Imtihan berasal dari bahasa Arab imtahana-yamtahinu-imtihan yang berarti ujian. Biasanya dalam satu jenjang yang ditempuh selama satu tahun diadakan empat kali, dua kali UTS dan UAS. Ujian mejadi momok yang menakutkan bagi semua pembelajar baik yang berstatus siswa, mahasiswa, tak terkecuali juga santri karena harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin materinya tidak dipahami dengan baik. Dengan jawaban-jawaban yang ditulis itu menentukan nilai yang didapatkan dan kenaikan ke kelas selanjutnya atau kelulusan.

Untuk menghadapi ujian berbagai persyaratan harus dipenuhi santri agar mendapatkan kartu ujian seperti uang syahriyah yang harus lunas, kitab maknanya harus penuh jika tidak ingin nilainya terpotong, dan menyelesaikan takziran apabila melakukan pelanggaran. Apabila tidak memenuhi persyaratan maka tidak mendapat kartu ujian dan tidak bisa mengikuti pelaksanaan ujian. Persiapan lain yang dilakukan adalah mempelajari materi-materi yang telah disampaikan selama kegiatan belajar mengajar.

Ketika hari pelaksanaan ujian datang, nampak santri yang benar-benar siap menghadapinya dan mampu mengerjakan tanpa ada kesulitan yang berarti meskipun jawabannya belum pasti benar. Ada juga yang tolah-toleh kanan kiri melirik ke lembar jawaban teman untuk mendapatkan jawaban yang sebenarnya jawaban itu kebenarannya belum pasti juga.

Dari sini dapat diketahui ada dua tipe santri ditinjau dari perspektif menghadapi imtihan;

  • formalitas. Santri tipe pertama cenderung pasrah dengan keadaan dirinya atau bisa dibilang acuh tak acuh tidak melakukan persiapan apapun untuk menghadapi ujian, tidak berusaha melengkapi kitab yang tidak ada maknanya dan tidak mereview materi pelajaran yang telah dibahas pada kegiatan belajar mengajar di kelas, bahkan lebih parah lagi tidak melengkapi persyaratan pengambilan kartu ujian. Akibat dari sifat masa bodoh tersebut, ketika mengerjakan mengalami kesulitan, ada yang ingin tanya teman tapi malu, ada yang sudah tanya jawaban tapi tidak dikasih akhirnya marah dan berkata (dalam bahasa jawa) “urip ning alas kono loh. Ditakoni jawaban ae ora oleh”. Ada juga yang mengerjakan tanpa tolah-toleh, diam, kemudian langsung disetorkan tapi kosongan (hanya beberapa yang dijawab). Rata-rata motivasi dari tipe pertama ini adalah keluar kelas dengan cepat dan bisa kembali ke kamar.
  • Uji kualitas. Santri tipe ini berbanding terbalik dengan tipe pertama atau dikenal dengan santri yang rajin dan menganggap ujian sebagai uji kemampuannya dalam bidang ilmu yang telah dipelajari. Biasanya santri dengan tipe demikian tidak kebingungan untuk menjawab soal-soal ujian meskipun jawabannya belum tentu benar namun ada rasa percaya diri dengan apa yang dijawab mengingat persiapan demi persiapan yang telah dilaluinya. Santri tipe kedua ini banyak didekati atau ditanyai santri lain perihal jawabannya.

Santri berprestasi Madin Nurul Huda

Ketika imtihan selesai dilaksanakan nilai menjadi tolak ukur keberhasilannya. Jelas nampak perbedaannya, Santri tipe nomer dua memiliki nilai yang lebih baik dari yang pertama meskipun tidak berlaku pada semuanya. Hal tersebut dilihat dari nilai rata-rata santri berada di bawah standar sehingga masuk ke dalam zona merah. Hasil bukanlah akhir segalanya, tapi proses yg diusahakan dan dipersiapkan dengan baik akan mengantarkan pada hasil yg baik pula. Barokah tidak serta merta turun dengan sendirinya, tapi karena seberapa keras berjuang dalam berproses. Mampu melewati cobaan dan ujian akan menjadikan ilmu santri lebih mencorong dibandingkan santri lainnya yaitu melalui jalan tirakat. Sesuatu yang dipersiapkan dengan baik, akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Begitulah kiranya hikmah yang dapat diambil dari tulisan singkat ini. Semoga kita senantiasa mendapat keberkahan apa yang telah kita pelajari dan bermanfaat bagi diri sendiri khusunya dan bagi masyarakat umumnya.

 

Oleh: Wahyu fahriyan

Bagikan:

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!