Fathurrahman Jamil- Santri Pondok Pesantren Anwarul Huda

Kitab ta’limul muta’alim merupakan salah satu karya klasik, namun masih sangat relevan untuk dipraktikkan hingga saat ini. Adalah Syekh Az-Zarnuzi muallif Kitab Ta’limul Muta’alim yang menyusun kitab tersebut, hal tersebut beliau lakukan karena keprihatinan dan kegelisahan beliau melihat banyaknya pelajar, santri, murid, siswa, atau pemburu ilmu yang tidak berhasil dengan gemilang dalam belajar, atau bahkan tidak merasakan manfaat ilmu sebab jalan yang mereka pilih keliru.

Penulis tertarik mengumpulkan beberapa nasihat-nasihat Syekh Az-Zarnuzi yang dalam tulisan ini penulis dapatkan dalam buku terjemah “Ta’limul Muta’alim kiat santri meraih ilmu manfaat dan barokah” yang diterjemah oleh Abu An’im. Proses penerjemahan oleh Abu An’im dilakukan karena beliau melihat begitu pentingnya karangan Syekh Az-Zarnuzi, yang mungkin belum bisa dipelajari dan dipahami oleh para santri pemula dikarenakan berbahasa arab, harapannya dapat dipahami oleh santri pemula terkhusus, dan oleh santri senior pada umumnya.

Berikut ini beberapa nasihat-nasihat yang sekiranya menurut penulis, dapat memberikan manfaat dan motivasi khususnya bagi para penuntut ilmu, sebab sudah menjadi kodrat manusia memiliki semangat yang selalu berubah-ubah dan naik turun, adakalanya sedikit dorongan dapat menyadarkan dan membuat semangat. minimal dapat bertahan atau bisa terus meningkat.

Berikut ini nasihat-nasihat beliau:

