FINAL FESTIVAL AL-BANJARI PONPES ANWARUL HUDA, KH BAIDOWI MUSLICH : SEMUA PESERTA ADALAH PEMENANG

Published by Ponpes Anwarul Huda on

Oleh : Fatus Atho’ul Malik

Final Festival Al-Banjari se-Malang Raya dan sekitarnya yang diadakan Panitia Haflatul Imtihan ke-25 “Khidmah” Pondok Pesantren Anwarul Huda Kota Malang berjalan dengan lancar dan penuh kegembiraan dengan iringan selawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW.

Ketua pelaksana Haflatul Imtihan, Tuhu Jatmiko menjelaskan bahwa finalis festival al-banjari diikuti oleh 10 grup yang telah diseleksi oleh dewan juri pada babak penyisihan.

“Sebenarnya sebelum hari pelaksanaan final, ada salah satu finalis yang mengundurkan diri. Akan tetapi, sesuai ketentuan maka peserta peringkat ke sebelas akan maju sebagai finalis 10 besar. Alhamdulillah mereka bersedia” kata Tuhu Jatmiko (23/01/2022)

Acara yang dimulai dari pukul 13.00 WIB dibuka oleh Ustaz Nurul Yaqin, selaku kepala Pondok Pesantren Anwarul Huda, kemudian dilanjut penampilan oleh para finalis. Para finalis menunjukkan secara langsung kemampuannya dalam melantunkan selawat nabi dan memainkan rebana di hadapan dewan juri.

Dewan juri sama seperti saat babak penyisihan, yaitu Ustaz Fatkhurrokhman (sebagai juri musik/terbang); Ustadz M. Tibyan Isyqi (sebagai juri vokal); dan Ustaz M. Dawud Zahiruddin (sebagai juri adab syair).

Di penghujung acara, para peserta serta seluruh hadirin melantunkan selawat mahalul qiyam secara bersamaan. Kemudian dilanjutkan sambutan dan do’a oleh KH. M. Baidowi Muslich selaku Pengasuh Pondok Pesantren Anwarul Huda.

KH. M. Baidowi Muslich menuturkan bahwa atas nama keluarga besar Pondok Pesantren Anwarul Huda menyatakan ikut apresiasi terhadap pelaksanaan Festival Al-Banjari yang diikuti dengan sebaik-baiknya, dengan iringan musik yang begitu indah dan menarik serta dengan iringan selawat dan salam kepada kanjeng nabi Muhammad SAW.

Beliau juga menegaskan bahwa kegiatan Festival Al-Banjari merupakan seni Islam yang terpuji dengan niat mengagungkan agama Islam li i’lai kalimatillah wa nusroti diinillah.

Bahkan Al-Quran saja disunahkan ketika membacanya tidak seperti membaca koran, tetapi tetap harus dengan lagu. من لم يتغن بقراءة القرآن فليس منا “barang siapa yang membaca alquran tanpa lagu, maka dia bukan golongan kami”, lebih-lebih yang lain.

Jadi, yang pertama kali yang menyusun Al-Banjari ini termasuk orang yang من سن سنة حسنة barang siapa yang membuat sunah atau perbuatan yang baik, فله أجرها وأجر من عمل بها dia mendapatkan pahala dari pada kebaikan itu dan pahala-pahala dari pada pengikutnya sampai hari kiamat.

Di akhir sambutan, KH. Badowi Muslich menegaskan bahwa semua peserta adalah pemenang. Karena semua mendapatkan pahala dari Allah, yang nilainya tidak dapat diukur dengan uang ataupun piala. Pahala jauh lebih tinggi dari pada piala. Walaupun piala juga ada artinya, yakni sebagai tanda nomor satu, nomor dua, dan seterusnya.  Akan tetapi, semua mendapatkan padahal.

Seusai ditutup dengan doa oleh KH. M. Baidowi Muslich, selanjutnya pengumuman juara. Surat keputusan dewan juri tentang pemenang lomba Festival Al-Banjari dibacakan langsung oleh salah satu dewan juri, yakni Ustadz M. Dawud Zahiruddin.

“Penilaian ini akumulasi dari babak penyisihan dan babak final” kata M. Dawud Zahiruddin.

Sehingga, diperoleh juara serta beberapa kategori sebagai berikut, Ma’annajah (Juara 1), A-Barokah (Juara 2), JDFI 89 (Juara 3). Naghom Zanjiron 1 (Juara harapan 1), Naghom Zanjiron 2 (Juara harapan 2),  Bariklana (Juara harapan 3).

Kemudian, beberapa kategori, yakni Bariklana (Best vokal), Ulul Musthofa (Best Musik), Syubbanul Fatah (Best Adab), Shoutun Nabawi (Best jingle), dan juara terfavorit diraih oleh Bariklana.

Bagikan:

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.