MENTAL JOMBLO GENERASI MUDA ISLAM ZAMAN INI

Published by Ponpes Anwarul Huda on

MENTAL JOMBLO GENERASI MUDA ISLAM ZAMAN INI

Oleh : Wifqi Muwaffiqur rohman Yusuf

QUOTE :

“Pacaran itu usaha untuk menjalin cinta atau menyalurkan nafsu birahi??”

 (WY)

 

Barangkali sudah merupakan hal yang lumrah ketika seorang pemuda/pemudi mengalami jatuh cinta. Akan tetapi, sayang sekali pola pikir mereka telah terpengaruhi oleh budaya barat yang keliru. Sehingga cara mereka dalam menjalin cinta itu juga keliru. Bahkan penulis yakin bahwa sebagian besar dari mereka belum mengerti apa itu hakikatnya cinta. Penulis tidak bermaksud mengatakan bahwa westernisasi itu sepenuhnya jelek. Hanya saja, ada beberapa hal yang perlu kita filter. Sehingga tidak semua hal yang dibawa oleh westernisasi itu kita telan mentah-mentah. Dalam hal ini penulis memandang bahwa pacaran itu merupakan sebagian dampak dari westernisasi. Anak-anak muda zaman sekarang menganggap bahwa pacaran itu merupakan usaha untuk menjalin cinta dengan lawan jenis mereka. Seakan-akan pacaran itu merupakan hal yang wajib dilakukan oleh anak-anak muda zaman sekarang. Sehingga ketika ada pemuda/pemudi yang belum juga mendapatkan seseorang yang mereka sebut dengan “pacar”, mereka akan merasa resah dan malu dengan teman-temannya yang lain yang sudah memiliki pacar. Rasa malu mereka akan semakin besar ketika teman-temannya memanggilnya “Wak Jomblo / Mbak Jomblo”. Hingga bisa dikatakan bahwa mental jomblo generasi muda islam kita saat ini adalah lemah.

Sebenarnya pacaran ini merupakan sesuatu yang sering kita dengar dan kita temui dimana-mana. Dalam menanggapi soal pacaran ini, ada orang yang memilih untuk menyamakan persepsi terlebih dahulu tentang apa itu pacaran. Baru setelah itu dia akan menarik suatu kesimpulan bahwa pacaran itu baik atau tidak untuk dilakukan. Akan tetapi penulis memiliki pendapat sendiri. Tidak perlu menyamakan persepsi, karena penulis memandang bahwa segala bentuk pacaran di zaman modern ini jelek dan tidak baik untuk dilakukan oleh generasi muda islam. Baik itu pacaran yang nanti berujung pada pernikahan, atau pacaran yang tidak pernah bertemu satu sama lain (hanya lewat medsos), apalagi pacaran yang bertemu satu sama lain, bukan mahromnya, saling pegang-pegangan dan lain sebagainya. Penulis tidak habis pikir, sebenarnya apa sih yang membuat anak-anak muda ini malu ketika tidak memiliki pacar? Apakah karena dipanggil Wak Jomblo itu? Atau ada sesuatu yang lain? Penulis tidak bermaksud sok bijak atau menggurui anak-anak muda. Karena penulis sekarang juga masih muda dan perasaan malu ketika tidak memiliki pacar itu juga sering menghampiri. Belum lagi, ketika di kampus atau di manapun itu, ketika orang lain menggandeng pasangannya (red : pacar) masing-masing, penulis tidak memiliki siapapun untuk digandeng. Akan tetapi, penulis seringkali menenangkan perasaan dengan melihat beberapa fakta yang ada, yang mana itu lebih memalukan untuk dilakukan dari pada “menjadi seorang jomblo”.

Pertama, penulis melihat bahwa rata-rata anak muda yang berpacaran itu masih memiliki tingkat kedewasaan yang rendah. Hal ini dibuktikan dengan alasan mereka ketika memilih untuk berpacaran. Salah satuya adalah “agar tidak sendirian dan tidak malu dengan teman-temannya yang lain”. Dapat disimpulkan dari alasan tersebut bahwa mereka belum memiliki pendirian yang kuat dan masih mudah untuk terpengaruhi oleh orang lain. Ditambah lagi ketika melihat kegiatan mereka ketika sudah berpacaran, mereka seringkali keluar berdua untuk sekedar main-main, melakukan hal-hal yang kosong akan nilai dan saling merayu satu sama lain. Melihat hal ini penulis berpikir, apakah cinta yang mereka jalin hanya sebatas itu? Kenapa rendah sekali? Mereka juga sering di tengah-tengah pacarannya itu berkhayal tingkat dewa, seakan-akan mereka berdua sekarang sudah menjadi sebuah keluarga. Sehingga mereka saling berbagi satu sama lain, saling memberi perhatian, suka dan duka mereka rasakan bersama. Melihat hal ini penulis membatin, kenapa mereka bisa sok dewasa seperti itu? Uang yang mereka gunakan untuk pacaran itu juga bukan hasil kerja sendiri, melainkan uang beasiswa yang diperoleh melalui orang tua mereka masing-masing. Kalaupun itu uang hasil usaha mereka sendiri, maka berarti mereka telah menggunakannya untuk suatu hal yang sia-sia dan tidak jelas. Karena mereka belum tentu bisa sampai di bangku pernikahan dengan pacaran mereka itu. Semua hal yang mereka lakukan berdua seperti anak kecil yang bermain manten-mantenan alias lucu jika dipandang orang yang pikirannya sudah dewasa.

Kedua, gara-gara tingkat kedewasaan mereka yang masih rendah itu, mereka menjadi buta dan tidak bisa melihat bahaya yang selalu mengikuti mereka ketika berpacaran. Khususnya para wanita. Mereka terlalu berbaik sangka terhadap laki-laki yang baru mereka kenal tersebut. Mereka tidak mengetahui tantangan besar yang selalu dihadapi oleh para lelaki, yaitu ketika dalam keadaan sendiri di kamar mereka. Para wanita yang berpacaran itu telalu menganggap bahwa pikiran pacar mereka itu bersih dari pikiran-pikiran jorok tentangnya. Ingin sekali penulis sebagai seorang laki-laki, meminjamkan kedua mata ini kepada para wanita itu, agar mereka semua tahu bagaimana para lelaki memandang mereka. Dan teruntuk para wanita yang berpacaran, coba tanyakan kepada pacar kalian masing-masing, “Pernah atau tidak memikirkan sesuatu yang jorok tentang dirinya ketika berudua’an atau sedang sendirian.” Penulis yakin, mereka pasti pernah melakukannya walaupun hanya sepintas. Kalau mereka menjawab tidak pernah, maka itu adalah kebohongan yang manis. Maka dari itu, bersiaplah wahai para wanita yang berpacaran untuk menjadi objek fantasi seksual yang akan menjadi lumbung dosamu tanpa kamu sadari. Atau lebih parah dari itu, bersiaplah untuk menjadi seorang Lonte yang diajak kesana-kemari oleh para buaya.

Ketiga, teruntuk para lelaki yang berpacaran. Tidak bisakah kalian menunjukkan kegagahan kalian itu dengan cara lain selain pacaran. Jika kalian memang benar-benar mencintainya sepenuh hati, dhohir dan bathinnya, apakah kalian tidak malu telah mengotori kesucian wanita pujaan hati kalian dengan mengajaknya keluar kesana-kemari, berdua’an di tempat sepi, dan memberikan janj-janji yang tidak pasti. Percayalah !! Para wanita akan lebih memilih lelaki baik-baik yang cerdas, yang bisa membimbingnya di dunia dan di akhirat dari pada lelaki yang hanya pandai menjual rayuan gombal. Dan percayalah !! Kalian akan tampak lebih gagah ketika kalian menahan semua hasrat itu dan memilih untuk fokus pada belajar kalian, baik di sekolah maupun di kampus, fokus untuk memperdalam ilmu agama kalian agar nanti bisa menjadi imam yang baik dalam keluarga, fokus untuk menapaki karir agar nanti bisa memberikan kehidupan dan nafkah yang mapan. Karena faktanya, hidup berdua setelah menikah itu butuh makan, bukan rayuan. Dan untuk membeli makan, butuh uang. Dan untuk mendapatkan uang, butuh kompetensi atau keahlian. Dan tidak ada cara lain untuk mendapatkan banyak kompetensi dan keahlian itu, kecuali kalian sekarang tekun dalam menuntut ilmu. Hingga pada waktunya nanti, kalian bisa datang ke rumahnya, bersalaman dengan orang tuanya dan mengatakan “Bapak, Ibu, bolehkah saya melamar anakmu?” Penulis yakin hal itu jauh lebih terhormat dan gantle.

Itulah beberapa hal yang sering penulis ingat-ingat ketika rasa ingin berpacaran itu menghampiri. Dan penulis ingin berpesan kepada generasi muda islam di seluruh dunia bahwa pacaran itu tidak ada gunanya sama sekali. Pacaran itu hanya alibi untuk menyalurkan hasrat-hasrat yang tidak benar. Pacaran itu hanya mainan anak kecil yang belum dewasa pikirannya. Maka dari itu, jauhilah pacaran. Fokuslah dalam belajar, dapatkanlah pekerjaan yang sangar, maka wanita pujaanmu akan datang mengejar.

Itulah kurang lebih yang dapat penulis sampaikan. Semua yang penulis sampaikan di sini adalah opini penulis tentang pacaran. Sangat memungkinkan jika ada yang tidak sependapat dengan pikiran penulis ini. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan untuk memperkaya dan memerluas pandanga penulis. Dan semoga tulisan sederhan ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya generasi muda islam zaman ini. Amiiin

Bagikan:

1 Comment

Pikachu · January 22, 2020 at 4:34 pm

Quote of the day
“Fokuslah dalam belajar, dapatkan pekerjaan yang sangar, hingga akhirnya wanita pujaanmu mengejar.”

Sependapat cak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!