  1. Dan jadilah untuk senantiasa bertambah ilmu setiap hari dan berenanglah di lautan faidah
  2. Belajarlah, karena sesungguhnya ilmu itu adalah penghias bagi pemiliknya, kelebihan dan pertanda segala hal yang terpuji
  3. Bagi pelajar harus niat pada saat belajar, karena niat adalah pokok dari segala hal
  4. Dan seyogyanya para pelajar dalam berilmu untuk berniat mendapatkan ridho Allah SWT, di dunia dan akhirat. Menghilangkan kebodohan yang ada pada dirinya dan pada orang-orang bodoh yang lain, menghidupkan agama, melanggengkan islam, karena kelanggengan islam itu dengan ilmu. Tidak sah berbuat zuhud dan bertaqwa sementara dalam kebodohan
  5. Kemudian dalam menuntut ilmu juga berniat bersyukur atas kenikmatan akal, dan sehatnya badan, tidak berniat untuk dikagumi di hadapan manusia (mencari pengaruh), dan tidak pula untuk meraih kenikmatan dunia dan terhormat di hadapan raja dan lainnya
  6. Adapun dalam memilih guru, maka sepantasnya memilih guru yang paling alim dan paling wara’ dan lebih tua usianya
  7. Menuntut ilmu adalah tergolong perkara yang paling mulia dan paling sulit. Karena itu, musyawarah dalam menuntut ilmu itu hal penting dan wajib
  8. Sayyidina Ali bin Abi Tholib Karramallahu wajhahu berkata “ Ingatlah.. tidak akan kalian mendapatkan ilmu yang manfaat kecuali 6 perkara yaitu cerdas, semangat, sabar, biaya, petunjuk guru dan waktu yang lama
  9. Adapun dalam memilih teman, maka sepantasnya untuk memilih teman yang bersungguh-sungguh, wira’i (hati-hati dari barang yang haram), yang memiliki tabiat yang lurus dan berusaha mengerti. Dan hendaklah menjauhi orang-orang malas, pengangguran, banyak ngomong, banyak membuat kekacauan dan suka memfitnah.
  10. Ketahuilah, bahwasanya penuntut ilmu tidak akan mendapatkan ilmu dan tidak bisa memanfa’atkannya kecuali dengan mengagungkan ilmu dan pemiliknya, memuliakan guru dan menghormatinya
  11. Diantara cara menghormati guru adalah jangan berjalan di depan guru, jangan duduk di tempat duduknya guru, jangan lancang memulai pembicaraan di dekat guru kecuali dengan izinnya, jangan banyak bicara di depan guru, jangan menanyakan sesuatu ketka guru sedang lelah (yang dapat menimbulkan rasa bosan kepada guru), hendaklah menjaga waktu, dan jangan mengetuk pintu (rumah guru) tetapi hendaklah bersabar sampai beliau keluar
  12. Barang siapa yang menyakiti hati gurunya maka dia tidak akan mendapatkan keberkahan ilmunya, dan tidak bermanfaat ilmunya kecuali sangat sedikit
  13. Diantara cara menghormati ilmu adalah menghormati kitab, seyogyanya bagi penuntut ilmu, jangan sampai mengambil kitab kecuali dalam keadaan suci
  14. Jangan sampai membentangkan kaki ke arah kitab, dan hendaknya menaruh kitab-kitab tafsir diatas kitab-kitab yang lain demi mengagungkannya. Dan jangan sampai menaruh di atas kitab sesuatu yang lain.
  15. Dan juga sepantasnya jangan sampai di dalam kitab ada tulisan warna merah, karena itu adalah pebuatan para filosof, bukan perbuatan ulama salaf
  16. Dan sebaiknya juga bagi penuntut ilmu untuk mendengar/mencari ilmu dan hikmah dengan penuh rasa mengagungkan dan hormat. Sekalipun ia sudah pernah mendengar satu masalah atau hikmah seibu kali
  17. Siapa yang mencari sesuatu lalu bersungguh-sungguh maka pasti akan mendapatkan, siapa yang mengetuk pintu bertubi-tubi maka pasti bisa masuk
  18. Sesuai kadar usahamu, engkau akan memperoleh apa yang kamu cita-citakan
  19. Dan harus bagi penuntut ilmu untuk terus-menerus belajar dan mengulang-ulang pelajaran di awal dan akhir malam, karena sesungguhnya antara maghrib dan isya, dan waktu tengah malam adalah waktu yang penuh berkah
  20. Wahai penuntut ilmu, jalankanlah sifat waro (hati-hati dari perkara haram) dan jauhilah banyak tidur dan kenyang. Selalu lah belajar, jangan kamu terpisah darinya, karena ilmu dengan belajar akan tegak dan bertambah
  21. Bagi orang yang menuntut ilmu itu harus memiliki keinginan/cita-cita yang tinggi dalam hal ilmu, karena sesungguhnya seseorang akan terbang dengan cita-citanya seperti halnya burung yang terbang dengan kedua sayapnya
  22. Wahai diriku, tinggalkanlah sifat bermalas-malasan, jika tetap saja malas maka tetaplah dalam jurang kehinaan. Aku tidak melihat bagi orang yang malas mendapatkan imbalan, selain penyesalan dan cita-citanya kandas
  23. Sifat malas itu timbul dari kurang merenung/menghayati tentang kemuliaan dan keagungan ilmu
  24. Untuk menghasilkan ilmu sebaiknya bagi penuntut ilmu bersusah payah, bersungguh-sungguh dan terus menerus (kontinyu) dengan merenungkan keagungan dari suatu ilmu, karena ilmu itu langgeng sedangkan harta itu musnah
  25. Ilmu yang bermanfa’at akan membawa seseorang pada sebutan yang baik (menjunjung tinggi nama seseorang), hal itu akan tetap langgeng sekalipun ia telah wafat. Karena hal itu hidup abadi
  26. Dan seyogyanya, selalu mencatat hasil pengajian dari guru, setelah itu menghafalnya dan diulang berkali-kali, karena hal itu sangat bermanfaat
