Oleh : KH. Ali Badri Masyhuri

(Pengasuh PP. Arrisalah Candirobo, Pasuruan)

Membela bangsa dan tanah air itu merupakan fitrah dan keniscayaan. Tanpa diajarkan, seorang manusia dengan fitrahnya akan membela bangsanya. Ketika fitrah itu tertutup oleh hawa nafsu , baik nafsu kemanjaan maupun nafsu kepengecutan, maka mengajak berjuang untuk membela bangsa adalah hal yang seharusnya. Sebagai pembawa agama fitrah, semua Kitab Suci yang diturunkan oleh Allah SWT, sepakat mengajarkan perjuangan membela bangsa dan tanah air . Bedanya,  Kitab Suci mengajarkan perjuangan dengan tujuan untuk mendapat ridha Tuhan, bukan karena fanatik kebangsaan. Tujuan ini akan sangat membantu seorang hamba untuk selalu bersikap adil dan terhormat terhadap orang yang memusuhi dan menjajah bangsanya, sehingga hamba itu tidak kehilangan sikap terhormatnya walaupun dalam situasi perang.

Surah Al – Baqarah berbicara tentang membela bangsa dan tanah air pada ayat 84, yaitu firman Allah SWT yang artinya , “Dan ( ingatlah ) ketika kami ambil perjanjian kalian bahwa kalian tidak boleh menumpahkan darah kalian dan tidak boleh mengeluarkan diri – diri kalian dari tanah air kalian . Kemudian kalian telah berikrar dan bersaksi.”

Ayat ini memang lebih khusus bercerita tentang Bani Israil yang mendapat perintah membela bangsanya, namun perintah semacam ini juga berlaku untuk setiap bangsa dan setiap zaman. Allah melarang Bani Israil menupahkan darah saudara mereka sesama Bani Israil, baik pertumpahan darah itu oleh mereka sendiri maupun oleh orang lain, dan juga agar tidak membiarkan orang lain menumpahkan darah mereka. Allah melarang Bani Israil mengeluarkan saudara dari tanah air mereka, dan agar mereka tidak  membiarkan orang lain mengeluarkan mereka atau menjajah tanah air mereka. Larangan membiarkan saudara dizhalimi dan dijajah berarti perintah untuk berjuang membela bangsa dan tanah air.

Perjuangan membala bangsa dan tanah air menjadi salah satu perintah Allah, sehingga kita berjuang bukan karena fanatik kebangsaan, tapi berjuang karena Allah.  Iman dan kecintaan kepada Allah akan memberi semangat yang luar biasa untuk berjuang membela bangsa dan tanah air , ini telah dibuktikan oleh kisan kisah perjuangan yang melegenda di berbagai belahan dunia dimana para pejuangya adalah, orang – orang beriman. Untuk membandingkan kekuatan iman dan kekuatan fanatik kebangsaan, saya tidak akan mengajak anda untuk membicarakan tentang mukjizat dan pertolongan Allah secara lahiriyah, saya hanya Ingin membuktikan bahwa iman jauh lebih berhasil menumbuhkan semangat juang daripada fanatik kebangsaan.

Saya ambil contoh satu cerita saja dari rentetan kisah perjuangan di Nusantara, yaitu kisah perebutan Sunda Kelapa ( Jakarta ) dari tangan penjajah ( Portugis ). Ketika Sunda Kelapa dikuasai oleh Portugis, Kesultanan Islam Demak dan Kesultanan Islam Cirebon mergirim pasukan yang dipimpin oleh Maulana Fatahillah, Sunda Kelapa adalah bagian dari Kerajaan Hindu Pajajaran yang berarti rakyatnya kebanyakan Hindu, ketika itu Kerajaan Pajajaran sendiri menyerah dan membiarkan Portugis menjajah Sunda Kelapa, namun umat Islam tidak terima ada pelanggaran HAM walaupun terhadap ummat lain maka merekapun berperang dan siap mengorbankan nyawa demi membela HAM bagi orang – orang Hindu yang dijajah itu.  Setelah dua pasukan Demak dan Cirebon yang dipanglimai oleh maulana Fatahlillah berhasil mengusir Portugis maka rakyat Sunda Kelapa sepakat mendirikan kota baru dan berlindung pada Kasultanan Cirebon . Di sini sama sekali tidak ada cerita pemaksaan Sunda Kelapa keluar dari pemerintahan Kerajaan Pajajaran, melainkan rakyat sendiri merasa aman berada dibawah perlindungan Kasultanan Islam Cirebon, apalagi mereka jelas – jelas telah “dijual” kepada penjajah oleh Raja mereka sebelumnya. Maka Maulana Fatahillah menggati nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta dan kini disingkat dengan Jakarta.

Semangat dan keberanian pasukan Fatahlillah lahir dari keimanan, itulah yang membuat pasukan Portugis kalah secara mental sehingga mereka kalah perang. Padahal saat itu, Kerajaan Sunda bersekutu dengan Portugis. Tentu saja mereka memiliki fanatik kebangsaan terhadap bumi Pasundan, tanah air mereka, namun termyata fanatik kebangsaan itu tidak berhasil menahan mereka untuk bersekutu dengan penjajah dari Portugis, karena fanatik kebangsaan mudah dikalahkan oleh hawa nafsu, mereka takut bermusuhan dengan Portugis dan menerima janji bagi – bagi kekuasaan.

Penjajah terus berdatangan di belahan Nusantara ini dari Belanda, Jepang dan sebagian negeri seberang juga dijajah oleh Inggris, Amerika dan Spanyol. Setiap Cerita perjuangan kemerdekaan diberbagai belahan Nusantara ini dipelopori oleh Ulama. Mulai diera Walisongo hingga Pangeran Dioonegoro, bahkan para Jendral pejuang 45 adalah hasil cetakan para Ulama. Mungkin sebagian pembaca belum tahu ketika Republik Indonesia ini pertama kali membentuk TNI dan membuka pendaftaran, 90 persen pendaftar yang diterimanya adalah alumni Pondok Pasantren, sebelum merdeka itu mereka tergabung dalam pasukan Hizbullah dan pasukan Sabillah bentukan Ulama Pesantren. Maka TNI angkatan pertama 90 persennya adalah santri tulen. Dengan demikian, kita bisa memahami tafsir kalimat “Hubbul Wathan Minal Iman” dengan “cintailah negara berdasarkan iman”, bukan “kalau mencintai negara berarti telah beriman”.

(dikutip dari Majalah Media Ummat Edisi 310 –Tahun 2019)

Bagikan:

1 Comment

Islam dan Demokrasi | Pondok Pesantren Anwarul Huda · September 18, 2020 at 6:28 am

[…] Baca juga: Hubbul Wathan Minal Iman […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!