Pondok Pesantren Anwarul Huda

Mencetak Generasi Ibadurrochman

Oleh: Romy Ittaqi Robby*

Remaja di zaman sekarang ini, bukanlah hal yang baru lagi ketika kita melihat pasangan remaja putra dan putri dipinggir jalan, di kafe, restoran, jembatan, atau di mana saja. Mereka nampak asyik mengumbar yang katanya disebut sebagai sesuatu yang mesra itu. Menunjukkan betapa bahagianya mereka saling memiliki satu sama lain dibalik sebuah yang katanya jalinan hubungan bernama pacaran.

                Sebetulnya, budaya pacaran itu adalah budaya asing yang masuk ke Indonesia akibat daripada globalisasi. Karena filter yang kurang, akhirnya banyak yang ikut terjerumus dalam budaya tersebut. Padahal, harusnya diketahui bahwa pacaran tidak lain adalah perbuatan dosa yang ujungnya akan mendekati kepada zina yang merupakan dosa besar.

                 Jika hanya menyebut para remaja saja yang berbuat demikian, karena orang dewasa pun juga banyak  yang melakukannya. Sedihnya, budaya pacaran itu bahkan sudah menancapkan akarnya pada anak-anak yang masih duduk dibangku sekolah dasar berseragam merah dan putih. Sungguh miris sekali. Tidak pernah dibenarkan adanya hubungan pacaran di dalam Islam. Justru sebaliknya, Islam melarang adanya pacaran di antara mereka yang mukan muhrim karena dapat menimbulkan berbagai fitnah dan dosa. Dalam Islam, pacaran adalah haram.

                Seringkali remaja akan membantah bahwa mereka tidak akan melakukan hal-hal yang demikian. Mereka akan berpacaran yang sehat, tutur katanya. Padahal, tidak ada berpacaran yang sehat kecuali setelah menikah. Bagaimanapun juga, pacaran adalah perbuatan dosa. Setiap manusia yang berbuat dosa, iblis adalah temannya. Sehingga kemana pun ia berpijak, akan ada iblis yang senantiasa menemani dan membisikinya rayuan-rayuan kemaksiatan sehingga ia semakin terlena dalam berbuat dosa. Rasulullah SAW bersabda yang artinya;

“Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua telinga zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhazrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya.” (H. R Bukhari).

                Orang yang pacaran itu mengajarkan diri untuk menjadi munafik. Berbohong itu hanya demi membuat si pacar senang. Bahkan mengumbar janji-janji yang belum tentu bisa ditepati bahkan tak jarang aslinya hanya buatan semata. Berusaha menunjukkan sisi terbaik padahal dibelakangnya seling mencela. Sering mengumbar rayuan romantis hanya agar si pacar tidak curiga. Tidak hanya dihadapan sang pacar, tapi juga akan melakukan hal yang sama di hadapan orang tua. Jadilah mereka sebagai pembohong yang luar biasa.

                Siapa bilang pacaran bisa meningkat-kan kualitas semangat belajar? Coba pikirkan dan renungkan kembali ke dasarnya bahwasanya pacaran itu adalah dosa. Selama berpacaran, artinya anda akan terus memupuk dan mengumpulkan file-file dosa di sepanjang waktu. Dari tiap-tiap yang namanya dosa, tidak akan terdapat kebaikan di dalamnya. Justru sebaliknya, waktu yang seharusnya dimanfaatkan untuk belajar, justru lebih banyak dihabiskan bersama pacar. Uang pemberian orang tua yang semestinya dipakai untuk kepentingan pendidikan, malah dipakai untuk bersenang-senang. Zaman sekarang, dedikasi tinggi kepada pacar nampaknya adalah prioritas utama dibandingkan dengan diri sendiri.

                Seringkali memberikan ini itu kepada pacar bahkan lebih sering daripada apa yang dilakukan kepada orang tua sendiri. Padahal, apa yang diperoleh dari semua itu? Apakah dengan membelikan atau mentraktir sesuatu terhadap pacar maka artinya kita berinvestasi di dalam masa depan? Justru sebaliknya, pacaran hanyalah penyebab kantong kering yang akan membuat kepala pusing hingga nanti ujung-ujungnya merengeklah pada orang tua untuk mendapat tambahan uang belanja sekaligus berpura-pura.

                Ini hal yang sangat fatal dan mengerikan. Ketika mendengar berita tentang remaja yang membunuh remaja lainnya hanya karena berebut pacar. Luar biasa. Katakanlah dengan kasar, bahwa mereka lebih rendah daripada  hewan sekalipun. Rasulullah SAW dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud, beliau memberikan saran seperti berikut;

“Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu seta berkeinginan menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa diantara kalian belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak nafsu.” (H. R. Bukhari, Muslim, Ibnu Majjah, dan Tirmidzi).

