ESENSI BERQURBAN

Published by Ponpes Anwarul Huda on

Oleh : A. Nahidl Masyhuri, Spd.I

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. (QS Al-Kautsar:2)

Pada saat ini telah sampailah umat islam pada bulan yang agung, bulan Dzulhijjah. Saat-saat   puncak ibadah haji dan saat umat islam merayakan hari raya Idul Adha. Di berbagai penjuru, umat islam beramai-ramai untuk berqurban, menyembelih hewan qurban lalu membagikannya ke sanak saudara, dan tetangga semata-mata mengharap ridha Allah swt dan sebagai wujud rasa syukur atas limpahan nikmat-Nya.

Ibadah qurban sendiri memiliki 2 dimensi yaitu vertikal (spiritual) dan horizontal (sosial) atau dalam istilah sehari hari bisa disebut hablun minallah dan hablun minannas. Qurban secara spiritual memiliki makna sebagai bentuk ketaatan seorang hamba pada tuhan-Nya untuk menjalankan perintah-Nya. Sedangkan secara horizontal memiliki makna sebagai upaya pemerataan kesejahteraan bagi seluruh umat islam berupa daging yang jarang dikonsumsi oleh sebagian orang.

Terdapat nilai dan hikmah yang sangat tinggi di dalam ibadah qurban. Melalui ibadah ini,  Allah mengajarkan kita untuk meminimalkan sifat-sifat tercela dalam diri manusia. Kita dilatih untuk tidak bersifat kikir, pelit, dan egois. Selain itu ibadah qurban juga melatih kita untuk terbiasa peduli terhadap sesama, lebih-lebih kepada yang membutuhkannya. Firman Allah swt:

Artinya: “Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS Al-Hajj:28)

Ibadah qurban hukumnya sunnah muakkad atau sunnah  yang sangat dianjurkan. Karena itulah Allah memberikan kesempatan untuk menyembelih hewan qurban dalam 4 hari, yaitu pada hari raya idul adha (10 Dzulhijjah dan di hari tasyrik, 11-13 Dzulhijjah) agar jika seseorang belum mampu pada tanggal 10 mungkin ia baru mampu pada tanggal 11 atau selebihnya. Saat saat itu merupakan hari yang agung, hari sukacita orang orang muslim, sampai Allah mengharamkan berpuasa pada saat saat itu. Rasulullah saw bersabda :

“Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahar yang disukai Alloh selain daripada menyembelih qurban. Qurban-qurban itu akan datang kepada orang-orang yang melakukannyapada hari kiamat seperti keadaannya semula,yaitu lengkap dengan anggotanya, tulangnya, tanduknya dan bulunya. darah qurban itu terlebih dahulu jatuh ke suatu tempat yang disediakan Tuhan sebelum jatuh ke atas tanah. Oleh Sebab itu, berqurbanlah dengan senang hati” (HR. At- Tirmidzi) “

Dan Rasulullah memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang mampu akantetapi enggan untuk berqurban, Rosulullah bersabda :

“barang siapa yang mempunyai kelapangan untuk berqurban tapi tidak melaksanakannya, maka janganlah dia dekat-dekat tempat kami sholat.”  (HR.  Ahmad)

Tidak hanya memerintahkan umatnya, Rasulullah sendiri juga memberi contoh dalam berqurban. Dalam hadits riwayat Ibnu Majah, dikisahkan bahwa Rasulullah  berqurban berupa 2 ekor domba (kambing gibas dewasa yang gemuk, bagus, dan tanpa cacat). Dari sini dapat kita ambil pelajaran bahwa untuk berqurban haruslah hewan yang sehat, bagus, dan besar. Bukan malah yang kecil, sakit-sakitan, atau bahkan cacat. Karena dalam memberi haruslah sesuatu yang kita sukai. Firman Allah :

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS Ali imran:92)

Dalam sebuah hadits diceritakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, ‘Apa yang harus dijauhi untuk hewan kurban? ‘ Beliau memberikan isyarat dengan tangannya lantas bersabda: “Ada empat.” Barra’ lalu memberikan isyarat juga dengan tangannya dan berkata; “Tanganku lebih pendek daripada tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: (empat perkara tersebut adalah) hewan yang jelas-jelas pincang kakinya, hewan yang jelas buta sebelah, hewan yang sakit dan hewan yang kurus tak bersumsum.” (HR. Malik)

Ada sebuah kisah yang termaktub dalam alquran tentang pemberian yang baik dan pemberian yang buruk. Sejarah qurban pertama yang dilakukan oleh anak manusia. Saat Allah memerintahkan kedua putera nabi Adam yaitu Qabil dan Habil untuk berqurban. Qabil berqurban dengan tanaman yang tidak begitu bagus sedangkan habil berqurban dengan hewan ternaknya yang bagus. Allah menerima qurban dari Habil dan menolak qurban Qabil. Diceritakan dalam alqur’an. Yang artinya : “Dan ceritakanlah kepada manusia kisah dua orang anak adam menurut yang sesungguhnya tatkala keduanya melakukan qurban. Qurban salah seorang daripadanya diterima, sedangkan seorang lagi ditolak. Maka yang ditolak kurbannya itu berkata (kepada saudaranya): Aku akan bunuh engkau, Jawab saudaranya: Sesungguhnya Tuhan hanyalah menerima (qurban) orang-orang yang taqwa”(Al Maidah: 27)

Pada hakikatnya bukanlah gemuk atau kurus, bukan pula seberapa banyak daging yang bisa dimakan yang menjadi ukuran diterimanya qurban, akan tetapi rasa taqwa dan keikhlasan yang akan menjadikan qurban diterima di sisi Allah swt. Firman Allah:

“Alloh tidak menerima dagingnya dan tidak pula darahnya. Akan tetapi Alloh menerima nilai taqwa kalian. (Al Hajj: 37)

Namun perlu dipahami bahwa seseorang yang benar-benar bertaqwa tidak akan berqurban dengan sesuatu yang kurang baik, akan tetapi mereka akan mempersembahkan qurban terbaik kepada tuhanNya dengan mengurbankan hewan yang terbaik pula.

Semoga Allah memberikan kemampuan kepada kita agar mampu dan mau berqurban. Jika tidak tahun ini mungkin di tahun tahun yang akan datang. Amien.

Bagikan:

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.