Oleh: Moch. Agung Khoirudin Masa Arghobi

 

Pondok pesantren menjadi simbol keislaman di Indonesia, khususnya di tanah Jawa. Jawa Timur menjadi ladang tumbuh-kembangnya tempat yang disebut sebagai pondok pesantren. Membicarakan pesantren, berarti membicarakan pernak-pernik yang ada di dalamnya. Kyai dan santri mungkin hal umum yang banyak dibicarakan masyarakat. Padahal, ada banyak sekali keunikan di dalamnya, misalnya sorogan, lalaran, ro’an, sampai takziran. Pasti hal tersebut masih asing bagi yang belum pernah “mondok(istilah bagi yang menimba ilmu dan bermukim di pondok pesantren).  Belum banyak tulisan yang membicarakan tentang keunikan lain dalam pondok pesantren selain yang disebutkan tadi, seperti halnya taman hijau dalam pesantren. Sebelum membahas hal tersebut, alangkah baiknya mengetahui makna pondok pesantren terlebih dulu.

Pondok dan pesantren, dua hal yang mungkin dianggap satu kesatuan. Benarkah memang seperti itu? ternyata tidak. Sebenarnya, istilah pondok pesantren merupakan kata baru yang sudah menjadi kebiasaan dari dulu. Hal ini senada dengan pernyataan dari almarhum Prof. Dr. KH. Achmad Mudlor, S.H, mantan Rektor Universitas Lamongan bahwa pondok pesantren adalah istilah yang dipopulerkan oleh kalangan akademisi pada zaman Belanda. Pondok pesantren merupakan istilah yang sudah menjamur di masyarakat. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan, pondok artinya bangunan sementara; teratak; rumah kecil; atau asrama.  Jika menelisik lebih mendalam, banyak istilah pondok yang digunakan selain pondok pesantren. Sebut saja pondok wisata, usaha perseorangan yang digunakan wisatawan untuk menginap. Pon-dok-an, rumah tinggal sementara yang disewakan seperti hotel namun dengan skala lebih kecil, serta pondok-pondok lainnya. Kemudian, dari manakah asal mula pondok pesantren itu?

Sebelum menjawabnya, perlu dimengerti asal kata pesantren. Kyai Haji Abdurrohman Wahid (Gus Dur) dalam buku “Biografi Gus Dur” memberikan pengertian, pesantren ialah akademi dimana ada guru dan murid belajar agama islam bersama-sama, sekaligus pusat keilmuan islam masyarakat sekitar. Lambat laun, santri-santri dari tempat jauh berdatangan sehingga perlu adanya pemondokan (tempat sementara bagi santri). Berangkat dari dari sinilah, dapat simpulkan bahwa pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan islam yang menjadi pusat kajian keagamaan, melalui berbagai kegiatan seperti pengajian, madrasah, serta wadah masyarakat dalam amaliah spiritual lainnya. Ponpes (sebutan pondok pesantren) semakin berkembang mulai dari awalnya yang bersistem salaf dengan metode kitab kuning, seperti Ponpes Lirboyo Kediri. Kemudian muncul ponpes bersistem bilingual (penguasaan bahasa arab dan inggris), seperti Ponpes Darussalam Gontor.

            Pondok pesantren memiliki sejarah panjang tersendiri di Kota Malang, bahkan ada beberapa yang sudah berdiri lebih dari satu windu. Kota hijau dengan kawasan pegunungan dan paronama indah. Kota apel dengan segala kesejukan dan pesona keindahan alamnya menarik orang berdatangan, dari wisatawan sampai kaum pelajar. Seiring bertambahnya tahun, penghijauan di Kota ini mulai berkurang. Kota hijau seakan hilang oleh kokohnya bangunan. Pengurangan lahan hijau untuk dijadikan bangunan mall, perguruan tinggi, dan ruko-ruko semakin meluas. Di sinilah peran pondok pesantren untuk menjaga kelestarian lingkungan. Sebagaimana salah satu tugas manusia di bumi adalah sebagai khalifah mengemban amanah untuk mencegah kerusakan alam dengan memelihara penghijauan. Salah satu pondok pesantren di Kota Malang yang masih memperhatikan kelestarian lingkungannya adalah Pondok Pesantren Anwarul Huda (PPAH). PPAH bisa disebut ponpes yang masih baru, berdiri pada tahun 1997 dicetuskan oleh sosok kharismatik, KH. Muhammad Baidlowi Muslich. Pondok pesantren bersistem salaf (kuno) yang sampai saat ini dapat dibilang sebagai pecinta lingkungan, hal ini terbukti dari berbagai jenis tanaman yang terawat di dalam lokasi pondok.

            Al-Qur’an sebagai kalam Illahi, telah disebutkan di dalamnya secara terang jika warna hijau menggambarkan kehidupan kelak di Surga. Perasaan rindu bagi kaum muslimin untuk masuk surga yang penuh dengan taman-taman hijau, juga dengan penghuni surga yang berpakaian hijau. Hal ini diperjelas oleh firman Allah swt. sebagaimana berikut:

Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau, sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak dan Tuhan mereka memberikan minuman yang bersih kepada mereka” (QS. Al-Insan: 21).

