwanya. Kebodohan yang dimaksud karena menunda amalnya dengan menunggu waktu luang. Padahal, waktu adalah sesuatu yang tidak dapat dikembalikan, justru sewaktu-waktu ajal yang menjemput tiba-tiba. Oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang hamba melakukan amal-amal yang mampu mendekatkan dirinya kepada Tuhannya sebelum terlambat.

Kebahagiaan dan kesuksesan tidak akan diperoleh tanpa keimanan. Sebagaimana Allah telah memberikan tata cara kepada orang beriman untuk menggapai kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat. Nabi Muhammad SAW tidak menyebutkan bahwa kekayaan bukanlah jaminan yang bisa menjadikan manusia bahagia. Bahkan, harta yang dimiliki manusia nantinya akan menjadi fitnah terbesar di akhirat. Kehidupan sederhana yang jauh dari bergelimang harta menjadi kehidupan yang di ikuti oleh para sahabat RA. Dalam penaklukkan Persia, sahabat Umar RA menangis ketika menerima banyak harta ghanimah karena Nabi Muhammad SAW tidak pernah mencontohkannya untuk hidup bergelimangan harta. Akhirnya, harta tersebut dibagi-bagikan semuanya kepada para sahabat yang lebih memerlukan sampai habis. Akan tetapi, Khadam Umar RA berkata bahwa para sahabat yang menerima pemberian itu malah membagi-bagikannya kepada orang lain sampai habis. Inilah yang dicontohkan oleh sahabat RA.

Dunia menjadi tempat ujian bagi orang beriman, di mana menjalankan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan Allah. Dunia bukanlah tempat bersenang-senang, tetapi menjadi tempat bersabar atas aturan Allah. Sedangkan bagi orang tidak beriman, dunia menjadi tempat bersenang-senang atas dilaggarnya aturan Allah. Namun, di akhirat nantinya orang-orang yang tidak beriman tidak akan mendapatkan bagian apa-apa kecuali kesengsaraan yang abadi, yaitu neraka. Perlu diingat bahwa di dunia ini semua ada batasnya, tidak ada yang abadi. Senang ada batasnya, Susah ada batasnya, bahagia ada batasnya, sedih ada batasnya, sehat ada batasnya, dan sakit ada batasnya, yang mana pembatasnya adalah kematian.

Bagaimanakah kematian memutus segala hal yang berhubungan dengan dunia?. Kesenangan manusia di dunia belum tentu diperoleh di kehidupan akhirat apabila ingkar kepada Allah. Kesusahan manusia di dunia belum tentu menjadi kesusahan di akhirat apabila di dunia taat kepada Allah. Kesehatan manusia akan terputus karena kematian memisahkan antara ruh dan badan. Kesakitan manusia akan terputus karena kematian menghilangkan segala penyakit yang dirasakan. Kehidupan setelah di dunia ditentukan atas amal yang dikerjakan di dunia. Kesuksesan kehidupan di dunia adalah kehidupan yang mampu mengantarkan seorang manusia kepada surganya Allah. Apabila manusia sampai masuk  neraka, maka manusia itulah yang merugi atas kehidupan yang gagal di dunia.

Buah amal sholeh di dunia adalah kenikmatan beramal. Abu Turab berkata, “ Jika seorang hamba tulus dalam amalnya, ia akan mendapatkan manisnya amal itu sebelum mengerjakannya. Jika ia ikhlas dalam amalnya, ia akan mendapatkan manisnya amal itu saat mengerjakannya.”

Sekalipun manusia telah merasakan manisnya beramal, tidaklah pantas untuk terlena dan merasa bahagia. Ia juga tidak layak berharap agar amal tersebut berlangsung terus lantaran merasakan manisnya kenikmatan karena hal tersebut akan merusak keikhlasan dan ketulusan niatnya dalam beribadah.

Nabi Muhammad SAW memandang ummat pada zaman akhir memiliki iman yang menakjubkan. Akan tetapi, lihatlah apakah amal perbuatan manusia sekarang ini mampu mencerminkan sebagai orang yang pantas mendapatkan pujian dari Nabi Muhammad SAW. Pada kenyataannya, manusia pada zaman sekarang ini kurang berperilaku seperti halnya yang telah dicontohkan Rasulullas SAW. Bahkan, sesama ummat islam saling mengkafirkan, saling menghujat, dan saling bermusuhan. Tidak memandang orang kaya atau miskin, orang terhormat atau rendahan, orang berilmu atau bodoh, sebagian besar dari mereka tenggelam dalam gemerlap kemewahan dunia dan berlelahan dalam mengejar kesenangan dunia.

Untuk dapat mengamalkan agama ini diperlukan iman. Orang yang mengamalkan agama tanpa iman ini seperti halnya orang yang membawa koper berisi batu. Orang yang membawa koper ini akan terlihat seperti orang yang banyak uang, bawa koper kemana-mana. Padahal setelah di buka isinya batu, mau beli apa-apa tidak laku. Inilah orang yang mengamalkan agama tetapi tidak ada iman. Seperti juga menuangkan air pada wadah yang berlubang, yang sudah pasti airnya tidak akan tertampung karena bocor. Begitulah ibarat antara iman dan amal. Allah maha adil. Allah memberikan balasan kepada semua makhluknya, tidak terkecuali kepada orang kafir. Allah memberikan balasan kebaikan pada orang kafir yang melakukan amal baik di dunia. Sehingga tidak tercatat lagi kebaikan yang berhak dituntut orang kafir di akhirat nantinya. Sebesar apapun amal baik yang dilakukan manusia di dunia, apabila tidak disertai iman di dalam hatinya, maka tidak ada balasan kebaikan yang akan diberikan di akhirat.

(Tulisan ini diambil dari berbagai sumber)

Bagikan:

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.