Pondok Pesantren Anwarul Huda

Lembaga Ibadurrahman

Oleh: Fahmi Fardiansyah

 “Hai orang-orang yang beriman! Hendaklah kamu menjadi penegak keadilan menjadi saksi karena Allah walaupun terhadap dirimu sendiri atau kedua ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih utama bagi keduanya Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu agar berlaku adil Dan jika kamu mengubah atau berpaling maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (an-Nisa’ (4) ayat 135).

           Adil adalah memberikan hak kepada yang pantas menerima hak tersebut tanpa membeda-bedakan, tidak mengambil hak seseorang karena tidak menyukainya, dan tidak  melebihkan hak karena menyukainya.[1]

            Keadilan meletakkan sesuatu pada tempatnya, mementingkan kepentingan bersama dalam menjalankan tugas, tidak mengunggulkan satu golongan dan membiarkan golongan lain, tidak membiarkan seseorang terambil haknya karena tidak menyukainya dari segi warna kulit, agama, ras, dan lain sebagainya, dan tidak memberikan hak yang lebih kepada seseorang karena warna kulit, agama, ras, dan lain sebagainya.

            Dari Aisyah bahwa orang-orang Quraisy disibukkan dengan seorang wanita dari banu Makhzum yang telah mencuri, mereka berkata; Siapa yang sanggup berbicara kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam perihal wanita ini? Lalu mereka berkata; Tidak ada yang berani kecuali Usamah bin Zaid orang yang dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Usamah pun berbicara kepada beliau. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah engkau akan meminta syafa’at atas salah satu dari hukuman Allah?” Kemudian beliau berkhutbah seraya bersabda: “Sesungguhnya penyebab hancurnya umat sebelum kalian adalah jika ada di antara mereka orang yang mulia mencuri, mereka membiarkannya dan jika ada orang yang lemah mencuri, maka mereka menjatuhkan hukuman kepadanya. Demi Allah, seandainya Fathimah bintu Muhammad mencuri, niscaya aku akan memotong tangannya.” (H.R Tirmidzi. Bukhari, Muslim, dan Darimi).

            Telah dicontohkan dengan jelas, keadilan adalah bersifat umum, tidak bersifat khusus. Keadilan bersifat menyeluruh tidak bersifat sempit. Keadilan bersifat buta siapapun orangnya dia terkena aturan hukum tidak bersifat buta sebelah sebelah pada satu sisi keadilan ditegakkan pada satu sisi lain keadilan dikesampingkan.

            Keadilan dimulai dari personal masing-masing, apakah ia bisa menempatkan dirinya sesuai haknya menjalankan ketentuan Allah? Jika ia tidak bisa meletakkan dirinya pada jalan-Nya, sungguh ia telah dholim. Keadilan kemudian melingkupi keluarga, bisakah ia meletakkan hak keluarga sesuai porsinya? Tidak mencurangi mereka dan tidak pula mengunggulkan mereka, jika ia tidak bisa melakukannya ia telah dholim. Kemudian keadilan melingkupi kehidupan sosial, bisakah ia membedakan benar dan salah yang terjadi di masyarakat? Bisakah ia meletakkan hak mereka sesuai porsi masing-masing individu?, jika ia tidak bisa ia telah dholim.

            Memang terlihat berat, namun itu semua dibebankan kepada setiap manusia tidak perorangan.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhuma bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam (kepala Negara) adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami dalam keluarganya adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya dan akan diminta pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya dan akan diminta pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut” (H.R Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, dan Ahmad).

Dengan berperilaku adil, kemaslahatan terwujud, kesejahteraan terjamin, asupan kebutuhan manusia tercukupi, kekayaan pengetahuan manusia meningkat, kesehatan manusia terlindungi. Jika adil tidak ditegakkan kemaslahatan tidak terwujud, kesejahteraan tinggal mimpi, asupan kebutuhan manusia hilang, pengetahuan manusia menipis, penyakit merajalela, kriminalitas menyebar, kejahatan menjadi hal lumrah, dunia menjadi tuhan, Tuhan menjadi kabar burung tanpa kejelasan, akhirat hanya isapan jempol saja, janji dan ancaman Allah hanya sekedar tulisan saja. Apakah kita ingin hal-hal itu terwujud?

Bagikan:

2 COMMENTS

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Might Also Like