Kalam tersebut menjelaskan di surga kelak manusia memakai pakaian berwarna hijau. Seirama dengan Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib berkata: “Jika kalian masuk ke taman maka berlama-lamalah kalian merenunginya, karena ia dapat membersihkan mata dan menyegarkan pikiran dan dapat juga menghilangkan rasa pusing”. Melihat dan merenungi dari makna kalimat tersebut, bahwasannya bumi yang hijau merupakan nikmat dunia layaknya seperti di surga nanti. Sebagai manusia perlunya menjaga kehijauan untuk menjernihkan mata dan pikiran.

Dalam buku Umar Khalid Ad-Dasuki, Imam Syafi’i mengatakan bahwa: “terdapat empat hal yang dapat memperkuat mata yaitu memakai pakaian yang bersih, memandangi dedaunan yang hijau, duduk menghadap kiblat dan memakai celak sebelum tidur”. Jelas sekali apabila warna hijau pada taman dan dedaunan mengandung sari hikmah. Selayaknya hidup menjaga keseimbangan alam dengan tetap melestarikan makhluk-makhluknya. Hablumminallah dan hablumminannas selalu diupayakan bagi kaum yang beriman.  Iman kepada Allah serta berhubungan baik dengan sesama manusia belum cukup untuk menunjukkan cinta yang hakiki kepada Allah swt. Mengamalkan amaliah tersebut disertai dengan merawat hijaunya alam adalah bentuk loyalitas kecintaan kita pada Allah swt. Sebagai tempat mencari ilmu bagi santri, alangkah indahnya jika pesantren dipenuhi tumbuhan, hijaunya dedaunan, rindangnya pepohonan, dan harumnya bunga yang menawan.

            Dalam penelitian yang dilakukan oleh seorang pakar psikolog, bahwa pengaruh warna terhadap manusia itu sangat besar dan menjelaskan warna berpengaruh terhadap kejiwaan dan semangat, perasaan, atau kebahagiaan bahkan dapat berpengaruh pada kejiwaan manusia dalam menyikapi kehidupan. Pernah sebuah rumah sakit melakukan penelitian untuk pasiennya. Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan warna apa yang baik untuk kesembuhan pasiennya. Beberapa percobaan memang sudah membuktikan bahwa warna kuning dapat membangkitkan syaraf pusat. Banyak perusahaan menggunakan warna kuning untuk menarik perhatian pembeli. Warna ungu mampu membangkitkan ketenangan, jika seseorang memandang warna biru maka ia akan merasa dingin sebaliknya jika memandang warna merah maka orang tersebut membangkitkan keberanian. Namun jika berkaca pada isi kandungan Al-Qur’an, warna yang terbaik adalah warna hijau. Mengapa? karena hijau mampu meningkatkan kegembiraan, kesejukan, keharmonisan, dan kebahagiaan. Hal ini jelas sekali, kebahagiaan di surga ditampakkan dengan kehijauan.

Berkaca pada warna hijau jika digunakan dalam ruang tidur, ruang belajar, ruang bermain dan ruang terapi karena hijau lebih terasa enak dipandang. Akan tetapi, semua ini tidak harus dilakukan untuk memberikan warna hijau pada setiap ruangan. Sebagaimana surga dirindukan oleh hamba-Nya, merawat tumbuhan merupakan pahala karena merawat makhluk-Nya. Sebagai santri, belajar di pondok pesantren adalah kewajiban. Kejernihan pikiran mampu menerangkan akal dan menggerakkan hati. Pikiran yang jernih membawa pada kepandaian serta kecermatan dalam belajar. Sulitnya jurumiyah sampai alfiyah, malasnya santri sholat berjama’ah, absennya mengaji madrasah diniyah, dan kekurangan di pondok pesantren lainnya Insya Allah akan tertutup oleh kejernihan pikiran dengan adanya penghiijauan (lingkungan yang asri), layaknya di Surga.

            Warna hijau adalah warna yang disukai Nabi. Warna ini juga telah disebutkan dalam Al-Qur’an berkali-kali (Q.S.Al-Insan dan Al-Kahfi). Pikiran akan jernih ketika memandang warna hijau. Pikiran yang jernih membawa akal yang positif sekaligus meredam hawa nafsu. Pernyataan ini sangat sesuai untuk para santri yang sedang menimba ilmu agar mudah dalam mempelajari agama dan ilmu pengetahuan umum lainnya. Dengan menanam pepohonan dalam pondok pesantren, merawat tumbuhan, dan bunga bermekaran dengan hijaunya dedaunan dapat memancarkan pikiran santri saat keluar dari ruangan. Maka dari itu, sangat disarankan setiap pondok pesantren memiliki taman hijau untuk kenyamanan belajar Selain itu, pepohonan juga akan mendo’akan untuk keselamatan bagi para santri, keluarga pondok pesantren, serta masyarakat sekitarnya ketika tumbuhan tetap dipelihara dengan semestinya, Insya Allah.

Bagikan:

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!