                Setiap orang yang berbuat dosa, ada  iblis yang menemaninya dan menggodanya. meniupkan berbagai rayuan agar orang itu semakin terjerumus dalam dosa. Iming-imingnya sangat banyak, padahal kesemua-nya hanya pemuas nafsu belaka.  Bahkan, yang awalnya tidak tergoda pun bisa saja terjerumus. Akhirnya, banyak waktu dihabis-kan hanya untuk sang pacar. Cinta setengah mati, tutur katanya. Sampai-sampai cinta pada Sang Pemilik Nyawa pun terabaikan dan terlupakan. Setiap hari hanya mengingat wajah kekasih atau sang pacar, Namun akhirnya lupa pada Allah SWT. Naudzubillah,  sungguh yang demikian  sudah menjadi orang yang tersesat.

                Dalam islam, bahaya pacaran tidak diragukan lagi kebenarannya karena itu merupakan perbuatan yang jelas-jelas sudah dilarang dalam al-Quran. Namun sayangnya larangan tetap larangan, sedangkan orang yang mengerjakannya terus bertambah dari hari ke hari. Seolah-olah larangan telah berobah menjadi perintah, Maka dari  itu, dalam tulisan ini tentang bahaya pacaran perlu diperbanyak, dipahami, direnungi, pikirkan, dan sebarkan kepada para remaja khususnya dan siapa saja umumnya bisa mengerti dan menghindari perbuatan yang menjadi sumber atau jurang perzinaan.

                Tak dapat dipungkiri lagi bahwa kaum remaja lah yang paling rentan melakukan pacaran. Apalagi di akhir zaman ini, pacaran telah menjadi wabah yang hampir-hampir tak bisa dibendung lagi per-kembangannya. Perkembangan teknologi yang semakin mutakhir telah mendobrak batas-batas pergaulan antara lelaki dan perempuan. Gadget yang canggih menjadi sarana paling efektif untuk memulai tindakan ini, sehingga tak aneh bila ada sebagian remaja yang malu bila tidak mempunyai pacar. Nauzubillah.

                Dalam al-Qur’an, Allah swt telah berfirman secara tegas untuk menhindari hal-hal yang bisa menjurus kepada perbuatan zina, dimana salah satunya adalah pacaran. Apalagi pacaran zaman sekarang, kalau tidak ada jalan-jalan rasanya kurang lengkap, kalau tidak berdua-duaan seolah tidak sah menjadi sepasang kekasih. Bila hal ini sudah dilakukan, besar kemungkinan akan terjerumus dalam perzinaan.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra’: 32)

                Jika engkau mengatakan pacaran itu gratis alias tidak dipungut biaya, tidak akan ada manusia yang percaya. pacaran membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Terus darimana semua biaya itu diperoleh? Jelas jawabannya kiriman dari orang tua. Karena kebanyakan orang yang pacaran adalah para remaja, dan biasanya remaja belum mempunyai apa-apa. Sangat sulit mendapatkan seseorang dengan usia di bawah 25 tahun yang sudah mapan hidupnya. Padahal dalam usia inilah seseorang rentan melakukan pacaran. Akhirnya, pacaran tidak hanya mengundang murka Allah SWT tetapi juga turut mengkhianati orang tua.

                Jika engkau mengatakan pacaran itu gratis alias tidak dipungut biaya, tidak akan ada manusia yang percaya. pacaran membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Terus darimana semua biaya itu diperoleh? Jelas jawabannya kiriman dari orang tua. Karena kebanyakan orang yang pacaran adalah para remaja, dan biasanya remaja belum mempunyai apa-apa. Sangat sulit mendapatkan seseorang dengan usia di bawah 25 tahun yang sudah mapan hidupnya. Padahal dalam usia inilah seseorang rentan melakukan pacaran. Akhirnya, pacaran tidak hanya mengundang murka Allah SWT tetapi juga turut mengkhianati orang tua.

                Memang ada orang tua yang merelakan anaknya untuk berpacaran, tapi itu sangat sedikit. Kalau pun ada, maka patut dicurigai dan diinvestigasi anak itu pun kadang lahir dari hubungan pacaran orang tuanya. Bisa jadi mereka ingin mengulang kisah atau cerita yang sama pada anaknya, karena orang tua yang waras dan berpendidikan tidak akan merelakan anaknya dinikmati secara percuma, atau tidak akan membiarkan anaknya menikmati sebelum waktunya. Sudah sejak 1500 tahun yang lalu Nabi saw bahkan memberi sinyal, rambu-rambu tentang  hal itu lewat sebuah hadits. “Tidaknya ada orang yang seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita kecuali setan adalah yang ketiga.”

                Untuk itulah, bagaimanapun kita telusuri, mengkaji dan memaksakan diri untuk mencari nilai positif dari pacaran itu sangat sulit mendapatkannya, karena memang tidak ada. Kalau pun ada, pasti tidak sebanding dengan nilai negatif yang ditimbulkannya. Mudah-mudahan kita semua dijauhkan dari jurang kemaksiatan khususnya berpacaran, dan juga dijauhkan dari api neraka, Amin ya robbal alamin.

Semoga bermanfaat, Wallahu a’lam bisshowwab.

*Penulis adalah alumni ponpes anwarul huda dan sekaligus mahasiswa UIN MALIKI Malang jurusan Al Akhwal Al Syakhsiyah.

Bagikan:

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Might Also Like