Pentingnya Mempelajari Ilmu Shorof

Published by Ponpes Anwarul Huda on

اعلم، أن الصرف أم العلوم والنحو أبوها. فعليك أن تقدم الأم على الأب، فإن الجنة تحت أقدام الأمهات

Ketahuilah, bahwa shorof adalah induk dari segala ilmu dan nahwu adalah ayahnya. Hendaklah kamu mendahulukan ibu atas ayah, karena surga dibawah telapak kaki ibu.

Ungkapan diatas pasti tidak asing dikalangan pembelajar bahasa Arab. Ungkapan yang memotivasi seseorang dalam mempelajari kaidah tata bahasa Arab. Ungkapan yang penulis temukan dalam muqoddimah kitab al qowa’id aAs Shorfiyah ini, mengungkapkan keutamaan mempelajari ilmu shorof. Karena keutamaannya, ilmu shorof dilambangkan sebagai induk/ibu dari segala ilmu. Oleh karenanya seorang pembelajar, khususnya pembelajar bahasa Arab harus mempelajari ilmu shorof sebelum mempelajari ilmu-ilmu lainya.

Ilmu shorof adalah ilmu yang mempelajari akar kata dalam bahasa Arab. Abdullah Abdul Hamid Abdullah dalam bukunya Durus Fi Syarh ‘Ilm As Shorf Li Al Mubtadien, mengungkapkan bahwa shorof adalah kaidah-kaidah untuk mengetahui struktur kata secara lafadz dan makna. Sedangkan Al Ghulayaini dalam kitabnya Jami’ Ad Durus Al Arabiyah menyebutkan bahwa shorof adalah ilmu tentang asal-usul kata yang dengannya dapat diketahui bentuk-bentuk dari kata-kata bahasa Arab dan keadaannya, yang bukan i’rob dan bukan bina’. Ilmu shorof lebih banyak membahas berbagai kata dari sisi tashrif , i’lal, idgham dan pergantian huruf.

Adapun pengertian ilmu shorof dalam kitab al qowa’id ash shorfiyyah adalah ilmu yang membahas perubahan keadaan kata dari satu bentuk ke bentuk lain sesuai makna yang dikehendaki. Ilmu shorof mempelajari kaidah-kaidah yang dengannya menghasilkan kata-kata yang berbeda maknanya. Ilmu shorof hanya untuk mempelajari perubahan-perubahan kata dari segi lafadz, bukan makna. Artinya ilmu shorof tidak mempelajari makna baru dari perubahan kata yang sedang dipelajari. Ahli shorof telah membuat timbangan tsulatsi dengan فعل , dan ruba’i dengan فعلل. Setiap huruf yang menempati fa disebut fa’ fi’il, yang menempati ‘ain disebut ‘ain fi’il, dan yang menempati lam disebut lam fi’il.

Ketika kita mempelajari bahasa Arab, ilmu shorof menjadi bagian terpenting yang tidak bisa dilewatkan. Ilmu shorof adalah salah satu bagian dari unsur bahasa yang menunjang keberhasilan pembelajaran bahasa Arab di lembaga formal seperti sekolah dan kampus atau nonformal seperti kursus bahasa Arab dan pondok pesantren. Di lingkungan pondok pesantren, ilmu shorof menjadi pelajaran wajib yang harus ditempuh para santri. Pembelajaran shorof di pondok pesantren umunya dimulai dari kitab al amtsilah al tashrifiyah, al qowa’id al shorfiyyah, dan al qowa’id al i’lal.

Pembelajaran shorof dengan kitab al amtsilah al tashrifiyah para santri dikenalkan dengan contoh-contoh kata kerja yang dalam bahasa Arab disebut dengan fi’il beserta perubahannya. Para santri juga dikenalkan dengan tashrif istilahi dan lughawi serta bentuk-bentuk perubahannya. Tujuan utama pembelajaran shorof dengan kitab al amtsilah al tashrifiyah adalah para santri mampu mengetahui akar kata dalam bahasa Arab. Mengenai akar kata dalam bahasa Arab, para ulama memiliki perbedaan pendapat. Ulama’ Kuffah berpendapat bahwa akar kata bahasa Arab terletak pada fi’il madhi, sedangkan ulama’ Bashroh berpendapat bahwa akar kata bahasa Arab terletak pada mashdar. Dengan mempelajari shorof, para santri mampu mengetahui akar kata bahasa Arab serta perubahannya dari satu bentuk ke bentuk lain. Seperti perubahan fi’il madhi ke fi’il mudhari’, fi’il mudhari’ ke mashdar, atau dari mashdar ke fi’il amr. Oleh karenanya proses pembelajarannya dilakukan dengan menghafal perubahan kata pada tashrif istilahi yang terdiri dari 6 bab dan tashrif lughawi dimana 1 kata memiliki 14 bentuk kata. Dengan mengetui akar kata adalam bahasa Arab, para santri diharapkan mampu mengetahui makna teks-teks arab, khususnya teks arab pada kitab kuning yang sedang dipelajari.

Dari sekian banyak bentuk kata yang ada dalam bahasa Arab,ada beberapa bentuk kata yang tersusun atas huruf-huruf ‘ilat. Huruf-huruf ‘ilat diantaranya alif, wawu, dan ya’. Jika fi’il/kata kerja tersusun atas huruf ‘ilat, maka fi’il tersebut sulit diucapkan oleh orang arab. Oleh karenanya, huruf ‘ilat tersebut harus dirubah ke bentuk yang sederhana dan mudah diucapkan. Ilmu yang mempelajari tata cara perubahan huruf ‘ilat ini terdapat dalam kaidah i’lal. Kaidah i’lal termasuk di dalam lingkup pembahasan ilmu shorof. Menurut kaidah i’lal ini, ada beberapa cara untuk mengubah huruf ‘ilat diantaranya dengan menukar (ubdilat), memindahkan tanda baca/harakat/syakl (nuqilat), disukunkan (uskinat), bahkan membuang huruf (khudzifat).

Mengetahui akar kata dalam bahasa Arab menjadi hal yang sangat penting manakala tujuan pembelajarannya berorientasi religius seperti di pondok pesantren. Di antara tujuan pembelajaran bahasa Arab di pondok pesantren adalah untuk studi Islam dan memahami referensi Islam yang berbahasa Arab seperti kitab tafsir, hadits, fiqih, tauhid, akhlak, dan kitab al turats lainnya. Pengetahuan akar kata bahasa arab dan bentuk-bentuk perubahannya akan sangat membantu mereka memahami kitab-kitab tersebut.

Penulis: Mohammad Sofi Anwar

Bagikan:

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.