HIKMAH ZAKAT

Published by Ponpes Anwarul Huda on

Oleh : KH M Baidowi Muslich

Ada orang yang beranggapan bahwa harta bendalah yang menyebabkan hati menjadi tenang, uang penyebab utama kebahagiaan, dan kekayaan yang menjadikan orang hidup tenteram dan sejahtera. Anggapan tersebut tidak seluruhnya salah, tetapi juga tidak semuanya benar. Masih perlu diadakan penelitian dari manakah orang itu mendapatkan hartanya? Atau dengan kata lain:

  • Apakah harta yang dimiliki orang itu halal atau haram?
  • Apakah penggunaan harta tersebut sesuai dengan tuntunan agama atau tidak?

Kalau harta tersebut haram, mungkin cara mencarinya salah, yaitu semisal dengan hasil penipuan, korupsi, judi, dan lain sebagainya. Maka jelas, harta kekayaan tersebut tidak akan menyebabkan ketenangan, ketenteraman, dan kebahagiaan. Justru dia akan tersiksa dengan hartanya, dia tidak akan merasa puas hatinya dengan harta itu, dia ingin menguasai harta sebanyak-banyaknya, seluruh waktu dan tenaganya dihabiskan, semua pikiran dan angan-angannya dicurahkan hanya untuk mencari dan menumpuk-numpuk uang, uang, dan uang.

Setelah harta itu terkumpul, dia lebih disibukkan lagi oleh hartanya, dia ingin hidup lebih lama di dunia ini, takut akan mati, bahkan dia lupa bahwa sebentar lagi dia mati. Inilah namanya orang yang dikuasai harta, bukan orang yang menguasai harta. Itulah siksa dunia. Padahal siksa akhirat lebih parah dan kejam lagi. Dia tidak dapat masuk surga, melainkan masuk neraka. Rasulullah SAW bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ ، النَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Tidak bisa masuk surga, daging dan darah yang tumbuh dari makanan yang haram” (HR. At-Turmudzi)

Sekarang, bagaimana kalau harta itu halal? Jika harta itu halal, masih perlu adanya peninjauan ulang, bagaimanakah cara membelanjakannya? Orang yang mengerti tuntunan agama tentu menyadari bahwa:

  • Harta kekayaan itu pada hakekatnya adalah milik Allah yang dititipkan kepada manusia.
  • Manusia boleh menggunakan untuk sementara hidup di dunia ini.
  • Pada harta itu terdapat hak sosial disamping hak pribadi, maka sebagian harta itu wajib dikeluarkan:
  • Mungkin sebagai zakat,
  • Mungkin sebagai infaq,
  • Mungkin sebagai sodaqoh, dan sebagainya.

Disamping mengeluarkan zakat, infaq, dan sodaqoh, orang juga menggunakan hartanya hartanya sebagai bekal atau sarana ibadah, bekal mengabdi kepada Allah SWT, atau untuk perjuangan menegakkan kalimat Allah (agama Islam) tidak untuk berfoya-foya menuruti hawa nafsu, terlebih untuk maksiat. Itulah harta yang membawa kebahagiaan, ketenteraman serta kesejukan hidup lahir batin, di dunia dan di akhirat. Harta itulah yang akan diganti oleh Allah dengan surga. Firman Allah dalam Al-Qur’an QS At Taubah ayat 111:

“sesungguhnya Allah SWT mengganti dari orang-orang mukmin, dirinya dan hartanya bagi mereka itu adalah surga”

Sabda Nabi Muhammad SAW:

 “Bahwa orang yang perlu dicontoh adalah seseorang yang diberi Allah harta yang banyak, kemudian harta itu digunakannya dengan benar sampai habis. Dan orang yang diberi Allah ilmu, kemudian ilmunya itu diamalkan dan diajarkan kepada orang lain” (HR. Bukhari Muslim)

Sekarang apabila harta itu halal, tetapi jika orangnya kikir atau bakhil, atau digunakan untuk maksiat, jelas harta tersebut akan menjadi bencana. Dalam kalamNya Allah mengancam orang-orang yang kikir atau bakhil:

وَلَا يَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ هُوَ خَيْرًا لَّهُم ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا۟ بِهِۦ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Ali ‘Imran: 180)

Demikianlah, semoga Allah SWT mencukupi kita dengan rejeki yang halal, dan dijauhkan .dari rejeki yang haram, serta dijadikan orang-orang yang dermawan sebagai calon penghuni surga. Bukan orang-orang yang kikir yang notabene sebagai penghuni neraka. Amin amin Yaa Robbal Alamin.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *