Hakikat Jalan Lurus

Published by Ponpes Anwarul Huda on

Oleh: Fahmi Fardiansyah

 “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dengan cenderung (menuju jalan lurus) dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan.” (Q.S al-An’am ayat 79).

            Imam Thanthawi menerangkan bahwa hanif memiliki makna condong/cenderung untuk meninggalkan agama-agama yang rusak (bathil) dan aqidah-aqidah yang sumbang (palsu) menuju agama yang benar (haq). Thabary mengungkapkan hanif dengan trilogi pemahaman yaitu, benar, selamat, dan murni. Imam Qusyairy memaknai ayat ini dengan perkataan yang indah, “ aku sisihkan tujuanku hanya kepada Allah, aku sucikan keyakinanku dari selain Allah, aku jaga janjiku kepada Allah karena Allah, aku murnikan keadaanku bersama Allah, maka sesungguhnya aku dapati aku milik Allah dan akan kembali kepada Allah, aku berserah diri kepada Allah, dan demi Allah hanya Allah.”

            Ayat ini adalah bentuk apresiasi Allah kepada nabi Ibrahim alaihisalam yang ketika mendatangi kaumnya untuk mengajak mereka menuju kebenaran, menunjukkan pandangan baru, jalan yang yang berbeda dengan kebanyakan saudaranya, menawarkan penyegaran dan pembaharuan berpikir terhadap kaumnya dengan mengatakan ayat ini. Lantas Allah mencantumkan perkataan nabi Ibrahim alaihisalam ini dalam al-Quran.

            Sebelum makna ayat ini disingkap, ada baiknya jika terlebih dahulu dipaparkan teori psikologi sosial tentang hubungan manusia dengan linkungannya. Manusia bersifat selektif terhadap lingkungannya, ini berarti bahwa tidak semua stimuli (rangsangan) yang datang dari lingkungannya akan diterima atau akan menimbulkan respon (jawaban) pada individu. Bagaimana hubungan antara individu dengan lingkungannya terutama lingkungan sosial ternyata tidak hanya berjalan sebelah, dalam arti bahwa hanya lingkungan saja yang mempunyai pengaruh terhadap individu, tetapi antara individu dengan lingkungan terdapat hubungan yang saling timabal balik, yaitu lingkungan mempengaruhi individu dan sebaliknya individu juga dapat memberikan pengaruh terhadap lingkungan.  Dengan demikian individu dapat menolak lingkungan atau menentang lingkungan. Dalam keadaan ini maka individu itu tidak sesuai dengan keadaan lingkungannya. Dalam keadaan yang tidak bersesuaian ini individu dapat memberikan bentuk atau perubahan terhadap lingkungan sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh individu yang bersangkutan.

            Sebagaimana yang dicontohkan oleh nabi Ibrahim alaihisalam terhadap kaumnya, nabi Ibrahim alaihisalam melihat kaumnya dalam kesesatan yang jelas dengan menyekutukan Allah azza wa jall dengan matahari, bulan, batu-batu, dan bintang. Padahal semua itu makhluk Allah azza wa jall yang  setiap harinya bertasbih pada-Nya. Namun, kaumnya mengambil makhluk-makhluk itu sebagai tuhan dan tempat memohon perlindungan. Karena nabi Ibrahim alaihissalam merasa tidak cocok dengan mereka, maka nabi Ibrahim alaihisalam menolak lingkungannya dan menyampaikan apa yang telah diterimanya dari Allah azza wa jall, untuk merubah lingkungan sesuai dengan jalan yang benar.

            Meskipun nabi Ibrahim alaihissalam tidak memperoleh hasil yang sesuai dengan keinginannya, yang perlu diambil dalam kondisi sosial nabi Ibrahim alaihisalam adalah bagaimana nabi Ibrahim alaihissalam berproses menyampaikan jalan yang benar. Jalan lurus bukanlah jalan yang bersifat lurus mengikuti peninggalan para leluhur membabi buta, akan tetapi jalan lurus adalah jalan yang menawarkan kebenaran, keselamatan, kemurnian, penyegaran, dan pengembangan kualitas hati dan pikiran.

            Ada beberapa syarat yang harus dilalui suatu manhaj (jalan/cara), dengan syarat itulah manhaj baru bisa disebut jalan yang benar, yaitu:

  1. Memiliki tuntunan yang berisi petunjuk, peringatan, dan nasehat.

 “Ini (al-Quran) menjadi penerang bagi manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa (Q.S Ali Imran ayat 138).

  1. Membangkitkan pengetahuan (al-‘Ilm) dan aksi (al-‘Amal).

“….niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Q.S al-Mujadalah ayat 11).

Maksud ayat diatas adalah Allah mengangkat derajat para ulama’ dikarenakan mereka telah mampu berilmu dan beramal sekaligus.[1]

  1. Membina dan mengolah hati (soul).

 “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang membersih-bersihkan diri mereka itu tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya (orang beriman dan beramal sholih) sedangkan mereka tidak dianiaya sedikit pun.” (Q.S an-Nisa’ ayat 49).

  1. Menggugah pemikiran akan kehidupan.

 “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri, Dan dia ingat nama Rabbnya lalu dia salat, Tetapi kamu sekalian lebih memilih kehidupan duniawi, Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Q.S al-A’la ayat 14-17).

Bagikan:

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.