  27. Seyogyanya pelajar bersungguh-sungguh untuk memahami apa yang disampaikan oleh gurunya atau dengan cara merenungkan, berfikir, dan banyak mengulang-ulang, karena sesungguhnya sedikit mengaji pengajian disertai banyak mengulang-ulang dan merenung, maka akan mudah didapat dan dimengerti
  28. Seyogyanya pelajar untuk bersunguh-sungguh dalam belajar dan memahami serta senantiasa berdoa kepada Allah SWT, merendahkan diri kepada Allah, karena dia (Allah) sungguh akan menerima doa orang-orang yang berdoa kepada-Nya, dan tidak akan merugi orang yang selalu mengharapkan rahmat dan ampunan-Nya
  29. Dan harus bagi penuntut ilmu untuk selalu mudzakarah (bermusyawarah), bertukar pikiran dan berdialog
  30. Diharuskan merenungkan/diangan-angan terlebih dahulu sebelum berbicara sehingga pembicaraanya menjadi benar, karena sesungguhnya perkataan itu laksana anak panah, maka luruskanlah dulu sebelum berbicara dengan direnungkan, sehingga pembicaraan menjadi benar/mengenai sasaran
  31. Dalam metode menghafal, seyogyanya si pelajar mengulang-ulang pelajaran yang kemarin lima kali, pelajaran sebelum hari kemarin empat kali, pelajaran yang sebelumnya lagi tiga kali dan pelajaran yang sebelumnya dua kali dan pelajaran sebelumnya satu kali. Maka hal semacam ini lebih menarik untuk tetap terjaganya hafalan
  32. Dan sepantasnya bagi para penuntut ilmu untuk tidak menyibukkan diri dengan sesuatu lain selain ilmu, dan jangan berpaling dari ilmu fiqih
  33. Paling utamanya waktu (untuk belajar) adalah masa muda dan pada waktu sahur dan waktu antara maghrib dan isya
  34. Bila terasa bosan pada satu bidang ilmu, maka hendaklah menyibukkan diri dengan ilmu yang lain
  35. Seyogyanya, keberadaan sosok orang yang berilmu memiliki rasa kasih sayang, suka menasehati, tidak hasad (iri hati), karena sesungguhnya sifat hasad itu memudaratkan dan tidak bermanfaat.
  36. Dan seyogyanya, si pelajar tidak bertengkar dan bermusuhan (terus berselisih) dengan seseorang, karena hal itu hanya menyia-nyiakan waktu
  37. Bila kamu ingin bertemu musuhmu dalam keadaan hina, dan terbunuh dalam keadaan susah, dan terbakar dalam keadaan derita, maka tuntutlah derajat mulia, tambahlah ilmumu, karena sesungguhnya siapa yang bertambah ilmunya, maka orang yang hasad padamu akan terus bertambah susah
  38. Hendaklah engkau sibuk menjalankan hal-hal yang maslahat untuk dirimu bukan sibuk dengan menundukkan musuhmu. Ketika engkau menjalankan hal-hal yang maslahat untuk dirimu, maka hal itu dengan sendirinya menundukan musuhmu
  39. Adapun cara mencari tambahan ilmu yaitu agar selalu membawa tinta/pena disetiap waktu sehingga ia dapat menulis apa saja yang dia dengar dari berbagai faidah ilmu
  40. Barang siapa yang menghafal maka hafalannya akan hilang dan barang siapa yang menulis sesuatu (maka tulisannya) akan tetap
  41. Dan bagi para penuntut ilmu harus siap menerima beban yang berat/kesulitan dan kehinaan dalam menuntut ilmu
  42. Taktala dalam menuntut ilmu dapat bersifat waro’, maka ilmunya akan bermanfaat, dan belajar baginya lebih mudah dan faidah (ilmu-ilmu) dalam belajar yang didapatkan lebih banyak
  43. Diantara sifat waro’ adalah menjauhi untuk terus-terusan kenyang, banyak tidur, banyak bicara pada pembicaraan yang tidak bermanfaat
  44. Termasuk sifat waro’ adalah menjauh dari orang-orang yang berbuat kerusakan, yang suka maksiat dan pengangguran. Karena berdampingan (dengan mereka) itu pasti akan berdampak
  45. Dan termasuk sifat waro’ duduk menghadap kiblat saat belajar, bercerminkan diri dengan sunah Nabi, dan mohon doa dari orang-orang baik (ulama dan orang-orang sholeh), dan hati-hati dari doa orang-orang teraniaya
  46. Dan seyogyanya seorang penuntut ilmu memperbanyak melakukan sholat sunah, dan ia melakukan sholat seperti sholatnya orang-orang khusyu, sebab demikian itu menolongnya dalam meraih ilmu dan belajar
  47. Adapun hal yang paling kuat sebagai penyebab kuat hafalan adalah bersungguh-sungguh, terus-menerus, sedikit makan, melakukan sholat malam, membaca Al-Quran. Karena hal itu termasuk sebab memperkuat hafalan
  48. Bersiwak, meminum madu, memakan kundur (kemenyan putih) dicampur dengan gula, dan memakan dua puluh satu anggur kering (kismis) yang merah setiap hari, disaat keadaan lapar dapat membuat kuat hafalan dan menyembuhkan berbagai penyakit
  49. Adapun hal-hal yang mengakibatkan mudah lupa adalah perbuatan maksiat, sangat cemas dan sedih dalam urusan dunia, terlalu sibuk dan bergantung (dengan hal-hal yang berkaitan dengan urusan dunia)
  50. Barang siapa yang sibuk dengan hal-hal yang tidak ada manfaatnya maka hilanglah hal-hal yang bermanfaat baginya

Alhamdulillah, demikianlah beberapa nasihat yang penulis dapatkan dalam kitab Ta’limul Muta’alim, nasihat-nasihat itu adalah sebagian dari beberapa untaian nasihat yang terdapat dalam kitab Syekh Zarnuji

Mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca sekalian pada umummnya.

Bagikan:

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!